Nery Alberto Pumpido Barrinat adalah nama yang terukir emas dalam sejarah sepak bola Argentina. Lahir pada 30 Juli 1957 di Monje, Santa Fe, Pumpido dikenal sebagai salah satu penjaga gawang legendaris Argentina, sebuah negara yang seringkali lebih memfokuskan sorotan pada para penyerang dan playmaker-nya. Perjalanannya, dari kiper di klub lokal hingga pahlawan Piala Dunia, dan kemudian beralih menjadi pelatih dan pejabat sepak bola, adalah kisah ketekunan, kejayaan, dan juga momen-momen pahit yang mendefinisikan seorang profesional sejati.
Pumpido bukanlah penjaga gawang yang mengandalkan atraksi akrobatik semata, melainkan sosok yang dikenal karena posisioning yang sempurna, ketenangan di bawah tekanan, dan kemampuan organisasi yang luar biasa. Kualitas-kualitas inilah yang menjadikannya pilihan utama pelatih Carlos Bilardo, bahkan di tengah persaingan ketat dengan kiper berbakat lainnya.
Karir Pemain Klub dan Tiga Gelar Krusial Tahun 1986
Pumpido memulai karir profesionalnya di klub kota asalnya, Unión de Santa Fe, pada tahun 1976. Setelah lima tahun yang solid di sana, ia pindah ke Vélez Sársfield sebelum akhirnya bergabung dengan salah satu klub raksasa Argentina, River Plate, pada tahun 1983. Di River Plate, bakatnya sebagai kiper yang solid mulai bersinar terang, memberinya panggung untuk dilirik tim nasional.
Tahun 1986 menjadi annus mirabilis—tahun keajaiban—bagi karir klub dan internasionalnya. Pumpido memimpin River Plate meraih tiga gelar prestisius secara beruntun. Pertama, ia membantu tim memenangkan gelar Primera División Argentina di musim 1985–86.
Pencapaian klubnya tidak berhenti di level domestik; Pumpido kemudian menjadi pahlawan saat membawa River Plate meraih gelar paling bergengsi di Amerika Selatan, Copa Libertadores 1986. Kemenangan ini menandai pertama kalinya klub tersebut menjuarai kompetisi kontinental. Pumpido lalu melengkapi kejayaan tersebut dengan memenangkan Piala Interkontinental 1986 (sekarang Piala Dunia Antarklub) di Tokyo, mengalahkan Steaua București dari Rumania. Tiga gelar bergengsi ini—satu domestik dan dua kontinental—hanya dalam satu tahun, menjadikannya salah satu pilar penting dalam sejarah klub tersebut dan membuktikan kemampuannya untuk berprestasi di panggung terbesar.
Setelah River Plate, Pumpido sempat berkarir di Eropa, bermain untuk klub Spanyol Real Betis dari tahun 1988 hingga 1990. Ia mengakhiri karir klubnya dengan kembali ke Unión de Santa Fe, di mana ia pensiun pada tahun 1992, meninggalkan warisan berupa lima gelar klub mayor.
Puncak Karir Internasional: Di Bawah Bayangan Maradona
Kontribusi terbesar Nery Pumpido bagi sepak bola adalah perannya sebagai kiper utama Tim Nasional Argentina. Ia mencatatkan total 38 penampilan untuk La Albiceleste.
Pada Piala Dunia FIFA 1986 di Meksiko, Pumpido adalah benteng terakhir di belakang barisan pertahanan Argentina yang didominasi oleh kejeniusan Diego Maradona di lini serang. Di bawah arahan pelatih Carlos Bilardo, yang menekankan pertahanan yang terorganisir dan efisien, Pumpido adalah komponen kunci dari strategi tersebut. Ia tampil di seluruh tujuh pertandingan, bermain 630 menit penuh dari babak penyisihan grup hingga final. Penampilannya sangat krusial, ia hanya kebobolan lima gol sepanjang turnamen dan mencatatkan tiga clean sheet.
Di final yang dramatis melawan Jerman Barat, meskipun Jerman berhasil menyamakan kedudukan 2-2 di babak kedua, Pumpido berhasil menjaga gawangnya dari kebobolan lebih lanjut sehingga Jorge Burruchaga dapat mencetak gol penentu kemenangan 3-2. Pumpido menjadi pemenang Piala Dunia FIFA pada tahun 1986. Performa gemilangnya di turnamen tersebut membuatnya diakui secara individu, bahkan masuk dalam Tim Terbaik Amerika Selatan Tahun 1986.
Celah Nasib di Italia 1990
Sayangnya, karir Piala Dunia Pumpido berikutnya berakhir dengan pilu dan tak terduga. Pada Piala Dunia FIFA 1990 di Italia, ia kembali dipercaya sebagai kiper utama. Setelah kekalahan mengejutkan 0-1 dari Kamerun di pertandingan pembuka, nasib buruk menimpanya di pertandingan kedua melawan Uni Soviet. Pada menit ke-11, saat melakukan penyelamatan rutin, Pumpido mengalami cedera parah, yaitu patah kaki, yang langsung mengakhiri turnamennya.
Peristiwa cedera ini memiliki konsekuensi besar bagi skuad Argentina. Itu memaksa Sergio Goycochea, kiper cadangan yang belum bermain secara kompetitif selama berbulan-bulan, untuk masuk menggantikannya. Ironisnya, Goycochea kemudian menjadi pahlawan dalam adu penalti yang membawa tim Argentina mencapai final. Meskipun Pumpido harus menyaksikan dari pinggir lapangan dan timnya harus puas sebagai runner-up setelah kalah dari Jerman Barat di final, ia tetap tercatat sebagai anggota kunci dari skuad Argentina tahun 1990 yang heroik.
Warisan sebagai Pelatih dan Administrator
Setelah pensiun sebagai pemain pada tahun 1992, Pumpido beralih ke dunia kepelatihan dan administrasi sepak bola. Karir manajerialnya dimulai dengan melatih klub-klub Argentina seperti Unión Santa Fe dan Godoy Cruz.
Prestasi terbesarnya sebagai pelatih datang bersama klub Paraguay, Olimpia Asunción, di mana ia berhasil mengulang kejayaannya di masa pemain. Pada tahun 2002, Pumpido membawa Olimpia menjuarai Copa Libertadores, sebuah pencapaian yang luar biasa. Dengan gelar ini, ia bergabung dengan kelompok elit yang sangat kecil, menjadi salah satu dari sedikit individu yang pernah memenangkan Copa Libertadores baik sebagai pemain (1986 bersama River Plate) maupun sebagai pelatih (2002 bersama Olimpia Asunción). Kemenangan ini semakin memperkuat statusnya sebagai tokoh sepak bola Amerika Selatan yang serba bisa.
Setelah karir kepelatihannya yang berpindah-pindah, termasuk di klub Meksiko Tigres UANL, Pumpido beralih ke peran administrasi. Sejak tahun 2021, ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di CONMEBOL (Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan), menunjukkan dedikasinya yang berkelanjutan untuk tata kelola olahraga ini di luar lapangan hijau.
Nery Pumpido, dengan ketenangan dan kepemimpinannya, bukan hanya sekadar penjaga gawang di bawah bayangan megabintang, tetapi seorang pahlawan Argentina yang unik. Gelar Piala Dunia 1986 dan Copa Libertadores ganda menjadikannya sosok yang tak terlupakan dalam panteon sepak bola dunia.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Raúl González Blanco: Sang Pangeran Bernabéu
Ketika Para Underdog Mengejutkan Dunia
Alexandre Pato, Perjalanan Penuh Lika-liku Sang Striker Brasil