Jakarta – Di divisi lightweight UFC yang sesak oleh petarung komplet, Quillan Zane Salkilld muncul seperti cerita yang bergerak cepat: lahir di Pinjarra, Australia pada 28 Desember 1999, tumbuh jauh dari gemerlap pusat MMA dunia, lalu menembus oktagon dan langsung membuat orang mengernyit—bukan karena ia sekadar menang, tetapi karena caranya menang terasa “menghentak”. Di atas kertas, ia adalah petarung orthodox stance dengan rekor 10-1, termasuk 4 kemenangan KO/TKO dan 3 kemenangan submission—kombinasi yang menandakan satu hal: Salkilld bukan tipe yang menunggu keputusan juri menyelamatkan malamnya.
Namun, kisahnya justru menarik karena detail-detail kecil yang membuatnya manusiawi. Dalam satu liputan AAP, Salkilld bercerita tentang “musuh” selama fight camp: cookies—godaan manis yang harus ia tinggalkan demi tubuh yang “shredded” dan siap perang. Narasi sederhana itu terasa pas untuk menggambarkan dirinya: petarung yang hidup dari disiplin sehari-hari, bukan hanya sorotan pertandingan.
Dari Pinjarra, ia sempat menghabiskan masa kecil di Broome, lalu meniti jalur keras regional Australia hingga akhirnya menang kontrak UFC lewat Dana White’s Contender Series 2024. Setelah itu, ia debut di UFC 312 dan—seperti mimpi yang meledak—menghabisi lawan dalam 19 detik.
Profil singkat
-
- Nama lengkap: Quillan Zane Salkilld
- Tanggal lahir: 28 Desember 1999
- Tempat lahir: Pinjarra, Australia
- Divisi: Lightweight (155 lbs)
- Stance: Orthodox
- Rekor pro: 10-1 (4 KO/TKO, 3 submission, 3 keputusan)
Pinjarra, Broome, dan mentalitas anak Australia Barat
AAP menulis bahwa Salkilld lahir di Pinjarra (sekitar 80 km selatan Perth), tetapi menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Broome, kota resor yang jauh di wilayah Kimberley. Perpindahan dan jarak semacam itu sering membentuk daya tahan: kamu terbiasa dengan perjalanan panjang, rutinitas keras, dan kenyataan bahwa tidak ada yang datang dengan mudah.
Bila kita menarik benang ke gaya bertarungnya, ada sesuatu yang terasa “Australia Barat” sekali: langsung, tegas, dan tidak banyak drama. Ia menyerang seperti orang yang dibesarkan oleh jarak—kalau peluang terlihat, ia ambil. Kalau lawan goyah, ia tutup pintu.
Dari sirkuit regional ke sabuk
Sebelum UFC, nama Salkilld sudah bergaung di panggung lokal. Tapology mencatat ia berafiliasi dengan Luistro Combat Academy (Perth) dan mengalami satu kekalahan awal dalam karier profesionalnya—sebuah momen yang sering menjadi “titik didik” bagi petarung muda. Setelah itu, ia menumpuk kemenangan beruntun hingga membentuk narasi yang lebih besar: prospek yang matang, bukan sekadar talenta mentah.
Di jalur regional, petarung belajar satu hal yang jarang terlihat di highlight: cara menang saat semua orang menontonmu sebagai target. Kamu bukan lagi pemburu; kamu jadi orang yang diburu. Dan ketika Salkilld melaju ke panggung yang lebih tinggi, ia membawa kebiasaan itu—kebiasaan bertahan di bawah tekanan, lalu tetap menyerang.
Dana White’s Contender Series 2024
Dalam banyak obrolan penggemar, nama lawannya kadang tertukar, tetapi catatan resmi UFC menuliskan jelas: pada DWCS Season 8 Week 4 (September 2024), Salkilld mengalahkan Gauge Young lewat unanimous decision (30-27, 29-28, 29-28). Kemenangan itu bukan sekadar angka; itu stempel resmi bahwa ia layak masuk roster UFC.
Menariknya, cara ia menang di Contender Series memperlihatkan sisi yang kelak makin menonjol: ia tidak bergantung pada satu senjata. Ia bisa mengatur tempo, mengunci ronde, dan tetap tampil cukup meyakinkan untuk mengambil kontrak.
UFC 312: KO 19 detik yang langsung viral
Lalu datang malam yang mengubah semuanya: UFC 312: Du Plessis vs Strickland 2 di Sydney. Dalam debut UFC-nya (Februari 2025), Salkilld menghabisi Anshul Jubli dengan KO (right hand) pada 0:19 ronde pertama—sebuah KO yang begitu cepat hingga terasa seperti “cutscene” dalam video game: satu momen, satu kesalahan, selesai.
AAP juga mencatat momen itu menghadiahkannya bonus $50.000 dan—ironisnya—menciptakan masalah psikologis yang lucu sekaligus berat: bagaimana cara “menandingi” debut se-sempurna itu?
