Jakarta – Lahir pada 16 Januari 1992 di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, Don’Tale Mayes tumbuh sebagai sosok dengan energi yang meluap-luap sejak kecil. Dikenal dengan postur tubuh tinggi besar dan kepribadian keras kepala, ia kerap mencari saluran untuk menyalurkan agresi dan semangat kompetitifnya.
Ketertarikan pada dunia bela diri muncul bukan dari ambisi besar, melainkan dari kebutuhan untuk menemukan arah hidup. Mayes mulai berlatih kickboxing dan gulat di usia muda — dua disiplin yang kemudian menjadi fondasi kuat bagi kariernya di dunia Mixed Martial Arts (MMA).
Seiring waktu, olahraga yang awalnya hanya menjadi pelarian berubah menjadi obsesi. Latihan demi latihan memperlihatkan potensi luar biasa dalam dirinya — kekuatan fisik di atas rata-rata, kecepatan untuk ukuran tubuh besar, serta naluri menyerang yang alami. Dari situlah perjalanan panjang menuju Ultimate Fighting Championship (UFC) dimulai.
Perjalanan Menuju MMA Profesional
Don’Tale Mayes memulai karier profesional MMA-nya pada tahun 2016, dan dengan cepat menunjukkan kapasitasnya sebagai petarung heavyweight yang berbahaya. Berbekal kombinasi striking keras dan kontrol clinch, ia dengan cepat mencatat kemenangan beruntun di sirkuit regional Amerika Serikat.
Ia kemudian mulai menarik perhatian promotor besar dan mendapatkan kesempatan bertarung di Dana White’s Contender Series (DWCS) — ajang pencarian bakat yang menjadi pintu utama menuju UFC.
Menariknya, Mayes tidak langsung mendapatkan kontrak pada percobaan pertamanya. Ia tampil tiga kali di DWCS, memperlihatkan konsistensi dan daya tahan mental luar biasa. Meskipun sempat gagal di dua kesempatan awal, ia tidak menyerah dan terus memperbaiki performanya.
Akhirnya, pada DWCS musim ketiga tahun 2019, Mayes berhasil menunjukkan potensi sejatinya dengan kemenangan meyakinkan, yang membuatnya resmi dikontrak oleh UFC. Perjuangan panjang dari petarung regional hingga organisasi MMA terbesar dunia itu menjadi bukti tekad keras dan kesabarannya.
“Saya tidak pernah berpikir untuk berhenti. Setiap kekalahan hanyalah latihan berbayar menuju kemenangan besar,” ujar Mayes dalam sebuah wawancara pasca kontraknya dengan UFC diumumkan.
Perjalanan Seorang “Lord Kong”
Sejak debut resminya di UFC pada akhir 2019, Don’Tale Mayes telah menjadi bagian dari divisi Heavyweight, salah satu kelas paling brutal di dunia MMA. Dengan tinggi 198 cm dan jangkauan 206 cm, ia memiliki keunggulan fisik luar biasa — menjadikannya lawan yang menakutkan di octagon.
Mayes dikenal sebagai petarung dengan gaya orthodox yang mengandalkan tekanan jarak dekat, kombinasi pukulan berat, serta kemampuan clinch yang kuat. Ia sering memanfaatkan ukurannya untuk mengurung lawan di pagar octagon, sebelum melepaskan pukulan keras dari jarak pendek.
Dalam kariernya, Mayes telah mencatatkan 11 kemenangan profesional, 9 kekalahan, dan 1 no contest. Dari total kemenangan tersebut, 6 diraih melalui KO/TKO, memperlihatkan kemampuan striking-nya yang mematikan, sementara 4 kemenangan lainnya diraih lewat keputusan juri — bukti ketahanan fisik dan stamina yang solid di kelas berat.
Beberapa momen penting dalam perjalanan karier UFC-nya meliputi:
-
- Kemenangan TKO atas Josh Parisian – sebuah pertarungan yang memperlihatkan kontrol ground-and-pound khasnya.
- Pertarungan keras melawan Augusto Sakai dan Rodrigo Nascimento, yang memperlihatkan kemampuan bertahan dan daya tahan luar biasa.
- Kemenangan bersejarah di DWCS 2019 yang menjadi gerbang resminya menuju UFC.
Meski belum menjadi penghuni peringkat atas, Mayes telah membuktikan dirinya sebagai petarung tangguh yang bisa bersaing di salah satu divisi paling kompetitif di dunia.
Kekuatan, Tekanan, dan Ketangguhan
Don’Tale Mayes membawa gaya bertarung khas kelas berat — tekanan konstan dan kekuatan destruktif.
Sebagai petarung dengan postur menjulang dan kekuatan alami, ia menggunakan stance orthodox untuk menjaga keseimbangan antara agresi dan pertahanan.
