Kisah Marc “Bonecrusher” Diakiese: Petarung Zaire Di PFL

Piter Rudai 17/04/2025 4 min read
Kisah Marc “Bonecrusher” Diakiese: Petarung Zaire Di PFL

Jakarta – Dalam dunia seni bela diri campuran (MMA), kemenangan hanyalah sebagian dari cerita. Ada kisah-kisah yang jauh lebih dalam dari sekadar statistik dan catatan pertandingan. Kisah tentang perjuangan, tentang membuktikan harga diri, tentang mencari makna hidup lewat pertarungan. Salah satu kisah paling menyentuh dalam ranah MMA modern adalah milik Marc “Bonecrusher” Diakiese — seorang pria yang pernah menjadi anak migran penuh keraguan dan kini menjadi ikon kekuatan, disiplin, dan tekad tak tergoyahkan di ring PFL.

Lahir di Tanah yang Bergolak — Tumbuh di Tanah yang Asing

Marc Diakiese lahir pada 16 Maret 1993 di Kinshasa, ibu kota dari negara yang saat itu bernama Zaire. Saat kecil, ia hidup di tengah kondisi sosial-politik yang tidak stabil, yang penuh ketidakpastian dan bayang-bayang konflik. Di usia belia, ia dan keluarganya pindah ke Inggris, menetap di Doncaster, South Yorkshire, demi mencari masa depan yang lebih baik.

Namun, hidup sebagai imigran di lingkungan Inggris yang homogen tidaklah mudah. Marc kecil mengalami perasaan terasing, tekanan identitas, dan terkadang diskriminasi sosial. Ia tumbuh sebagai anak yang cenderung tertutup, tetapi di dalam dirinya sudah tertanam bibit keberanian dan keinginan untuk melawan ketidakadilan.

Salah satu pelarian terbaiknya adalah olahraga. Tapi bukan sepak bola seperti kebanyakan anak di Inggris. Ia menginginkan sesuatu yang lebih — sesuatu yang bisa menjawab rasa tidak aman dalam dirinya. Maka, pada usia 17 tahun, ia memasuki dunia Mixed Martial Arts.

Kecintaan yang Ditemukan dalam Kekerasan yang Teratur

Pertama kali memasuki sasana MMA, Marc tidak tahu harus mulai dari mana. Ia belum memiliki dasar gulat, striking, atau jiu-jitsu. Tapi ada satu hal yang membedakannya dari anak muda lainnya: kerja keras yang obsesif. Ia rela bangun sebelum fajar, menjalani latihan berlapis, dan bahkan sering berlatih sendirian ketika gym sudah tutup.

Pelatih-pelatih di sekitarnya segera melihat potensi luar biasa dari pemuda satu ini. Ia bukan hanya kuat secara fisik — tetapi juga sangat cepat belajar. Dalam waktu singkat, ia mulai mengikuti pertandingan amatir, dan tak lama kemudian beralih ke dunia profesional.

Merobek Jalur Lokal — Ledakan di BAMMA dan Menuju UFC

Di Inggris, organisasi MMA BAMMA menjadi tempat ia membuktikan diri. Dengan catatan enam kemenangan beruntun secara profesional, banyak di antaranya melalui KO spektakuler, ia menjadi pembicaraan utama di sirkuit MMA Inggris.

Ia menjadi Juara Lightweight Lonsdale BAMMA, mempertahankan gelar dua kali dan menunjukkan bahwa ia bukan hanya petarung berbakat, tapi juga entertainer alami. Dengan gaya bertarung yang eksplosif, termasuk spinning back kick, knee strike, dan tendangan gaya capoeira, Marc tampil sebagai sosok yang mencolok sekaligus mematikan.

Tak butuh waktu lama, UFC pun memanggil. Marc menjadi bagian dari gelombang petarung Inggris baru yang diperkenalkan kepada dunia.

UFC — Kemenangan, Keraguan, dan Kebangkitan

Debut Marc Diakiese di UFC pada tahun 2016 adalah petir yang menyambar dunia MMA. Ia menang KO dalam 30 detik, membuat komentator dan penonton bersorak dalam kekaguman.

Ia meraih tiga kemenangan awal, termasuk atas petarung berpengalaman seperti Lukasz Sajewski dan Teemu Packalén. Banyak pihak menyebutnya sebagai “The Next Big Thing” dari Inggris.

Namun, setelah itu datanglah ujian. Diakiese kalah dari Drakkar Klose, kemudian Dan Hooker, dan Nasrat Haqparast. Tiga kekalahan beruntun yang mengguncang kepercayaan diri dan kariernya. Di titik ini, banyak petarung memilih untuk menyerah atau beralih profesi.

Tapi tidak dengan Marc.

Ia kembali ke dasar, merefleksikan dirinya, mengurangi ego, meningkatkan grappling dan kontrol permainan, serta membentuk ulang identitas bertarungnya. Ia mencetak comeback dengan kemenangan dominan atas Joe Duffy dan Viacheslav Borshchev — menunjukkan bahwa dia bukan hanya “highlight fighter,” tapi petarung yang semakin matang dan komprehensif.

PFL — Sistem Baru, Tantangan Baru

Di tahun-tahun berikutnya, Marc memutuskan mengambil langkah besar: beralih ke Professional Fighters League (PFL). PFL bukanlah panggung biasa. Format turnamen dan sistem poin mengharuskan petarung untuk konsisten, eksplosif, dan strategis sepanjang musim.

Bagi Marc, ini adalah ladang pembuktian baru. Ia tidak datang dengan ekspektasi besar, tapi dengan misi pribadi: menunjukkan bahwa dirinya masih menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan.

Di divisi Lightweight, ia kini bersaing dengan nama-nama besar dan petarung elit global. Namun dengan pengalaman, kepercayaan diri yang telah ditempa, dan semangat bertarung yang belum padam, Marc “Bonecrusher” Diakiese adalah salah satu ancaman paling berbahaya di PFL.

Filosofi Bertarung dan Teknik Gaya Bebas

Di atas kertas, Marc Diakiese adalah striker. Tapi di dalam ring, ia adalah penari yang menabrak, menghantam, lalu menghilang.

Ciri khas Marc Diakiese:

    • Striking kreatif dan non-konvensional, termasuk teknik spinning dan tendangan menyamping
    • Kekuatan fisik yang eksplosif, dengan kemampuan KO satu serangan
    • Footwork cepat dan defensif, membuatnya sulit ditangkap
    • Grappling meningkat tajam, hasil pengalaman pahit di UFC

Ia bukan hanya bertarung dengan otot, tapi dengan rasa dan insting. Dan itu membuatnya mematikan — karena sulit ditebak dan hampir tak bisa dihentikan bila ritmenya sudah didapat.

Di Luar Ring — Identitas, Komunitas, dan Warisan

Marc Diakiese membawa dua dunia dalam dirinya. Sebagai anak kelahiran Afrika yang tumbuh di Inggris, ia sering merasa terpecah di awal. Tapi kini, ia menganggap keduanya adalah kekuatannya.

Ia aktif berbicara tentang pentingnya representasi imigran dan minoritas dalam olahraga elit. Ia sering memberi semangat kepada anak-anak muda dari komunitas kulit hitam Inggris agar percaya pada kemampuan diri mereka.

Ia bukan hanya petarung — tapi panutan. Ia bukan hanya mengincar sabuk — tapi juga meninggalkan warisan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...