Jakarta – Tottenham Hotspur pernah dilatih oleh para pelatih top kelas dunia seperti, Jose Mourinho dan Antonio Conte. Namun di bawah kepelatihan dua pelatih besar itu, Tottenham tetap mengalami kesulitan untuk kompetitif dengan tim-tim besar di Liga Inggris. Memang mereka berhasil merebut tiket Liga Champions, namun menjadi juara liga Inggris masih menjadi mimpi besar bagi mereka. Seperti di musim lalu, mereka benar-benar terpuruk di bawah Conte yang kahirnya dipecat sebagai pelatih.
Ironisnya Spurs justru membaik sejak kepergian Conte. Meski menang 4-1 atas Leeds United pada hari terakhir musim 2022/23, Spurs hanya berhasil finis kedelapan di Liga Primer Inggris dan kehilangan tempat di Eropa untuk pertama kalinya sejak 2009/10. Mereka juga masih mencari manajer permanen baru, setelah memecat Antonio Conte karena kata-kata kasar pelatih asal Italia itu terhadap para pemain dan pimpinan Daniel Levy pada bulan Maret. Sosok seperti Luis Enrique dan Julian Nagelsmann dilaporkan termasuk di antara kandidat utama Spurs untuk peran manajer, namun pilihan mereka dengan cepat menyusut.
Pada akhirnya, Tottenham beralih ke Ange Postecoglou, yang meninggalkan Celtic setelah meraih gelar Liga Utama Skotlandia berturut-turut. Itu bukanlah nama besar yang biasa didambakan oleh para pendukung Spurs dalam beberapa tahun terakhir, namun Levy memberikan dukungan yang cemerlang kepada pelatih asal Australia tersebut.
Beberapa minggu sejak kedatangan Ange, Spurs mendapat pukulan hebat di musim panas setelah kehilangan bomber mereka Harry Kane yang pindah ke Bayern Munchen. Ekspektasi yang sudah rendah semakin merosot. Namun Postecoglou telah menantang rintangan tersebut dengan cara yang spektakuler. Tanpa Harry Kane, Spurs telah mengumpulkan 13 poin dari kemungkinan 15 poin di awal musim baru, dan duduk di urutan kedua dalam tabel di belakang juara bertahan Manchester City.
Seluruh skuad mendukung manajer baru, yang gaya permainan menyerangnya telah menjadi angin segar bagi basis penggemar yang haus hiburan di bawah asuhan Conte, Nuno Espirito Santo, dan Jose Mourinho. Kunci Ange yang membuatnya berbeda dengan pelatih lainnya adalah komunikasi yang sangat baik dengan manajemen, para fans dan utamanya dengan para pemain di dalam dan luar lapangan. Beberapa manajer terakhir Tottenham tidak mampu membangun hubungan yang kuat dengan para penggemar – paling tidak karena mereka terlalu sibuk mencari pemain mereka sendiri di depan umum atau menyesali kurangnya aktivitas transfer. Namun Postecoglou sangat menyadari betapa pentingnya memiliki pendukung, dan bahwa mereka dapat mendorong tim lebih jauh lagi ketika taruhannya tinggi. Dia tidak akan menyalahkan orang lain ketika Spurs juga mengalami kegagalan.
Kini kita tinggal menunggu seberapa saktinya sentuhan Ange bagi Spurs. Apakah dirinya berhasil mematahkan kutukan Spurs sebagai klub kuat namun tidak pernah merasakan meraih gelar juara sepanjang sejarah mereka baik di Liga Inggris maupun kompetisi Eropa.
(Yp/timKB).
Sumber foto: teamtalk.com
