Jakarta – Udara dingin dari pegunungan Pamir berhembus kencang di pagi hari. Di antara kabut tebal Dushanbe, seorang anak muda berlari menembus jalanan tanah dengan sepatu lusuh dan napas yang berat. Namanya Nurullo Aliev — bocah yang tak pernah berhenti bermimpi untuk terbang lebih tinggi dari batas langit Tajikistan. Bertahun-tahun kemudian, dunia mengenalnya dengan julukan “Tajik Eagle.”
Julukan itu bukan sekadar simbol kebanggaan nasional, melainkan cerminan dari keteguhan hati, kerja keras, dan disiplin luar biasa seorang petarung yang kini menjelma menjadi bintang muda tak terkalahkan di divisi Lightweight UFC. Dengan rekor sempurna 11 kemenangan tanpa kekalahan, Nurullo bukan hanya mengangkat nama dirinya, tetapi juga membawa semangat rakyat Tajikistan ke panggung terbesar seni bela diri campuran di dunia.
Lahir dari Tanah yang Membentuk Juara
Nurullo Aliev lahir pada 8 Desember 2000 di Dushanbe, ibu kota Tajikistan — sebuah negara kecil di Asia Tengah yang dikenal dengan medan pegunungan dan semangat rakyatnya yang kuat. Sejak kecil, Nurullo sudah terbiasa dengan kehidupan keras.
Ia tumbuh di lingkungan yang sederhana, di mana listrik sering padam dan alat latihan terbatas. Namun, dari keterbatasan itulah lahir tekad baja yang membentuk dirinya hari ini.
“Kami tidak punya apa-apa kecuali kemauan untuk berjuang,” ujar Nurullo dalam sebuah wawancara UFC. “Tapi bagi saya, itu sudah cukup. Saya tahu satu hal: saya harus keluar dari sini dengan cara berjuang.”
Ayahnya adalah mantan pegulat lokal, dan dialah yang pertama kali memperkenalkan Nurullo pada gulat gaya bebas (freestyle wrestling) saat usianya baru menginjak 9 tahun. Setiap pagi, ayahnya akan membangunkannya sebelum matahari terbit, lalu membawanya berlari ke bukit terdekat untuk latihan daya tahan.
Hari-hari berikutnya diisi dengan latihan grappling di lantai beton, menggunakan matras bekas dan sarung tangan yang sudah robek. Namun, bagi Nurullo, semua itu bukan kesulitan. Itu adalah bagian dari perjalanan menuju impian.
Dari Gulat ke Combat Sambo
Bakat alaminya di dunia gulat berkembang pesat. Di usia belasan tahun, Nurullo mulai menjuarai berbagai turnamen lokal dan kejuaraan junior di Tajikistan. Namun, ia merasa hanya berkompetisi di gulat tidak cukup. Ia ingin tantangan yang lebih besar — arena di mana semua gaya bela diri bisa bertemu.
Itulah saat ia mengenal Combat Sambo, seni bela diri khas Rusia yang menggabungkan gulat, judo, dan striking. Sambo menjadi fondasi sempurna bagi Aliev, mengasahnya menjadi petarung serba bisa. Dalam waktu singkat, ia mulai mendominasi kompetisi regional dan mencatat beberapa kemenangan spektakuler melalui teknik submission seperti rear-naked choke dan arm-triangle choke. Pelatihnya di Dushanbe menyadari bahwa Nurullo bukan sekadar atlet biasa.
“Dia punya mental juara,” ujar sang pelatih, “tidak peduli seberapa keras lawannya, dia selalu tetap tenang. Itulah yang membuatnya berbeda.”
Dari Asia Tengah ke Panggung Internasional
Ketika usianya menginjak 18 tahun, Nurullo memutuskan untuk masuk ke dunia Mixed Martial Arts (MMA). Ia memulai debut profesionalnya di ajang Octagon League, lalu berlanjut ke Eagles Fighting Championship — dua promosi terbesar di Asia Tengah.
Dalam setiap pertarungan, ciri khasnya langsung terlihat: kontrol penuh, takedown eksplosif, dan tekanan tanpa henti. Petarung-petarung yang lebih tua dan berpengalaman pun sering kali kewalahan menghadapi intensitas Nurullo. Ia memanfaatkan teknik gulat untuk menjatuhkan lawan, lalu menekan mereka di tanah dengan gaya khas combat sambo — sebuah sistem bertarung yang menekankan kendali, kekuatan, dan presisi.
Selama dua tahun pertama karier profesionalnya, ia menyapu bersih semua lawan. Tak ada satu pun yang mampu menandingi daya tahan dan mentalitasnya. Beberapa kemenangan diraih lewat keputusan mutlak, lainnya lewat submission yang halus namun mematikan.
Dana White’s Contender Series dan Tiket ke UFC
Tahun 2022 menjadi titik balik dalam hidup Nurullo Aliev. Namanya masuk ke daftar Dana White’s Contender Series (DWCS) — ajang bergengsi di mana petarung muda dari seluruh dunia berjuang untuk mendapatkan kontrak di UFC.
Dalam pertandingan tersebut, Nurullo menghadapi Josh Wick, petarung Amerika dengan pengalaman tinggi di sirkuit regional. Namun, di atas kertas bukan berarti di atas kanvas. Nurullo tampil dominan sejak detik pertama — melakukan takedown cepat, menahan lawannya di posisi side control, dan menutup setiap ruang gerak dengan presisi luar biasa.
Pertarungan berlangsung tiga ronde penuh, dan meskipun tidak berakhir dengan KO atau submission, dominasinya begitu total hingga para juri memberikan kemenangan mutlak padanya. Presiden UFC, Dana White, terkesan dengan gaya bertarungnya yang disiplin dan efisien.
