Jakarta – Pada 29 Juli 2004, jagat sepak bola Belanda dibuat gempar dengan pengumuman yang mencengangkan: Marco van Basten, salah satu penyerang paling ikonik dalam sejarah sepak bola, ditunjuk sebagai manajer tim nasional Belanda. Penunjukan ini bukan tanpa risiko. Van Basten, dengan karier bermain yang gemilang namun minim pengalaman melatih di level tertinggi, mengambil alih tim yang sedang mencari identitas setelah performa kurang meyakinkan di beberapa turnamen sebelumnya. Keputusan ini menandai dimulainya babak baru bagi De Oranje, sebuah era yang akan dikenang karena perpaduan antara optimisme, kontroversi, dan momen-momen sepak bola yang memukau.
Sebelum penunjukan ini, Van Basten lebih dikenal sebagai asisten manajer tim Jong Ajax dan hanya memiliki sedikit pengalaman melatih. Namun, federasi sepak bola Belanda (KNVB) melihat visi yang jelas dan keinginan kuat untuk membawa gaya bermain menyerang yang identik dengan sepak bola Belanda kembali ke garis depan. Bersama asistennya, John van ‘t Schip, mantan rekan setimnya di Ajax, Van Basten bertekad untuk menyuntikkan energi baru dan filosofi ofensif yang telah lama menjadi ciri khas timnas Belanda.
Masa jabatan Van Basten sebagai pelatih timnas Belanda ditandai dengan perubahan signifikan dalam skuad. Ia tidak ragu untuk mencoret nama-nama besar yang dianggap sudah melewati masa puncaknya dan memberikan kesempatan kepada pemain-pemain muda berbakat. Keputusan ini sering kali memicu perdebatan sengit di media dan di kalangan penggemar, namun Van Basten teguh pada pendiriannya. Ia percaya bahwa regenerasi adalah kunci untuk membangun tim yang kompetitif di masa depan. Pemain-pemain seperti Robin van Persie, Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Rafael van der Vaart, yang saat itu masih relatif muda, mendapatkan peran krusial di bawah arahannya.
Ujian besar pertama Van Basten adalah Kualifikasi Piala Dunia 2006. Belanda tampil impresif, berhasil lolos ke turnamen di Jerman tanpa terkalahkan di grup mereka. Di Piala Dunia itu sendiri, Belanda tergabung dalam “grup neraka” bersama Argentina, Pantai Gading, dan Serbia & Montenegro. Meskipun menunjukkan performa yang menjanjikan di fase grup, langkah Belanda terhenti secara dramatis di babak 16 besar setelah kalah dari Portugal dalam pertandingan yang sangat kontroversial, di mana empat kartu merah dikeluarkan oleh wasit.
Meskipun tersingkir dini di Piala Dunia 2006, Van Basten tetap dipertahankan untuk memimpin tim di Kualifikasi Euro 2008. Sekali lagi, Belanda tampil dominan, memastikan tempat mereka di turnamen yang diselenggarakan di Austria dan Swiss. Di Euro 2008, Van Basten dan timnya mengejutkan banyak pihak dengan performa memukau di fase grup. Mereka mengalahkan juara dunia Italia 3-0 dan finalis Piala Dunia Prancis 4-1, menampilkan sepak bola menyerang yang atraktif dan efektif. Ini adalah puncak dari filosofi Van Basten, di mana timnya bermain dengan kecepatan, kreativitas, dan tanpa rasa takut. Sayangnya, perjalanan gemilang ini harus berakhir di perempat final setelah secara mengejutkan kalah dari Rusia yang dilatih oleh Guus Hiddink. Kekalahan ini sangat menyakitkan, terutama setelah penampilan inspiratif di fase grup.
Pada akhirnya, Van Basten memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya setelah Euro 2008. Ia meninggalkan timnas Belanda dengan catatan yang cukup baik, meskipun tanpa trofi. Warisannya adalah keberanian untuk melakukan regenerasi, kepercayaan pada talenta muda, dan upaya untuk mengembalikan identitas sepak bola menyerang Belanda. Meskipun perjalanannya sebagai pelatih timnas tidak selalu mulus dan sering diwarnai kritik, era Van Basten akan selalu dikenang sebagai periode di mana legenda hidup mencoba membawa negaranya kembali ke puncak kejayaan sepak bola.
(EA/timKB).
Sumber foto: inews.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda