Yod-IQ Or Pimolsri: Petarung Bantamweight ONE

Piter Rudai • 08/09/2026 • 4 min read
Yod-IQ Or Pimolsri: Petarung Bantamweight ONE

Jakarta – Di balik kemunculan Yod-IQ Or Pimolsri sebagai salah satu penantang paling berbahaya di divisi bantamweight Muay Thai ONE Championship, terdapat perjalanan panjang yang dimulai sejak usia sangat muda. Petarung asal Buriram, Thailand, itu pertama kali mengenal Muay Thai ketika baru berusia tujuh tahun. Bagi seorang anak di Thailand, ring bukan sekadar tempat bertanding, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yod-IQ tumbuh menjadi petarung profesional dengan pengalaman yang luar biasa banyak. Pada Agustus 2026, ONE Championship mencatat rekornya mencapai 127 kemenangan dan 36 kekalahan, sebuah angka yang menggambarkan betapa panjang pengalaman yang telah ditempuhnya sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan menembus panggung dunia.

Perjalanan Yod-IQ kemudian membawanya ke PK Saenchai Muaythaigym, salah satu sasana paling dikenal dalam dunia Muay Thai. Di sana ia tidak hanya mendapatkan lingkungan latihan kelas dunia, tetapi juga menemukan sosok yang menjadi inspirasi sekaligus rekan latihannya, Tawanchai PK Saenchai. Menariknya, hubungan keduanya berawal jauh sebelum mereka menjadi rekan satu sasana. Yod-IQ mengaku telah mengagumi Tawanchai sejak masih remaja dan mempelajari gaya bertarungnya melalui televisi. Ketika akhirnya bergabung di sasana yang sama, hubungan tersebut berkembang menjadi persahabatan dan kemitraan latihan. Mereka bahkan kemudian tinggal bersama dan berlatih hampir setiap hari. Pengalaman tersebut membantu Yod-IQ mengembangkan kemampuan teknis dan pemahaman taktis yang menjadi ciri khas permainannya.

Pintu menuju panggung internasional terbuka pada ONE Friday Fights 10 pada Maret 2023. Yod-IQ menghadapi Samuel Bielen dalam debutnya dan langsung membuat pernyataan dengan kemenangan TKO melalui serangan siku. Tiga bulan kemudian ia mengalahkan Mavlud Tifiyev lewat keputusan mutlak. Namun, perjalanan tersebut tidak sepenuhnya mulus. Pada September 2023, Alexey Balyko menjadi orang pertama sekaligus satu-satunya lawan yang mengalahkannya di ONE hingga saat ini, melalui keputusan mutlak. Yod-IQ merespons kekalahan tersebut dengan kemenangan tipis atas Ilyas Musaev melalui split decision. Kekalahan itu justru menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan mentalnya karena ia belajar untuk tidak membiarkan satu hasil buruk menentukan arah kariernya.

Tahun 2024 menjadi periode kebangkitan besar. Yod-IQ mulai menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar petarung dengan pengalaman panjang, tetapi juga teknisi yang mampu memecahkan berbagai gaya lawan. Ia mengalahkan mantan juara dunia delapan kali Rafi Bohic melalui keputusan mutlak setelah dua kali menjatuhkan lawannya dengan serangan ke tubuh. Ia kemudian kembali mengalahkan Tifiyev, kali ini melalui KO, sebelum menundukkan Abdulla “Smash Boy” Dayakaev lewat keputusan mutlak. Tahun itu ditutup dengan kemenangan split decision atas Kirill Khomutov. Rangkaian tersebut membuat Yod-IQ menjadi salah satu petarung paling konsisten di ONE Friday Fights.

