Fabio Quartararo, Pemecah Sejarah Prancis Di Puncak MotoGP

Eva Amelia 24/10/2025 4 min read
Fabio Quartararo, Pemecah Sejarah Prancis Di Puncak MotoGP

Jakarta – Minggu, 24 Oktober 2021, akan selalu tercatat sebagai hari bersejarah dalam buku balap motor dunia, khususnya bagi Prancis dan tim Monster Energy Yamaha. Di sirkuit ikonik Misano World Circuit Marco Simoncelli, dalam gelaran Grand Prix Emilia-Romagna, Fabio Quartararo mengukuhkan dirinya sebagai Juara Dunia MotoGP 2021. Momen ini bukan hanya puncak karier pribadinya yang luar biasa, tetapi juga menandai lahirnya pebalap Prancis pertama yang berhasil meraih gelar juara dunia di kelas premier balap motor.

Perjalanan Quartararo menuju mahkota juara tersebut dipenuhi perjuangan, keteguhan, dan sedikit drama yang menegangkan, menjadikannya salah satu kisah terbaik dalam musim MotoGP modern.

Baa juga: Fabio Quartararo Juara MotoGP 2021

Jalan Berliku Sang Bintang Prancis

Fabio Quartararo, yang dijuluki “El Diablo” karena helm bergambar iblis yang ia kenakan di masa mudanya, lahir di Nice, Prancis, pada 20 April 1999. Karier balapnya menanjak melalui kejuaraan-kejuaraan junior di Spanyol sebelum akhirnya melangkah ke Kejuaraan Dunia. Meskipun memiliki talenta yang tidak diragukan, kariernya di kelas Moto3 dan Moto2 tidak selalu gemilang. Ia tidak pernah meraih gelar juara dunia di kedua kelas tersebut, sebuah fakta yang menarik mengingat betapa dominannya ia di kelas premier.

Namun, kedatangannya di MotoGP pada 2019 bersama tim satelit Petronas Yamaha SRT mengubah segalanya. Dengan cepat ia menunjukkan kecepatan luar biasa dan konsistensi yang mengagumkan. Meskipun belum sempat mencicipi kemenangan seri di tahun debutnya, tujuh podium dan beberapa kali pole position sudah cukup untuk menarik perhatian pabrikan Yamaha.

Musim 2021, Quartararo dipromosikan ke tim pabrikan Monster Energy Yamaha, menggantikan legenda hidup Valentino Rossi. Banyak tekanan yang menyertai kepindahan tersebut, tetapi Quartararo menjawabnya dengan performa yang matang dan konsisten. Sepanjang musim, ia tampil trengginas, meraih lima kemenangan seri dan total sepuluh podium. Ia menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi lintasan dan mengelola tekanan sebagai pemuncak klasemen.

Drama Misano: Penentuan Gelar yang Tak Terduga

MotoGP Emilia-Romagna menjadi seri penentu gelar juara dunia bagi Quartararo. Sebelum balapan, ia unggul 52 poin dari pesaing terdekatnya, Francesco “Pecco” Bagnaia dari tim Ducati. Untuk mengunci gelar di Misano, Quartararo harus memastikan jarak poinnya lebih dari 50, yang berarti ia harus finis di posisi tertentu, bergantung pada hasil Bagnaia.

Kondisi awal Quartararo terbilang sulit. Ia memulai balapan dari posisi ke-15, hasil kualifikasi yang kurang memuaskan. Sementara itu, Bagnaia yang tampil memukau sepanjang akhir pekan, start dari pole position dan langsung memimpin balapan bersama rekan setimnya, Jack Miller.

Balapan berjalan tegang. Quartararo menunjukkan spirit “El Diablo” yang sesungguhnya. Perlahan tapi pasti, ia merangkak naik melewati para pebalap di depannya. Di saat bersamaan, Bagnaia tampak nyaman di posisi terdepan, menjaga jarak dari kejaran Marc Marquez. Jika Bagnaia menang, pesta juara Quartararo dipastikan tertunda.

Namun, takdir berkata lain. Di putaran ke-23, ketika balapan hanya menyisakan beberapa lap, sebuah insiden dramatis terjadi. Francesco Bagnaia terjatuh saat memimpin balapan! Musibah bagi Bagnaia ini sontak mengubah total peta persaingan.

Pada saat yang sama Bagnaia terjatuh, Quartararo sudah berhasil merangsek ke posisi keempat, menunjukkan progres balapan yang fantastis dari posisi start yang jauh di belakang. Dengan Bagnaia gagal finis (0 poin), perolehan poin Quartararo, tidak peduli di posisi berapa pun ia finis, secara matematis sudah cukup untuk mengunci gelar juara dunia. Keunggulan 52 poin yang ia miliki sebelum balapan, dengan maksimal 50 poin tersisa di dua seri berikutnya, kini tidak mungkin lagi dikejar.

Quartararo akhirnya finis di posisi keempat di belakang Marc Marquez, Pol Espargaro, dan Enea Bastianini. Kemenangan balapan diraih oleh Marc Marquez, namun perhatian dunia tertuju pada pemuda Prancis yang baru saja mencetak sejarah.
Sejarah untuk Prancis dan Yamaha

Dengan raihan gelar ini, Fabio Quartararo (usia 22 tahun) resmi menjadi pebalap Prancis pertama yang memenangkan Kejuaraan Dunia di kelas premier (500cc/MotoGP). Sebuah penantian panjang yang terbayar lunas, mengukir nama Prancis di puncak olahraga balap motor dunia.

Gelar ini juga menjadi momen penting bagi tim pabrikan Yamaha. Ini adalah gelar juara dunia pebalap pertama mereka sejak Jorge Lorenzo pada tahun 2015. Kemenangan ini membuktikan bahwa motor YZR-M1 masih merupakan salah satu motor paling kompetitif di lintasan, sekaligus menegaskan Quartararo sebagai suksesor sejati bagi para legenda Yamaha sebelumnya.

Saat Quartararo melewati garis finis dan menyadari ia adalah Juara Dunia, air mata haru dan sorak sorai perayaan pecah di Misano. Dalam wawancara pasca-balapan, ia mengungkapkan perasaannya: “Saya masih tidak percaya! Ini adalah momen yang luar biasa. Saya hidup dalam mimpi!”

Kisah Fabio Quartararo pada 24 Oktober 2021 adalah pelajaran tentang ketekunan dan semangat juang. Dari seorang pebalap yang sempat diragukan di kelas junior, ia bangkit, berjuang, dan akhirnya menorehkan sejarah, membuktikan bahwa dengan konsistensi dan mentalitas “El Diablo”, batas tertinggi di dunia balap motor dapat ditaklukkan. Gelarnya di Misano bukan sekadar kemenangan; ia adalah babak baru yang dibuka oleh seorang pebalap muda Prancis di panggung MotoGP.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...