Jakarta – Alexandre Rodrigues da Silva, lebih dikenal sebagai Alexandre Pato, adalah salah satu nama yang pernah menjanjikan kejayaan besar dalam dunia sepak bola. Berasal dari Pato Branco, Brasil, “Si Bebek” (julukan Pato) ini memulai karier profesionalnya dengan kilauan yang luar biasa, beranjak dari klub Brasil, Internacional, menuju panggung termasyhur Eropa bersama AC Milan. Namun, perjalanan kariernya justru menjadi sebuah narasi kompleks tentang potensi yang sangat besar, cedera yang menghambat, dan pencarian jati diri di berbagai belahan dunia.
Awal Cemerlang di Internacional dan Milan
Pato mengukir namanya di kancah global saat masih sangat muda. Di Internacional, ia dengan cepat naik dari tim U20 dan membuat debut profesionalnya pada tahun 2006. Pada usia 17 tahun, ia sudah mencetak gol dalam debutnya, dan yang lebih mengesankan, ia menjadi bagian dari skuad Internacional yang memenangkan Piala Dunia Antarklub FIFA 2006. Dalam turnamen itu, ia mencetak gol melawan Al Ahly di semifinal, memecahkan rekor Pelé sebagai pencetak gol termuda di turnamen senior FIFA. Prestasi ini menarik perhatian klub-klub top Eropa.
Pada Agustus 2007, Pato pindah ke raksasa Italia, AC Milan, dengan biaya transfer yang signifikan. Debutnya di Serie A terjadi pada Januari 2008 melawan Napoli, di mana ia mencetak gol pertamanya untuk klub. Tahun-tahun awalnya di Milan adalah masa keemasan. Ia menunjukkan kecepatan, skill dribbling, dan insting mencetak gol yang tajam. Musim 2008–2009, ia menjadi pencetak gol terbanyak Milan dengan 18 gol di semua kompetisi. Puncak kejayaannya bersama Rossoneri terjadi pada musim 2010–2011, di mana ia mencetak 16 gol dan membantu Milan meraih gelar Serie A dan Supercoppa Italiana. Selama kariernya di Milan (2007–2013), Pato mencatatkan 117 penampilan Serie A dengan 51 gol dan total 150 penampilan dengan 63 gol di semua kompetisi. Pada periode ini pula, ia memenangkan Penghargaan Golden Boy pada tahun 2009.
Jatuh Bangun di Tengah Badai Cedera
Sayangnya, periode cemerlang di Milan mulai digerogoti oleh serangkaian cedera otot yang berulang, terutama di musim-musim terakhirnya di Italia. Cedera ini tidak hanya membatasi waktu bermainnya (misalnya, hanya 7 penampilan dan 2 gol di musim 2012–2013), tetapi juga tampaknya merampas sebagian dari kecepatan eksplosif dan kepercayaan dirinya, yang merupakan ciri khas permainannya.
Pada Januari 2013, Pato membuat keputusan untuk kembali ke Brasil, bergabung dengan Corinthians. Transfer ini diharapkan memberinya kesempatan untuk membangun kembali kebugaran dan kariernya. Namun, masa-masa di Corinthians (total 62 penampilan dan 17 gol) penuh gejolak, termasuk kegagalan penalti krusial yang membuatnya menuai kritik tajam. Ia kemudian dipinjamkan ke São Paulo dari 2014 hingga 2015, di mana ia menunjukkan kebangkitan kecil, mencetak 38 gol dalam 98 penampilan selama masa pinjaman tersebut.
Petualangan Global: Dari London hingga Tiongkok
Setelah itu, Pato memulai serangkaian petualangan singkat di klub-klub lain. Pada Januari 2016, ia dipinjamkan ke klub Liga Primer Inggris, Chelsea, namun hanya tampil dua kali, mencetak satu gol dalam debutnya dari titik penalti.
Petualangan berlanjut ke Spanyol, bergabung dengan Villarreal pada Juli 2016. Di klub La Liga ini, ia mencatatkan 24 penampilan dan 6 gol sebelum pindah ke Liga Super Tiongkok. Pada Januari 2017, ia ditransfer ke Tianjin Quanjian. Di Tiongkok, ia kembali menemukan sentuhan mencetak golnya, mencetak 34 gol dalam 58 penampilan dan menjadi salah satu bintang di liga tersebut selama dua tahun.
Kembali ke São Paulo dan MLS
Setelah Tianjin Quanjian dibubarkan, Pato kembali ke São Paulo untuk periode keduanya pada Maret 2019. Kali ini, ia bermain dalam 35 pertandingan dan mencetak 9 gol sebelum kontraknya diakhiri pada Agustus 2020.
Karier Pato kemudian membawanya ke Major League Soccer (MLS), bergabung dengan Orlando City SC pada Februari 2021. Di MLS, ia berjuang dengan masalah cedera lutut, yang membatasi kontribusinya. Meskipun sempat re-sign untuk musim 2022, ia hanya mencatatkan 32 penampilan dan 4 gol total selama dua musim di klub AS tersebut. Orlando City SC melepaskannya pada akhir 2022.
Pada Mei 2023, Pato kembali lagi untuk kali ketiga ke São Paulo, sebuah langkah yang tampaknya untuk menutup lingkaran kariernya di rumah. Selama periode ini, ia tampil 9 kali dengan 2 gol.
Karier Internasional
Di kancah internasional, Pato juga menunjukkan bakatnya. Ia membuat debut seniornya untuk tim nasional Brasil pada Maret 2008 dan mencetak gol di pertandingan pertamanya melawan Swedia. Ia merupakan bagian dari skuad Brasil yang memenangkan Piala Konfederasi FIFA 2009. Meskipun memiliki 27 caps dan 10 gol untuk Seleção Canarinho, ia tidak pernah mencapai potensi penuh yang diprediksi akan menjadi ikon jangka panjang timnas.
Warisan dan Kesimpulan
Kisah Alexandre Pato adalah sebuah peringatan tentang kerapuhan karier seorang atlet. Ia memulai dengan momentum yang luar biasa, digadang-gadang sebagai calon peraih Ballon d’Or dan pewaris takhta penyerang Brasil. Namun, cedera yang bertubi-tubi membuat karier yang seharusnya terus menanjak, terfragmentasi.
Meskipun demikian, Pato tetap merupakan pemain yang berhasil memenangkan gelar-gelar penting, termasuk Serie A bersama AC Milan, Copa do Brasil (2023) bersama São Paulo, Piala Dunia Antarklub FIFA dan Recopa Sudamericana bersama Internacional, serta Recopa Sudamericana dan Campeonato Paulista bersama Corinthians. Data menunjukkan total sekitar 500 penampilan dan 189 gol dalam karier klubnya.
Alexandre Pato akan selalu dikenang sebagai “Si Bebek” yang terbang tinggi di usia muda, namun terpaksa harus mendarat di banyak tempat berbeda, meninggalkan jejak prestasi yang berkilauan sekaligus rasa penasaran akan apa yang bisa ia capai seandainya fisiknya mampu mengimbangi bakat alaminya.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Raúl González Blanco: Sang Pangeran Bernabéu
Ketika Para Underdog Mengejutkan Dunia
Estadio Azteca: Kuil Sepak Bola Yang Menggelar Tiga Piala Dunia