“Anak ini bukan hanya petarung,” ujar Dana White setelah acara. “Dia adalah mesin. Tekanannya konstan, kekuatannya luar biasa. Tajikistan harus bangga memiliki dia.”
Dengan kemenangan itu, Nurullo Aliev resmi menandatangani kontrak UFC, menjadi petarung Tajikistan pertama yang bergabung secara penuh dalam organisasi terbesar di dunia. Hari itu, bendera Tajikistan dikibarkan tinggi di Las Vegas — simbol dari impian yang telah menjadi kenyataan
Elang Tajik dengan Kendali dan Presisi
Julukan “Tajik Eagle” tidak diberikan tanpa alasan. Seperti elang yang mengawasi mangsanya dari langit, Nurullo selalu tenang, sabar, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Begitu celah muncul, ia menukik cepat, menekan, dan tidak memberi kesempatan lawan untuk melawan balik. Gaya bertarungnya merupakan perpaduan mematikan antara gulat Soviet klasik dan combat sambo modern.
Beberapa ciri khasnya termasuk:
-
- Tekanan Grappling Berkelanjutan: Lawan sering kali kehabisan stamina mencoba keluar dari kendalinya.
- Kontrol Posisi dan Transisi Cepat: Ia selalu berada di posisi dominan tanpa memberi ruang serangan balik.
- Teknik Ground and Pound: Serangan di atas kanvas yang presisi, menghukum lawan tanpa kehilangan keseimbangan.
- Striking Fungsional: Ia menggunakan pukulan bukan hanya untuk menyerang, tetapi untuk membuka jalan takedown.
- Disiplin Taktikal: Jarang terburu-buru, selalu mengikuti rencana pertarungan hingga akhir ronde.
Nurullo bukan petarung yang bergantung pada keberuntungan atau KO instan. Ia membangun kemenangan langkah demi langkah — dengan sains, disiplin, dan keuletan.
Rekor dan Prestasi Nurullo “Tajik Eagle” Aliev
-
- Nama Lengkap: Nurullo Aliev
- Julukan: Tajik Eagle
- Tanggal Lahir: 8 Desember 2000
- Tempat Lahir: Dushanbe, Tajikistan 🇹🇯
- Usia: 24 tahun
- Organisasi: Ultimate Fighting Championship (UFC)
- Divisi: Lightweight (155 lbs / 70 kg)
- Gaya Bertarung: Gulat dan Combat Sambo
- Rekor Profesional: 11–0 (11 kemenangan, 0 kekalahan)
- Debut UFC: 2023 – Kemenangan mutlak atas Rafael Alves
- Pencapaian: Lulusan DWCS 2022 – Petarung Tajik pertama di UFC
Tenang di Luar, Mematikan di Dalam Oktagon
Di luar arena, Nurullo dikenal sangat pendiam. Ia jarang tampil di media sosial, tidak banyak bicara, dan lebih memilih berbicara dengan aksinya di oktagon. Ia menggambarkan dirinya sebagai “orang biasa dengan mimpi luar biasa.”
“Saya tidak perlu berbicara untuk membuktikan siapa saya,” katanya dalam sesi wawancara UFC. “Saya akan berbicara melalui pertarungan saya. Setiap kali masuk oktagon, Nurullo membawa bendera Tajikistan di pundaknya.
Ia sadar, di balik setiap pertarungan yang ia menangkan, ada jutaan anak muda dari negaranya yang bermimpi sepertinya. Itulah mengapa setiap kemenangan memiliki makna lebih besar daripada sekadar rekor pribadi — itu adalah kemenangan bagi bangsanya.
Elang Muda yang Siap Terbang Lebih Tinggi
Dengan usia baru 24 tahun dan rekor sempurna 10–0, Nurullo Aliev kini disebut sebagai salah satu prospek paling menjanjikan di divisi Lightweight UFC.
Gaya bertarungnya yang efisien, ditambah kemampuan adaptasi yang luar biasa, membuat banyak analis yakin bahwa ia bisa mencapai peringkat 10 besar dalam waktu dekat.
Beberapa pengamat bahkan membandingkannya dengan Khabib Nurmagomedov karena latar belakang gulat dan pendekatan taktisnya. Namun Nurullo tetap menolak perbandingan itu.
“Saya menghormati Khabib,” katanya, “tapi saya tidak ingin menjadi dia. Saya ingin menjadi Nurullo Aliev — elang dari Tajikistan.” Dengan kerja keras, fokus, dan filosofi bertarungnya yang kuat, Nurullo siap mengukir sejarah baru bagi negaranya.
Ia bukan hanya petarung, tetapi ikon kebanggaan nasional dan inspirasi bagi generasi muda Tajikistan yang bermimpi untuk terbang lebih tinggi.
Nurullo Aliev, Elang yang Terbang dari Gunung Tajikistan ke Langit UFC
Kisah Nurullo “Tajik Eagle” Aliev adalah kisah tentang harapan, ketekunan, dan keberanian untuk bermimpi besar. Dari anak kecil yang berlatih dengan alat seadanya di Dushanbe, kini ia berdiri di bawah sorotan lampu oktagon UFC, membawa bendera negaranya dengan penuh kebanggaan.
Setiap langkahnya adalah pengingat bahwa juara sejati tidak dilahirkan di tempat nyaman — mereka ditempa di tanah keras, di bawah tekanan, dan dengan tekad untuk tidak pernah menyerah.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Tiga Klub Liga Inggris Ingin Pulangkan Ruben Loftus-Cheek
Lepas Guehi Crystal Palace Datangkan Jayden Oosterwolde
Fenomena WAGs: Pengaruh Budaya Pop Di Era Digital