Jakarta – Juan Román Riquelme bukan sekadar seorang pesepakbola; dia adalah seorang seniman yang melukis di atas kanvas hijau lapangan, seorang maestro yang gaya permainannya adalah ode terakhir untuk posisi klasik playmaker bernomor 10, yang kini hampir punah dalam sepak bola modern yang serba cepat. Lahir di San Fernando, Argentina, pada 24 Juni 1978, Riquelme tumbuh menjadi ikon yang tak lekang oleh waktu, sosok yang permainannya lebih mengutamakan visi, ritme, dan kecerdasan taktis daripada kecepatan dan daya jelajah. Ia adalah “Román,” legenda abadi yang terukir jauh di dalam hati para pendukung Boca Juniors dan penikmat sepak bola sejati. Julukan lain yang melekat padanya adalah “El Último Diez” (Nomor 10 Terakhir) dan “Topo Gigio”, yang merujuk pada selebrasi gol khasnya.
Sang Arsitek Lapangan Tengah dan Filosofi La Pausa
Gaya bermain Riquelme adalah anomali di era modern. Saat pemain lain berlari tanpa henti, Riquelme bergerak dengan anggun, seolah-olah waktu melambat di sekitarnya. Pergerakannya yang minimalis namun selalu efektif membuatnya sering disalahartikan sebagai pemain yang “malas” oleh mereka yang tidak memahami perannya. Namun, pergerakan tanpa bola Riquelme adalah tentang mencari ruang terbaik untuk menerima bola dan mendikte irama permainan. Begitu bola berada di kakinya, dunia seakan berhenti.
Filosofi inti permainannya adalah “La Pausa” (Jeda/Hentian). Di tengah kekacauan permainan, Riquelme akan mengambil jeda sepersekian detik untuk menghentikan laju bola, memindai lapangan, dan menciptakan waktu bagi rekan-rekannya untuk bergerak ke posisi menyerang. Teknik sederhana ini adalah esensi kecerdasannya; dia tidak membutuhkan lari sprint 50 meter untuk memecah pertahanan, melainkan cukup dengan satu operan yang terukur dan tak terduga yang datang setelah jeda singkat yang membuai lawan.
Kejeniusannya ini diakui oleh para pengamat, salah satunya Jorge Valdano, yang pernah berujar: “Jika kita harus berjalan dari A ke B, semua orang akan masuk jalan tol dan sampai tujuan secepat mungkin, kecuali Riquelme. Dia akan memilih jalan yang berkelok-kelok di pegunungan yang akan menghabiskan waktu enam jam lamanya. Tapi dengan itulah dia akan mengisi mata kita dengan pemandangan yang serba indah.” Kutipan ini menggambarkan Riquelme sebagai seorang romantikus yang menolak efisiensi demi estetika dan keindahan dalam permainan. Dengan kaki kanan yang dominan dan presisi yang menakjubkan, Riquelme memiliki kemampuan luar biasa untuk mengoper bola, baik itu umpan terobosan jarak pendek yang menusuk pertahanan lawan, maupun umpan silang jarak jauh yang sangat akurat.
Boca Juniors: Rumah dan Kuil-nya
Karier Riquelme adalah kisah cinta abadi dengan Boca Juniors. Ia bergabung dengan klub raksasa Argentina itu pada tahun 1996 dan segera menjadi jantung tim. Di La Bombonera, Riquelme menjelma menjadi idola, yang oleh para pendukung dipuja dengan keintiman yang hampir religius.
Era pertama Riquelme di Boca (1996–2002) adalah masa keemasan klub. Di bawah pelatih legendaris Carlos Bianchi, Riquelme memimpin tim meraih berbagai kejayaan, yang paling signifikan adalah tiga gelar Copa Libertadores (2000, 2001, 2007—termasuk loan spell). Puncak kegemilangannya adalah kemenangan monumental di Piala Interkontinental 2000 melawan Real Madrid yang bertabur bintang. Dalam pertandingan tersebut, Riquelme mendominasi lini tengah, menunjukkan kelasnya di panggung dunia dan membuktikan bahwa kecerdasan taktis dapat mengalahkan kecepatan dan kekuatan fisik. Kontribusinya dalam kompetisi kontinental menjadikan Boca Juniors sebagai kekuatan yang ditakuti di Amerika Selatan.
