Jakarta – Di dunia Muay Thai, tidak semua petarung dibesarkan oleh kemenangan kilat dan sorotan besar. Ada pula petarung yang justru tumbuh melalui pertarungan-pertarungan rapat, keputusan juri yang tipis, dan momen-momen ketika mereka harus bertahan lebih dulu sebelum akhirnya menemukan bentuk terbaiknya. Petpairin Sor Jor Tongprachin termasuk dalam kelompok itu. Ia adalah petarung Muay Thai asal Thailand yang kini dikenal di panggung ONE Championship, dengan tinggi 165 cm, berat bertarung sekitar 55 kg atau 122 lbs, dan afiliasi dengan Singpatong. Usianya 28 tahun, yakni lahir pada 14 Mei 1997.
Perjalanan Petpairin di ONE mulai memberi bentuk jelas saat ia tampil di ONE Friday Fights 32, menghadapi Kritpetch PK Saenchai. Profil resmi ONE Indonesia mencatat bahwa Petpairin menang lewat unanimous decision. Kemenangan ini penting karena menjadi salah satu fondasi awal dari identitasnya di ONE: petarung Thailand yang tidak banyak membuang momen, cukup tenang untuk bertarung tiga ronde, dan mampu membuat juri melihat kerjanya lebih bersih daripada lawannya. Dalam banyak karier Muay Thai, kemenangan angka pertama di panggung besar sering menjadi validasi bahwa seorang atlet memang sanggup hidup di level itu.
Momentum itu berlanjut di ONE Friday Fights 40, ketika Petpairin menghadapi Bhumjaithai Mor Tor 1 dalam laga 123 lbs Muay Thai. Lagi-lagi, ia menang lewat unanimous decision. Hasil ini bukan hanya menambah angka kemenangan, tetapi juga memperkuat citra yang mulai terbentuk: Petpairin bukan petarung yang mengandalkan satu ledakan cepat untuk menyelesaikan lawan, melainkan petarung yang mampu menumpuk ronde demi ronde lewat striking Muay Thai yang rapi dan cukup konsisten. Dua kemenangan beruntun lewat keputusan bulat di ONE memberi kesan bahwa ia punya disiplin bertarung yang matang.
Di titik itu, cerita Petpairin terasa mulai mengarah pada sesuatu yang lebih besar. Dua kemenangan awal di ONE Friday Fights jelas bukan hal kecil, apalagi di panggung Lumpinee yang terkenal keras bagi petarung Thailand sendiri. Namun seperti banyak kisah petarung lain, jalannya tidak terus menanjak lurus. Ujian berikutnya datang pada ONE Friday Fights 94, ketika ia berhadapan dengan Pichitchai PK Saenchai dalam laga 122 lbs catchweight Muay Thai. Kali ini, Petpairin harus menerima kekalahan lewat unanimous decision.
Kekalahan dari Pichitchai itu menarik justru karena detail pertandingannya. Artikel resmi ONE menulis bahwa Pichitchai menekan terus-menerus dan melepaskan serangan berat sejak ronde pertama. Petpairin disebut mampu bertahan dari damage besar di awal, lalu terus melanjutkan laga sampai bel akhir. Sumber lain menambahkan bahwa Pichitchai sempat mencetak knockdown lewat siku di ronde kedua, tetapi Petpairin tetap mencoba bangkit dan mengejar ketertinggalan sampai pertandingan selesai. Itu berarti, meski kalah, Petpairin tetap memperlihatkan salah satu kualitas yang sangat penting dalam Muay Thai: ketahanan mental dan fisik. Ia tidak runtuh meski ditekan keras.