Momentum tersebut berlanjut pada 2025. Yod-IQ mengalahkan Petru Morari, Brice Delval dan Alessio Malatesta dalam rangkaian kemenangan yang semakin memperkuat reputasinya. Namun, satu nama masih mengganjal dalam perjalanan kariernya: Alexey Balyko. Pada ONE Friday Fights 137, Desember 2025, Yod-IQ akhirnya mendapatkan kesempatan membalas kekalahan tersebut. Ia tidak membiarkan pertarungan berlangsung panjang. Sebuah head kick yang tepat sasaran menjatuhkan Balyko pada ronde pertama. Kemenangan itu bukan hanya membalas satu-satunya kekalahannya di ONE, tetapi juga mengantarkannya mendapatkan kontrak senilai US$100.000 serta tempat di roster utama ONE Championship.

Debutnya sebagai anggota resmi roster ONE terjadi pada 22 Mei 2026 melawan Kiamran Nabati. Lawannya datang dengan rekor sempurna dan reputasi sebagai petarung Rusia yang sangat berbahaya. Yod-IQ menunjukkan kematangan yang berbeda dari penampilannya pada masa awal karier. Ia menggunakan straight kanan, low kick, gerakan lateral, clinch dan serangan siku untuk mengimbangi tekanan Nabati. Setelah tiga ronde keras, Yod-IQ dinyatakan menang melalui split decision, memperpanjang rentetan kemenangannya menjadi sepuluh. Kemenangan tersebut juga meningkatkan rekor profesional yang dicatat ONE menjadi 127-36.

Secara gaya, Yod-IQ adalah contoh menarik dari petarung yang mengandalkan kecerdasan bertarung dan penguasaan jarak. ONE menggambarkannya sebagai teknisi dengan kemampuan membaca ritme lawan dan beradaptasi dari ronde ke ronde. Jab dan teep menjadi alat penting untuk menjaga jarak, sementara tendangan serta serangan siku menjadi senjata untuk menghukum lawan ketika kesempatan terbuka. Ia tidak selalu terburu-buru mencari KO. Sebaliknya, Yod-IQ sering menggunakan ronde awal untuk membaca timing dan kecepatan lawan sebelum meningkatkan tekanan. Kemampuan tersebut membuatnya mampu menghadapi berbagai karakter petarung, dari striker agresif hingga lawan yang mengandalkan kekuatan pukulan.

Mentalitas Yod-IQ juga dibentuk oleh kritik. Ia pernah mengungkapkan bahwa sebagian orang menganggap gaya bertarungnya membosankan, bahkan sampai mengatakan mereka ingin mematikan televisi ketika ia bertanding. Alih-alih menyerah terhadap kritik, ia terus membangun kemampuannya. Kemenangan atas Balyko menjadi simbol penting bahwa kesabaran dan kerja teknisnya akhirnya membuahkan hasil. Di sasana, metode latihannya semakin berkembang melalui latihan bersama Tawanchai dan para petarung elite PK Saenchai. Hubungan tersebut bukan hanya meningkatkan kemampuan fisik, tetapi juga membantu Yod-IQ mempertajam aspek taktis dan kepercayaan dirinya.

Kini, Yod-IQ berdiri di ambang pencapaian terbesar dalam kariernya. Setelah sepuluh kemenangan beruntun dan kemenangan atas Nabati, ia mendapatkan kesempatan menghadapi Rambolek Chor Ajalaboon untuk memperebutkan ONE Bantamweight Muay Thai World Championship pada 11 September 2026 di Lumpinee Stadium, Bangkok. Hingga 7 September, pertarungan tersebut belum berlangsung. Yang jelas, Yod-IQ datang bukan sekadar sebagai penantang dengan rekor panjang. Ia membawa pengalaman 127-36, pengalaman 13 pertandingan di ONE dengan 12 kemenangan dan 1 kekalahan, serta rentetan sepuluh kemenangan. Dari anak tujuh tahun yang mulai mengenal Muay Thai hingga teknisi PK Saenchai yang kini mengejar sabuk emas ONE, perjalanan Yod-IQ menunjukkan bagaimana pengalaman, kecerdasan dan ketekunan dapat mengubah seorang petarung muda menjadi penantang gelar dunia.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...