Jakarta – Diantara banyaknya petinju kelas berat di era 80-90 an muncullah sesosok petarung yang namanya akan dikenang sebagai salah satu penggebuk paling dahsyat di divisi kelas berat: Donovan “Razor” Ruddock. Lahir di Jamaika pada tahun 1963, takdir membawanya ke Kanada di usia muda, di mana ia menemukan tinju sebagai wadah sempurna untuk energi berlebih dan agresi alami yang mengalir dalam darahnya. Sejak usia 15 tahun, Ruddock sudah tahu bahwa inilah jalannya.
Perjalanan Ruddock di dunia amatir adalah sebuah prelude yang menjanjikan, dihiasi dengan momen tak terlupakan di tahun 1980 ketika ia menaklukkan seorang Lennox Lewis muda di Kejuaraan Tinju Junior Ontario. Kemenangan itu seolah menjadi penanda, bahwa nama Donovan Ruddock akan diperhitungkan. Pada tahun 1982, ia melangkah ke arena profesional, dan dengan cepat, reputasinya sebagai petinju eksplosif dan berbahaya menyebar. Ia mengukir rekor yang membuat siapa pun bergidik: 40 kemenangan, di mana 30 di antaranya datang dari KO yang brutal, berbanding 6 kekalahan dan 1 hasil imbang.
Namun, yang paling melekat dalam ingatan banyak penggemar tinju adalah dua pertemuan legendarisnya dengan Mike Tyson pada tahun 1991. Meskipun harus menelan pil pahit kekalahan, Ruddock tidak hanya bertarung, ia bertahan dan berjuang sekuat tenaga. Ia menunjukkan ketangguhan luar biasa, kemampuan untuk berdiri tegak di hadapan “Iron Mike” yang saat itu ditakuti seluruh dunia. Tak hanya Tyson, Ruddock juga berhadapan dengan nama-nama besar lainnya seperti Lennox Lewis pada tahun 1992 dan Tommy “The Duke” Morrison pada tahun 1995. Setiap pertarungan adalah bukti nyata dari semangat juang dan bakat kelas dunia yang ia miliki.
Senjata andalan Ruddock adalah pukulan kirinya yang ikonik, sebuah hibrida mematikan antara hook dan uppercut yang ia juluki “The Smash”. Pukulan inilah yang menjadi mimpi buruk bagi lawan-lawannya, bertanggung jawab atas sebagian besar kemenangan KO-nya, dan menjadikannya salah satu peninju paling ditakuti di masanya. Ketika “The Smash” mendarat, seringkali itu adalah akhir dari segalanya.
Meski dihiasi kesuksesan, jalan Ruddock tak selalu mulus. Pada tahun 1985, ia diuji oleh diagnosis asma akibat olahraga, yang memaksanya menepi dari ring selama 10 bulan. Namun, jeda itu tak memadamkan apinya. Sebaliknya, ia kembali dengan semangat membara, mengukir sembilan kemenangan beruntun yang melontarkannya ke puncak persaingan gelar. Sebuah bukti nyata kegigihan dan ketahanan seorang petarung sejati.
Meski tak pernah berhasil menyematkan sabuk juara dunia di pinggangnya, Donovan “Razor” Ruddock meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di divisi kelas berat. Keberaniannya, kekuatan pukulannya yang melegenda, dan kesediaannya untuk menghadapi lawan-lawan terbaik di generasinya, mengamankan tempatnya di antara para petinju kelas berat yang paling tangguh dan dihormati dalam sejarah. Ia mungkin tak memiliki mahkota, tapi ia memiliki hati seorang juara.
Donovan “Razor” Ruddock pantas disebut sebagai salah satu petinju kelas berat terbaik yang tidak pernah meraih gelar juara dunia.
(EA/timKB).
Sumber foto: kompas.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda