Jakarta – Dari lorong-lorong sempit kota Manaus, Brasil, hingga gemerlap panggung ONE Championship di Bangkok, kisah hidup Francisco “Chico” Lo adalah cerminan dari perjuangan, determinasi, dan cinta mendalam terhadap Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ). Lahir pada 7 November 2000, Chico tumbuh dalam lingkungan yang penuh tantangan, namun semangatnya untuk mengubah nasib melalui seni bela diri membawanya ke puncak dunia grappling.
Masa Kecil yang Penuh Tantangan
Chico dibesarkan dalam kondisi ekonomi yang sulit. Ayahnya, seorang pecandu alkohol, meninggalkan keluarga saat Chico masih kecil, meninggalkan ibunya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menghidupi keluarga. Karena ibunya harus bekerja, Chico diasuh oleh neneknya. Di sekolah, ia sering menjadi korban perundungan karena tubuhnya yang kecil dan sifatnya yang hiperaktif. Ia bahkan mengonsumsi obat untuk mengatasi gangguan perhatian yang dialaminya.
“Saya selalu dipukuli di sekolah. Saya tidak tahu apakah itu bisa disebut bullying, tapi saya selalu dipukuli. Ketika saya bisa, saya akan menggigit teman sekelas saya karena itu satu-satunya pertahanan yang saya tahu,” kenang Chico.
Awal Perkenalan dengan Jiu-Jitsu
Pada usia 10 tahun, setelah mengalami kekerasan dari teman-temannya, Chico memutuskan untuk mencari cara membela diri. Ia menemukan Brazilian Jiu-Jitsu dan langsung jatuh cinta pada seni bela diri ini. Meskipun awalnya ibunya tidak mengizinkan, Chico tetap berlatih diam-diam.
“Saya mulai berlatih jiu-jitsu pada usia 10 tahun. Beberapa teman jalanan yang biasa bermain sepak bola dengan saya sering memukuli saya. Saya mengambilnya untuk pertahanan pribadi. Seorang teman membawa saya untuk berlatih, dan saya akhirnya jatuh cinta pada olahraga ini,” ujar Chico.
Meskipun awalnya sering kalah dalam kompetisi dan dianggap tidak berbakat, Chico terus berlatih dengan tekun. Ia menggunakan keraguan orang lain sebagai motivasi untuk membuktikan kemampuannya.
“Saya terus mendapatkan sabuk. Saat sabuk oranye, saya masih belum mendapat dukungan dari keluarga. Saya bukan atlet berbakat. Saya akan kalah di setiap turnamen. Dalam pikiran saya, saya adalah sabuk oranye atau hijau terburuk di dunia. Saya pikir yang memberi saya motivasi paling besar untuk tetap berada di olahraga ini adalah bahwa orang-orang terus mengatakan bahwa saya tidak memiliki bakat, bahwa saya tidak akan jauh dan bahwa saya terlalu lembut. Saya terus tumbuh dalam olahraga ini, mendedikasikan semua yang saya miliki untuk menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Meniti Karier Profesional
Setelah meraih sabuk hijau, Chico mulai serius meniti karier di dunia BJJ. Ia pindah ke São Paulo untuk berlatih di bawah bimbingan pelatih ternama, Cicero Costha. Di sana, ia tinggal di rumah petarung dan berlatih penuh waktu. Pada 16 Mei 2022, Chico resmi mendapatkan sabuk hitamnya.
Chico kemudian pindah ke Amerika Serikat untuk mencari peluang lebih besar dalam dunia BJJ. Dengan dukungan teman-teman dan komunitasnya, ia berhasil meraih berbagai gelar bergengsi, termasuk:
-
- Juara IBJJF Pan American No-Gi Championship
- Juara IBJJF American National Championship
- Peraih medali perak di IBJJF World Championship
Debut di ONE Championship
Pada 5 April 2024, Chico melakukan debutnya di ONE Championship melawan juara dunia submission grappling ringan, Kade Ruotolo, dalam pertandingan catchweight 180 pon di Lumpinee Boxing Stadium, Bangkok. Meskipun kalah melalui submission pada ronde pertama, penampilannya mendapat pujian karena keberanian dan tekniknya yang impresif.
“Saya berencana terus mengejar submission daripada bertahan. Saya ingin memberikan pertunjukan. Saya ingin men-submit dia jika memungkinkan. Dia sangat tangguh. Saya tahu bahwa dia suka memberikan pertunjukan, dan saya juga. Para penggemar akan menyukainya. Tanpa diragukan, kami akan mendapatkan bonus ‘Pertarungan Malam Ini’,” kata Chico sebelum pertarungan.
Pertarungan Mendatang
Chico dijadwalkan menghadapi Izaak Michell dalam pertandingan submission grappling kelas welterweight di ONE Fight Night 33 pada 11 Juli 2025. Pertarungan ini sangat dinantikan karena kedua atlet dikenal dengan gaya bertarung agresif dan teknik submission yang mematikan.
Gaya Bertarung dan Teknik Unggulan
Chico dikenal dengan gaya bertarung yang agresif dan kreatif. Ia sering menggunakan teknik-teknik seperti:
-
- Triangle choke
- Kneebar
- Calf slicer
- Straight ankle lock
- Toe hold
Dengan 49 kemenangan melalui submission dari total 85 kemenangan, Chico membuktikan dirinya sebagai salah satu grappler paling mematikan di dunia.
Kisah hidup Francisco “Chico” Lo adalah bukti bahwa dengan tekad, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, seseorang dapat mengatasi segala rintangan dan meraih impian. Dari anak jalanan di Manaus hingga menjadi bintang di panggung dunia, Chico terus menginspirasi banyak orang dengan perjalanannya yang luar biasa.
(bP/timKB).
Sumber foto: bjjheroes.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda