Jakarta – Timnas Jepang tengah bersiap menjadi tuan rumah Piala EAFF (East Asia Football Federation) 2022. Turnamen EAFF adalah turnamen negara negara di Asia Timur yang serupa dengan Turnamen AFF di kawasan Asia Tenggara. Piala Asia Timur 2022 akan digelar di Jepang pada 19-27 Juli 2022.
Kejuaran ini bakal berlangsung di dua venue, yakni Kashima Stadium dan Toyota Stadium. Jepang sebagai tuan rumah akan kedatangan tiga tamu, yaitu Cina, Korea Selatan, dan Hong Kong. Empat negara tersebut bakal saling beradu dalam satu grup dengan format single round-robin.
Serupa dengan AFF yang bukan merupakan turnamen resmi FIFA maka pelatih timnas Jepang tidak akan memanggil para pemain yang saat ini bermain di klub klub di Eropa. Hal ini karnea mereka sudah pasti tidak akan diijinkan membela timnas Jepang di luar pertandingan/turnamen yang masuk agenda resmi FIFA.

Karenanya pelatih timnas Jepang hanya memanggil pemain yang bermain di Liga domestik Jepang, J1 League 2022. Beberapa nama besar dipanggil pelatih Hajime Moriyasu. Di lini depan ada Yoshinori Muto, mantan penyerang Newcastle United yang kini berseragam Vissel Kobe.
Yoshinori Muto merupakan pemain dengan caps dan gol terbanyak dalam skuad yang dibawa Jepang kali ini. Caps-nya mencapai 29, sementara gol-nya tiga. Dua penyerang lainnya yang diboyong Hajime Moriyasu ke Piala Asia Timur 2022 adalah Takuma Nishimura dan Shuto Machino. Keduanya saat ini sama-sama mengoleksi delapan gol di J1 League 2022.
Di lini tengah, ada mantan gelandang Arsenal, Ryo Miyaichi. Saat ini, ia bermain untuk Yokohama F. Marinos. Selain diperkuat Ryo Miyaichi, lini tengah Timnas Jepang di Piala Asia Timur 2022 juga akan diisi oleh gelandang Vissel Kobe yang baru didatangkan dari klub Liga Rusia Rostov, Kento Hashimoto. Kemudian pemain muda Yokohama F. Marinos yang memiliki darah Nigeria, Joel Chima Fujita.
Untuk lini belakang, Hajime Moriyasu memanggil beberapa nama yang sudah menjadi langganan Timnas Jepang. Seperti Sho Sasaki, Shogo Taniguchi, dan Miki Yamane.
Dari hal ini Indonesia patut belajar dari keprofesionalan sepakbola Jepang. Mereka tidak perlu merayu rayu agar pemain mereka yang bermain di Eropa diijinkan memperkuat timnas. Mereka justru menggunakan kesempatan ini untuk memberikan jam bermain bagi para pemain lokal bermain di pertandingan internasional. Sehingga timnas Jepang tidak akan hanya tergantung pada satu atau dua pemain bintangnya saja.
(bP/teamKB)
Fototitle; facebook