Justru dari situ, salah satu sisi paling menarik dari Petpairin terlihat. Ia mungkin belum dikenal sebagai finisher besar, tetapi ia tampak seperti petarung yang cukup sulit dihentikan dan nyaman bertarung dalam duel yang menuntut ketangguhan. Semua laga resminya di ONE berjalan sampai ronde ketiga. Itu bukan kebetulan. Itu menunjukkan bahwa dirinya punya fondasi stamina, kedisiplinan, dan kontrol emosi yang cukup baik untuk bertahan di panggung kompetitif seperti ONE Friday Fights. Bagi petarung Muay Thai Thailand, kualitas seperti ini sangat penting karena menjadi dasar untuk pertumbuhan lebih jauh.
Aspek lain yang menarik adalah afiliasinya dengan Singpatong. Profil resmi ONE menuliskan timnya sebagai Singpatong, dan basis data lain juga menempatkannya di gym yang sama. Dalam Muay Thai Thailand, nama gym bukan sekadar label administratif. Ia adalah identitas, sistem latihan, dan kultur bertarung. Ketika seorang petarung membawa nama Singpatong ke atas ring, itu juga berarti ia membawa warisan metode latihan dan disiplin dari kamp tersebut. Dalam kasus Petpairin, hal ini terasa cocok dengan bentuk kariernya: rapi, tekun, dan cukup tahan menghadapi pertarungan-pertarungan keras.
Dari sisi gaya bertarungnya ortodoks dengan fokus pada striking Muay Thai. Walau profil resmi ONE tidak menuliskan stance secara rinci, seluruh jejak laganya di organisasi itu memperlihatkan bahwa identitas utamanya memang ada di striking berdiri, bukan cabang lain. Tidak ada submission, tidak ada konteks MMA, dan semua hasilnya dibangun dari pertukaran Muay Thai klasik yang ditentukan oleh ketepatan, volume, tekanan, dan kemampuan mengelola tiga ronde. Ini membuat Petpairin terasa seperti petarung yang sangat “Thailand” dalam arti paling murni: hidup dari ritme, disiplin, dan kerja di atas kaki.
Yang juga menarik, ada sumber pihak ketiga yang mencatat rekam jejak karier keseluruhannya di luar ONE jauh lebih panjang, bahkan SofaScore menampilkan angka 57 kemenangan, 24 kekalahan, dan 2 hasil imbang. Angka ini tidak saya jadikan dasar utama karena bukan sumber resmi promotor, tetapi tetap memberi sinyal bahwa Petpairin kemungkinan besar bukan petarung dengan pengalaman sedikit. Seperti banyak petarung Thailand lainnya, bisa jadi ia telah menjalani banyak laga lokal sebelum tampil di ONE. Ini penting sebagai konteks, karena membuat rekor ONE 2-1 miliknya tampak sebagai bagian dari perjalanan yang lebih panjang, bukan keseluruhan kisah.
Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Petpairin Sor Jor Tongprachin belum memegang sabuk besar di ONE Championship. Namun fondasi yang ia bangun cukup layak dihargai. Ia sudah mencetak dua kemenangan resmi di ONE Friday Fights, melawan Kritpetch PK Saenchai dan Bhumjaithai Mor Tor 1, serta tetap menunjukkan ketangguhan tinggi ketika kalah dari Pichitchai PK Saenchai. Untuk petarung Muay Thai yang tampil di panggung kompetitif seperti Lumpinee dalam bendera ONE, itu adalah dasar yang cukup kuat untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, Petpairin Sor Jor Tongprachin adalah kisah tentang petarung Muay Thai Thailand yang ditempa bukan oleh kemenangan besar semata, tetapi oleh duel-duel yang rapat, menuntut, dan melelahkan. Ia lahir pada 14 Mei 1997, bertarung dengan identitas Muay Thai ortodoks, berlatih di Singpatong, dan sudah menunjukkan bahwa dirinya sanggup hidup di kerasnya ONE Friday Fights. Rekornya di ONE memang baru 2 menang dan 1 kalah, tetapi angka itu belum menceritakan seluruh nilainya. Yang lebih penting adalah cara ia menang dan cara ia kalah: selalu bertarung sampai akhir, selalu kompetitif, dan selalu memberi lawan alasan untuk tidak meremehkannya.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda