Chase Hooper: Petarung Muda Spesialis Jiu-Jitsu

Piter Rudai 18/07/2025 3 min read
Chase Hooper: Petarung Muda Spesialis Jiu-Jitsu

Jakarta – Dalam dunia seni bela diri campuran yang sarat persaingan dan adrenalin tinggi, muncul satu nama yang dengan tenang namun pasti menarik perhatian para penggemar dan pengamat: Chase Alan Hooper. Lahir pada 13 September 1999 di Enumclaw, Washington, Amerika Serikat, Chase Hooper adalah contoh nyata bagaimana perpaduan antara determinasi muda dan teknik jiu-jitsu dapat membentuk seorang petarung berbahaya. Meski masih berusia muda, Hooper telah menorehkan jejak yang menjanjikan di panggung Ultimate Fighting Championship (UFC), terutama di divisi Lightweight.

Tumbuh dalam Lingkungan yang Membentuk Mental Juara

Chase tumbuh di kota kecil Enumclaw, dengan latar belakang keluarga yang sederhana namun mendukung penuh bakatnya. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan minat terhadap seni bela diri, khususnya Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ). Bagi Hooper, BJJ bukan hanya teknik pertarungan—ia adalah seni, strategi, dan bentuk disiplin diri. Ia mulai berlatih sejak usia remaja dan dengan cepat memperlihatkan potensi luar biasa dalam grappling. Sebelum usianya menyentuh 20 tahun, ia sudah menyandang sabuk hitam BJJ dan aktif mengikuti turnamen grappling lokal dan nasional.

Dari Promosi Regional ke Mata Dunia

Langkah awal Chase di dunia MMA profesional dimulai pada usia 18 tahun. Dengan tinggi 185 cm dan postur tubuh kurus namun fleksibel, banyak pihak meragukan ketahanannya di dalam oktagon. Namun, skeptisisme itu sirna ketika ia berhasil memenangkan beberapa pertarungan awal dengan teknik submission yang bersih dan efisien. Ia mengumpulkan rekor profesional tak terkalahkan dalam promosi regional, yang membuatnya menjadi pusat perhatian platform scouting bakat MMA paling bergengsi: Dana White’s Contender Series.

Pada 2018, ia tampil di Dana White’s Contender Series (DWCS) dan menang melalui keputusan bulat melawan Canaan Kawaihae. Kemenangan ini memberinya kontrak pengembangan UFC.

Bakat Mentah yang Siap Diasah

Debut UFC Hooper terjadi pada Desember 2019, saat ia menghadapi Daniel Teymur di UFC 245. Dalam pertarungan tersebut, Hooper menunjukkan dominasi luar biasa di atas matras. Ia memanfaatkan jangkauan panjang dan kemampuan ground control untuk mencetak kemenangan melalui TKO pada ronde pertama. Kemenangan ini langsung membuka mata dunia MMA bahwa seorang “anak muda kurus dari Washington” bisa jadi akan menjadi ancaman besar di masa depan.

Namun, perjalanan karier Hooper di UFC tidaklah semulus debutnya. Ia mengalami kekalahan dari Alex Caceres dan Steve Peterson—dua petarung veteran yang menguji ketangguhannya dari sisi striking dan pengalaman. Kekalahan ini menjadi momen pembelajaran yang penting. Chase tidak larut dalam hasil negatif, melainkan menggunakannya sebagai bahan evaluasi teknik dan strategi. Ia mulai memperkuat sisi striking dan conditioning-nya, menyadari bahwa untuk bertahan di level tertinggi, ia harus menjadi petarung yang lebih komplet.

Evolusi dan Peralihan ke Divisi Lightweight

Setelah beberapa pertarungan di divisi Featherweight, Chase dan timnya memutuskan bahwa tubuh mudanya membutuhkan ruang lebih untuk tumbuh. Keputusan pun diambil untuk naik ke kelas Lightweight, yang dianggap lebih sesuai dengan struktur tubuh dan stamina yang ia miliki. Peralihan ini menjadi titik balik dalam kariernya. Ia tampak lebih kuat, lebih bertenaga, dan lebih percaya diri.

Di divisi ini, Hooper berhasil meraih kemenangan yang signifikan, salah satunya adalah kemenangan atas petarung tangguh Nick Fiore pada pertengahan 2023. Kemenangan tersebut tidak hanya menunjukkan dominasi grappling-nya, tetapi juga perkembangan striking dan IQ bertarung yang semakin matang.

Julukan “The Dream”: Refleksi Gaya dan Filosofi Bertarung

Julukan “The Dream” bukan sekadar gimmick. Chase Hooper memang mewakili mimpi dari banyak petarung muda yang ingin mencapai UFC tanpa harus menempuh jalan brutal dan keras yang umum dijalani. Ia membuktikan bahwa dengan kecerdasan teknis, kerja keras, dan ketekunan, impian bisa dicapai. Gaya bertarungnya sangat menghibur: menyerang dengan striking yang bersih, membawa lawan ke bawah, dan mencari submission dengan kesabaran khas BJJ.

Masa Depan Chase Hooper: Mimpi yang Belum Selesai

Pada usianya yang masih sangat muda untuk ukuran UFC, Chase Hooper masih memiliki jalan panjang untuk ditempuh. Ia terus memperdalam teknik striking-nya, memperkuat kondisi fisik, dan mencari lawan-lawan yang akan membawanya ke posisi ranking Lightweight.

Dengan tim pelatih yang solid, pengalaman yang terus bertambah, dan kemampuan grappling kelas dunia, masa depan Chase Hooper tampak cerah. Ia mungkin belum menjadi penantang gelar saat ini, namun setiap pertarungan adalah pijakan menuju masa depan yang lebih besar.

(PR/timKB).

Sumber foto: fightersonly.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...