Petualangan Eropa: Kegagalan dan Kejayaan
Pada tahun 2002, Riquelme pindah ke Eropa, bergabung dengan Barcelona, sebuah transfer yang sarat dengan ekspektasi besar. Namun, periode di Camp Nou ternyata penuh gejolak. Di bawah manajer Louis van Gaal, Riquelme sering dimainkan di posisi yang bukan miliknya—sebagai pemain sayap—dan gaya bermainnya yang mendikte ritme tidak cocok dengan sistem taktis yang serba cepat dan kaku yang diterapkan Van Gaal. Van Gaal, yang dikenal sangat menuntut kerja keras tanpa bola, secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak meminta transfer Riquelme. Hal ini menyebabkan hubungan yang dingin dan karier yang melempem di Catalonia.
Titik balik karier Eropanya datang saat ia dipinjamkan ke Villarreal pada tahun 2003. Di “Kapal Selam Kuning,” Riquelme menemukan kebebasan yang ia butuhkan. Di bawah pelatih Manuel Pellegrini, ia diberikan peran sebagai pemimpin tunggal di lini tengah. Ia membawa Villarreal ke masa paling sukses mereka, termasuk mencapai semifinal Liga Champions UEFA 2005–2006. Momen ikoniknya—yang sekaligus tragis—adalah tendangan penalti yang gagal di menit-menit akhir melawan Arsenal di semifinal, sebuah insiden yang menggagalkan Villarreal dari final bersejarah. Meskipun demikian, Riquelme meninggalkan kesan abadi di Spanyol sebagai seorang genius sejati.
Warisan dan Pengaruh Abadi
Pada tahun 2007, Riquelme kembali ke Boca Juniors, sebuah kepulangan yang mengukuhkan statusnya. Ia memimpin Boca meraih gelar Copa Libertadores keempatnya (pribadi) dan kembali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Amerika Selatan. Di tingkat internasional, Riquelme adalah pemain kunci bagi Argentina, memenangkan Kejuaraan Dunia U-20 FIFA pada tahun 1997 dan medali emas Olimpiade pada tahun 2008. Ia juga menjadi poros tim di Piala Dunia FIFA 2006.
Riquelme pensiun pada tahun 2015, meninggalkan warisan yang melampaui statistik. Ia adalah penjaga api sepak bola yang lebih lambat dan lebih bijaksana. Penghargaan pribadinya, termasuk empat gelar Pemain Terbaik Amerika Selatan (2000, 2001, 2007, 2008), adalah pengakuan atas perannya sebagai salah satu playmaker paling berpengaruh dan berkarisma dari generasinya. Bahkan, Lionel Messi, bintang terbesar Argentina setelah era Maradona, pernah melakukan selebrasi “Topo Gigio” khas Riquelme, sebagai bentuk penghormatan dan, ironisnya, sebagai sindiran terhadap Van Gaal.
Riquelme pernah berkata, “Sepak bola telah memberikan saya segalanya. Seperti gadis kecil yang menyukai boneka, mainan terbaik yang pernah saya miliki adalah sepak bola.” Kutipan ini menunjukkan kecintaannya yang murni pada permainan. Saat ini, Riquelme terus mengabdi kepada klubnya sebagai Wakil Presiden Boca Juniors, memastikan bahwa semangat dan filosofi Xeneize tetap hidup. Juan Román Riquelme akan selalu dikenang sebagai el último Diez, sang nomor 10 terakhir yang bermain dengan jiwa, hati, dan keindahan, menolak modernitas demi romantisme abadi.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Duel PSM Makassar Kontra Persebaya Berakhir Tanpa Pemenang
The Gunners Tumbang Di Tangan Aston Villa
George Russell Tercepat Di FP3 Formula 1 Abu Dhabi