Hamdy Abdelwahab: Dari Pegulat Olimpiade Ke UFC

Piter Rudai 13/09/2025 4 min read
Hamdy Abdelwahab: Dari Pegulat Olimpiade Ke UFC

Jakarta – Di jagat seni bela diri campuran, hanya sedikit kisah yang mampu menginspirasi sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya. Salah satunya adalah kisah Hamdy Abdelwahab, petarung asal Cairo, Mesir, yang lahir pada 22 Januari 1993. Dari lorong-lorong pusat latihan gulat di Mesir hingga lampu sorot terang panggung Ultimate Fighting Championship (UFC), perjalanan Hamdy adalah bukti nyata bahwa kerja keras, tekad, dan keberanian bisa menembus batasan.

Julukannya, “The Hammer”, tidak lahir tanpa alasan. Ia bertarung dengan gaya agresif, penuh tenaga, dan selalu mencari cara untuk menjatuhkan lawan dengan kekuatan fisik serta teknik grappling khas gulat Greco-Roman yang menjadi fondasi kariernya.

Dari Cairo ke Panggung Dunia

Hamdy tumbuh di Cairo dalam lingkungan yang keras namun penuh semangat olahraga. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat gulat sebagai salah satu olahraga kebanggaan bangsa. Dengan tubuh yang kokoh dan mental disiplin, ia memilih jalur gulat Greco-Roman sebagai pintu masuknya ke dunia olahraga profesional.

Pilihan ini terbukti tepat. Hamdy berkembang pesat, menorehkan prestasi di level junior, termasuk meraih medali di Youth Olympic Games serta berulang kali naik podium di Kejuaraan Afrika. Prestasi tersebut mengukuhkannya sebagai salah satu pegulat terbaik yang dimiliki Mesir.

Mewakili Mesir di Olimpiade Rio 2016

Puncak karier gulat Hamdy terjadi ketika ia terpilih mewakili Mesir di ajang paling prestisius: Olimpiade Rio 2016. Meski tidak berhasil membawa pulang medali, partisipasi di Olimpiade menjadi pencapaian monumental.

Bagi Hamdy, pengalaman tersebut tidak hanya soal bertanding, tetapi juga tentang mengasah mental, menghadapi tekanan, dan belajar bertarung di bawah sorotan dunia. Olimpiade menjadi tonggak penting yang kelak membentuk mentalitasnya sebagai petarung MMA.

Peralihan ke MMA: Tantangan Baru

Selepas Olimpiade, Hamdy dihadapkan pada pilihan: melanjutkan karier sebagai pegulat profesional atau mencoba jalur baru. Ia memilih MMA—keputusan berani yang membawa risiko besar. Pada 2019, ia resmi memulai karier MMA profesional.

Langkah awalnya berjalan mulus. Hamdy mencetak serangkaian kemenangan cepat di ajang Gamebred FC dan iKon FC. Dengan gaya khas pegulat, ia memaksa lawan masuk ke clinch, melakukan takedown keras, lalu mengakhiri laga dengan ground-and-pound brutal. Kecepatan dan efektivitasnya membuat penonton kagum, sekaligus menandai dirinya sebagai prospek berbahaya di divisi Heavyweight.

Petarung Mesir Pertama di UFC

Titik balik terbesar datang pada Juni 2022, ketika Hamdy menandatangani kontrak dengan UFC. Ia resmi menjadi petarung Mesir pertama dalam sejarah UFC. Momen ini bukan hanya pencapaian pribadi, melainkan juga kebanggaan nasional, membuka jalan bagi atlet-atlet bela diri dari Mesir dan Afrika Utara untuk bermimpi besar.

Debutnya di UFC disambut antusias oleh publik Mesir. Meski menghadapi lawan tangguh, Hamdy tampil dengan keberanian penuh, menekan sejak awal dengan clinch, takedown, dan kontrol ground yang khas. Namun, pertandingan tersebut akan dibatalkan menjadi no-contest akibat hasil tes doping yang positif.

Setelah debut, ia sempat diskors oleh USADA selama dua tahun karena penggunaan zat terlarang (Metenolone), dan kemudian diskors lagi selama 6 bulan karena pelanggaran doping kedua.

Ia kembali bertarung pada Februari 2025 dan menang melawan Jamal Pogues, lalu kalah dari Mohammed Usman pada Juni 2025.

“The Hammer” yang Mematikan

Hamdy dikenal dengan gaya bertarung khas Heavyweight: keras, langsung, dan tanpa basa-basi.

Beberapa ciri khasnya antara lain:

    • Tekanan di clinch – memanfaatkan kekuatan tubuh bagian atas untuk mengendalikan lawan.
    • Takedown eksplosif – hasil dari pengalaman panjang sebagai pegulat Greco-Roman.
    • Ground-and-pound brutal – hantaman keras yang bisa mengakhiri laga dalam hitungan menit.
    • Striking yang berkembang – meski grappling adalah senjatanya, Hamdy terus meningkatkan kemampuan pukulan untuk melengkapi arsenalnya.

Tidak heran jika julukan “The Hammer” terasa sangat cocok, menggambarkan bagaimana setiap serangan yang ia lepaskan seperti palu yang menghantam tanpa ampun.

Prestasi dan Catatan Karier

    • Nama Lengkap: Hamdy Abdelwahab
    • Julukan: The Hammer
    • Tanggal Lahir: 22 Januari 1993
    • Tempat Lahir: Cairo, Mesir
    • Divisi: Heavyweight – UFC
    • Latar Belakang: Gulat Greco-Roman (Olimpiade) & MMA
    • Prestasi Gulat: Medali di Youth Olympic Games, Peraih medali di Kejuaraan Afrika, Mewakili Mesir di Olimpiade Rio 2016
    • Karier MMA: Debut profesional pada 2019, kemenangan cepat di Gamebred FC & iKon FC, petarung Mesir pertama yang menandatangani kontrak UFC (2022)

Masa Depan dan Warisan

Meski karier UFC-nya masih dalam tahap awal, Hamdy telah menorehkan sejarah. Bagi banyak penggemar MMA di Mesir, ia adalah simbol harapan. Keberhasilannya membuktikan bahwa atlet dari Afrika Utara bisa menembus panggung dunia, bahkan di olahraga sekompetitif UFC.

Dengan usia yang masih relatif muda untuk kelas Heavyweight, Hamdy memiliki waktu untuk terus berkembang. Jika ia mampu menyempurnakan teknik striking-nya, ditambah dengan dasar gulat kelas dunia, bukan tidak mungkin ia akan menjadi ancaman serius di jajaran teratas divisi Heavyweight.

Kisah Hamdy Abdelwahab adalah cerminan dari transisi seorang atlet elit dunia. Dari pegulat muda berbakat di Cairo, peraih medali di ajang internasional, perwakilan Mesir di Olimpiade Rio 2016, hingga menjadi petarung Heavyweight pertama dari Mesir di UFC.

Julukan “The Hammer” bukan hanya gambaran gaya bertarungnya yang brutal, tetapi juga simbol ketekunan, kerja keras, dan tekad untuk menorehkan sejarah. Kini, ia bukan sekadar petarung, melainkan pionir yang membuka jalan bagi generasi berikutnya dari Mesir dan Afrika.

(PR/timKB).

Sumber foto: yahoosports

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...