Di sinilah karakter Salkilld terlihat: ia tidak menjawab dengan slogan. Ia menjawab dengan disiplin. Ia bercerita tentang mengunci pola makan, menghindari makanan favorit—terutama cookies—demi memastikan tubuhnya siap untuk camp berikutnya.
UFC 316: menang “bukan dengan cara mudah”
Setelah KO 19 detik, jebakan terbesar adalah menjadi petarung yang dicap “hanya punya satu momen.” Namun pada UFC 316 (Juni 2025), Salkilld membuktikan ia bisa menang lewat jalur berbeda: ia mengalahkan Yanal Ashmouz via unanimous decision.
Yang menarik, data dan catatan pasca-event menyorot sisi yang tidak banyak orang duga dari seorang “striker agresif”: Salkilld mencoba 23 takedown (mendaratkan 8), salah satu angka percobaan takedown terbanyak dalam sejarah satu laga lightweight UFC. Ini bukan sekadar statistik; ini pernyataan bahwa ia sanggup mengubah rencana di tengah pertarungan dan tetap menang.
Dengan kata lain: jika KO debutnya membuat orang menoleh, kemenangan di UFC 316 membuat orang mulai menghitung-hitung—ini anak bisa jadi masalah untuk banyak orang.
UFC 321: Head kick KO yang “menutup lampu”
Puncak impresi berikutnya datang di UFC 321 (Oktober 2025) saat ia menghadapi veteran Nasrat Haqparast. Ini pertarungan yang tidak hanya besar karena nama lawannya, tapi juga karena cara Salkilld memenangkannya: KO/TKO ronde 1 pada 2:30, dengan detail resmi UFC Stats menyebut “Kick to Head at Distance.”
Media seperti Sportsnet menggambarkan momen itu sebagai high kick yang mendarat sempurna dan membuat Haqparast langsung tidak sadar.
Dan ada twist yang membuatnya makin sinematik: Cageside Press mencatat setelah laga itu, Salkilld mengaku sempat khawatir soal berat badan, tetapi akhirnya tetap “beres” dan mampu membuat momen besar. Kalimatnya yang terdengar liar—ingin membuat sesuatu yang “story-like”—menjelaskan satu hal: ia bukan hanya bertarung untuk menang, ia bertarung untuk meninggalkan jejak.
Gaya orthodox, agresif, dan “finisher yang punya dua pintu keluar”
Rekor Salkilld memberi gambaran yang rapi tentang identitasnya:
-
- 40% kemenangan lewat KO/TKO (4 KO)
- 30% kemenangan lewat submission (3 sub)
- 30% kemenangan lewat keputusan (3 dec)
Inilah mengapa ia berbahaya: ketika lawan bersiap menahan pukulan, ancaman submission mengintai; ketika lawan fokus membanting dan mengunci, striking-nya bisa “mematikan lampu” dalam sekejap. KO 19 detik di UFC 312 dan head kick di UFC 321 menjadi dua poster yang berbeda, tetapi pesannya sama: ia bisa mengakhiri pertarungan dari jarak, kapan saja.
Prestasi dan titik penting karier
-
- Kontrak UFC lewat DWCS Season 8 (2024): menang UD atas Gauge Young
- Debut UFC di UFC 312 (Feb 2025): KO atas Anshul Jubli dalam 19 detik
- UFC 316 (Jun 2025): menang UD atas Yanal Ashmouz, dengan volume takedown yang sangat tinggi
- UFC 321 (Okt 2025): KO/TKO ronde 1 atas Nasrat Haqparast via head kick (kick to head at distance)
“Cookie Monster” yang hidup dari disiplin kecil
Salkilld bukan tipe petarung yang menjual persona lewat kontroversi. Ia justru menarik karena hal-hal kecil: candaan tentang cookies, kejujuran soal kesulitan diet, dan cara ia menempatkan kemenangan sebagai hasil dari rutinitas yang membosankan—latihan, pemotongan berat, tidur, ulang lagi. Dalam AAP, ia bahkan menggambarkan perayaan idealnya setelah menang: makan “sepuasnya” dan menebus semua pantangan selama camp.
Detail seperti ini membuatnya mudah disukai: ia terlihat seperti orang yang benar-benar bekerja keras, lalu sesekali ingin hadiah sederhana. Dan di olahraga yang sering dipenuhi karakter “dibuat-buat”, kejujuran semacam itu terasa segar.
Dari prospek menjadi ancaman nyata di 155
Dalam tiga penampilan UFC yang tercatat (UFC 312, UFC 316, UFC 321), Quillan Zane Salkilld menunjukkan pola yang disukai UFC: menang cepat, menang panjang, lalu menang spektakuler atas nama besar. Ia bukan lagi sekadar “pendatang baru dari Australia Barat.” Ia sudah menjadi cerita yang bergerak naik—dengan gaya bertarung agresif, fondasi grappling yang nyata, dan keberanian mengambil peluang.
Dan jika ada satu hal yang paling menggambarkan fase awal kariernya di UFC, itu ini: Salkilld terlihat seperti petarung yang percaya bahwa setiap kesempatan harus terasa seperti cerita—dan ia sedang menulis bab-babnya dengan tinta yang keras.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda