Kulit Bundar

New Age of Sports Community

Mengenal Skala Kesadaran Manusia (Bagian 1)


Dalam buku Dr. David Hawkins dengan judul Power vs Force, dijelaskan tentang bagaimana kita bisa mengenali level frekwensi kesadaran kita. Di buku ini dibahas tentang faktor terselubung penentu perilaku manusia. Buku ini awalnya hanya diperuntukkan bagi tokoh-tokoh besar dan pemimpin dunia. Bersyukurlah kita akhirnya pun dapat belajar tentang ilmu ini. Riset ini dilakukan selama kurang lebih 20 tahun. 

Ada 2 bagian dalam peta kesadaran kita, yaitu power dan force. Kategori power adalah dimana kita memiliki energi positif dan mampu memberikan energi itu kepada orang-orang di sekitar kita. Kita menjadi sadar bahwa kita penuh cinta dan menjadi terang bagi sekitar kita. Sedangkan kategori force bersifat destruktif, banyak menimbulkan masalah dalam diri sendiri dan juga orang lain.

Level skala kesadaran inilah yang menjadi penentu perilaku manusia. Masalah, stres, penderitaan dan sakit dihasilkan oleh kategori energi force atau energi level bawah, sedangkan kebahagiaan dan kesehatan dihasilkan oleh kategori energi power atau energi level atas. Kesimpulannya, hasil dari kehidupan yang kita jalani saat ini berasal dari level kesadaran kita sendiri.

Foto : ESQ

Kategori Force

Kita akan bahas satu persatu, dimulai dari level paling bawah, dengan level energi paling rendah. Di kategori ini, sering menjadi masalah dalam kehidupan kita.

  • Rasa malu atau terbuang (Level energi 20)
    • Merasa diri rendah dan tidak layak, merasa terbuang, merasa hidupnya sangat menyedihkan. Di level paling rendah ini adalah level yang mendekati level kematian. Energi di level ini bisa mengarah ke merusak diri sendiri maupun orang lain.
  • Rasa Bersalah (Level energi 30)
    • Biasanya ada rasa penolakan diri dan penghancuran diri, dan memungkinkan untuk memproyeksikannya ke orang lain atau menyalahkan orang lain.
  • Apatis (Level energi 50)
    • Sikap masa bodoh dan ketidakpedulian, ogah-olahan dan malas.
  • Dukacita atau kesedihan yang mendalam (Level 75)
    • Keputusasaan, rasa kehilangan, ketidakberdayaan, penuh ratapan dan kesedihan. Susah untuk bergerak maju dan terjebak di masa lalu.
  • Takut (Level 100)
    • Ketakutan, sering merasa dalam bahaya, kecemasan, gelisah, khawatir dan sering berusaha menghindar.
  • Hasrat atau keinginan (Level 125)
    • Mencari keuntungan dan kesenangan pribadi, menjadi tamak karena ingin rasa memiliki yang kuat.
  • Marah (Level 150)
    • Mudah emosi, meledak-ledak dan penuh dengan kekesalan. Marah mempunyai efek negatif di segala aspek kehidupan.
  • Bangga atau sombong (Level 175)
    • Selalu berhasrat untuk mendapatkan pengakuan, merasa bahwa caranya adalah yang terbaik, perfeksionis, merasa superior, arogansi dan tinggi hati.

Dapat kita bayangkan apabila hidup kita dipenuhi dengan level energi di atas. Lalu apa yang harus kita lakukan?

  1. Menyadarinya. Cukup dengan secara sadar bahwa diri kita ada di level tertentu, atau mungkin bisa campuran dari beberapa level. 
  2. Menerima keadaan diri. Setelah sadar dengan level energi kita, kita harus menerima atau merangkul diri kita dengan ikhlas, menerima bahwa diri kita lah yang menyebabkan semuanya, kita adalah pelakunya bukan korban.
  3. Belajar untuk mencintai diri sendiri. Dengan menyadari dan menerima keadaan tersebut, lalu belajarlah untuk mencintai diri sendiri. Meditasi menjadi sarana yang baik untuk menjadi hening dan terhubung ke dalam diri dan terhubung kepada cinta tanpa syarat yang asalnya dari Sang Maha Kuasa.
  4. Menaikkan level kesadaran. Caranya dengan melatih diri untuk sadar penuh dalam setiap keadaan. Untuk hal ini tentu saja memerlukan proses yang tidak sebentar. Kekuatan kehendak dan niat menjadi kunci untuk melatih diri menjadi lebih baik.

Nantikan artikel selanjutnya untuk membahas level kesadaran lebih tinggi yaitu kategori power. Semoga kita semua mampu untuk mengubah dan menaikkan kesadaran kita ke tingkat yang lebih tinggi.

(DK-TimKB)

Sumber Foto : ESQ