Beberapa ciri khas gaya bertarungnya antara lain:
-
- Striking Bertenaga:
Mayes mengandalkan pukulan kanan lurus dan kombinasi uppercut yang sering menjadi senjata pamungkasnya. Lawan yang terlambat membaca ritme bisa langsung tumbang hanya dengan satu pukulan. - Clinch Control:
Latar belakang gulat memberinya kemampuan menekan lawan di dinding oktagon, mengontrol bahu, dan melepaskan serangan lutut pendek yang melelahkan. - Tendangan Berat:
Meski berpostur besar, ia kerap mengejutkan lawan dengan tendangan cepat ke kaki atau tubuh, hasil latihan panjang di dunia kickboxing. - Kesabaran dalam Pertarungan Panjang:
Mayes tahu kapan harus menahan agresi. Ia bisa menjaga stamina hingga ronde terakhir, sebuah keunggulan yang jarang dimiliki petarung heavyweight dengan gaya eksplosif.
- Striking Bertenaga:
Walau statistik menunjukkan bahwa ia jarang menggunakan submission, Mayes tetap menunjukkan peningkatan signifikan dalam pertahanan grappling dan transisi di ground, menjadikannya petarung yang lebih matang di setiap pertarungan.
Julukan “Lord Kong”: Simbol Kekuatan dan Dominasi
Julukan “Lord Kong” bukan hanya simbol fisik besar atau kekuatan brutal yang ia miliki, tetapi juga mencerminkan karakter dominan dan kepercayaan diri tinggi yang ia bawa ke dalam setiap laga.
Bagi Mayes, julukan itu adalah pengingat bahwa setiap kali ia masuk ke octagon, ia adalah raja di dalam kandang sendiri.
“Saya datang bukan untuk bertahan, saya datang untuk mendominasi,” katanya dalam salah satu wawancara UFC.
Julukan ini juga menjadi identitas yang lekat dengan dirinya — seorang petarung besar, keras, namun tetap memiliki kedisiplinan dan fokus tinggi dalam setiap pertarungan.
Rekor dan Prestasi
Hingga saat ini, Don’Tale Mayes mencatatkan rekor profesional:
-
- 11 kemenangan – 9 kekalahan – 1 no contest (11–9–1)
Rincian kemenangan:
-
- 6 kemenangan melalui KO/TKO
- 4 kemenangan melalui keputusan juri
- 1 kemenangan lainnya dengan hasil no contest
Prestasi dan perjalanan kariernya meliputi:
-
- Juara DWCS 2019 (mendapat kontrak resmi UFC)
- Latar belakang kompetitif dalam gulat dan kickboxing
- Beberapa kemenangan TKO spektakuler di panggung UFC
- Reputasi sebagai salah satu petarung heavyweight dengan jangkauan terpanjang (206 cm) di divisinya
Mentalitas dan Filosofi Bertarung
Di balik tubuh besar dan pukulan kerasnya, Don’Tale Mayes adalah pribadi yang introspektif dan disiplin. Ia sering membicarakan bagaimana seni bela diri mengubah hidupnya — dari anak muda yang sulit dikendalikan menjadi atlet profesional yang memiliki arah dan tujuan.
Mayes percaya bahwa pertarungan sejati bukan hanya melawan lawan di depan, tetapi juga melawan diri sendiri. Ia menjalani rutinitas latihan ketat, memfokuskan diri pada teknik striking dan ketahanan fisik untuk memperpanjang kariernya di divisi berat UFC yang penuh kompetisi.
“MMA memberi saya disiplin, rasa hormat, dan tanggung jawab. Setiap pertarungan adalah cermin dari kerja keras saya,” ujarnya dalam sesi media menjelang pertarungan UFC Vegas.
Potensi dan Pengalaman
Dengan usia 33 tahun, Don’Tale Mayes masih berada di masa puncak fisik seorang petarung heavyweight. Ia memiliki pengalaman cukup panjang, mental tangguh, serta keinginan kuat untuk memperbaiki setiap aspek permainannya.
Jika ia terus meningkatkan efisiensi dan mempertajam strategi bertarung, bukan tidak mungkin “Lord Kong” akan naik ke jajaran elite dalam beberapa tahun ke depan.
Mayes juga menjadi salah satu wajah menarik di divisi heavyweight modern — era di mana kekuatan fisik berpadu dengan teknik dan kecerdasan strategi. Dengan gaya bertarung agresif dan postur raksasa, ia tetap menjadi magnet bagi penggemar UFC yang menyukai duel keras di oktagon.
“Lord Kong” dari Louisville
Dari Louisville, Kentucky, hingga octagon UFC, perjalanan Don’Tale Mayes adalah kisah tentang ketekunan, keberanian, dan keinginan untuk berubah. Dengan tinggi 198 cm, jangkauan 206 cm, serta kombinasi gulat dan kickboxing, ia bukan sekadar petarung besar — tetapi simbol dari kerja keras dan transformasi pribadi.
Sebagai “Lord Kong,” ia membawa semangat perlawanan dan keyakinan bahwa kekuatan sejati lahir dari disiplin dan ketekunan. Dan di setiap pertarungan, ketika ia menutup jarak dan mulai menekan lawan di clinch, satu hal pasti — “Lord Kong” belum selesai berbicara di dunia UFC.
(PR/timKB).
Sumber foto: youtube
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Bayern Dapat Perlawanan Sengit Dari Union
Galatasaray Kontra Atletico Madrid Berakhir Tanpa Pemenang
Kalahkan Benfica, Juventus Pastikan Tempat Di Babak Selanjutnya