Jakarta – Di peta Tiongkok, Heishui County di Sichuan bukanlah nama yang akrab di telinga fans MMA dunia. Ia lebih sering terdengar sebagai bagian dari lanskap pegunungan, wilayah yang dingin, jauh dari hiruk-pikuk kota-kota besar. Namun dari tempat itulah Rong Zhu lahir pada 7 Maret 2000—dan dari tempat yang sunyi itu pula, ia menumbuhkan sesuatu yang berisik: gaya bertarung yang keras, menekan, dan sering berujung pada ledakan KO.
Hari ini, Rong Zhu dikenal sebagai petarung Lightweight UFC, ber-stance orthodox, dengan reputasi sebagai striker agresif yang tak segan “mengajak perang” sejak menit pertama. Rekor profesionalnya berdiri di angka 27 menang – 6 kalah, dengan 15 kemenangan KO/TKO, 6 kemenangan submission, serta tambahan kemenangan lewat keputusan dan satu kemenangan diskualifikasi.
Tapi angka-angka itu hanya pintu masuk. Kisahnya justru terasa menarik karena penuh tikungan: ia sempat masuk UFC, tersandung oleh masalah timbangan dan kekalahan, terlempar keluar, lalu kembali lewat jalur yang lebih berat—Road to UFC—dan pulang membawa tiket kedua, plus pembuktian di panggung besar seperti UFC 312.
Profil singkat Rong Zhu
-
- Nama: Rong Zhu (茸主)
- Julukan lain: Little Yama
- Lahir: 7 Maret 2000, Heishui County, Sichuan, Tiongkok
- Divisi: Lightweight (155 lbs)
- Stance: Orthodox
- Tim/Latihan: tercatat pernah berafiliasi dengan Enbo Fight Club, American Top Team, dan City Kickboxing
- Rekor: 27–6 (15 KO/TKO, 6 submission)
Kalau kita merangkum Rong Zhu dalam satu kalimat: ia adalah petarung yang hidup dari momentum. Begitu ia “mencium” celah, ia akan menutup pintu keluar lawan—dengan pukulan, tekanan, atau kuncian ketika permainan bergeser ke bawah.
Akar cerita: Sanda sejak usia 12 dan “pintu” menuju MMA
Rong Zhu memulai perjalanan tarungnya dari Sanda (Sanshou), seni bela diri Tiongkok yang terkenal dengan kombinasi pukulan, tendangan, dan bantingan. Ia mulai berlatih sejak usia 12. Namun yang membuat kisahnya terasa manusiawi adalah bagian ini: ia pernah merasa “tidak berkembang” setelah beberapa tahun latihan—bahkan sempat ingin beralih ke olahraga lain.
Lalu datang momen kecil yang mengubah arah: ia menonton MMA di TV dan merasa terpanggil. Dari sana, Rong Zhu masuk ke lingkungan Enbo Fight Club, bahkan memulainya dari bawah—sebagai asisten dan partner latihan, termasuk membantu kebutuhan kecil seperti membawa air dan handuk, sambil menyerap atmosfer petarung profesional di sekelilingnya.
Banyak petarung bercerita tentang mimpi besar. Rong Zhu bercerita tentang kerja kecil yang konsisten—dan justru di sanalah fondasi mentalnya dibangun.
Debut profesional 2016: bertarung sejak remaja, naik lewat panggung regional
Rong Zhu menjalani debut profesional pada 2016, hanya beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-16. Ia kemudian menumpuk pengalaman cepat di skena regional Tiongkok dan mengoleksi rekor kuat sebelum UFC—termasuk kiprah penting di Wu Lin Feng (WLF).
Di WLF, ia bukan sekadar numpang lewat: Rong Zhu tercatat menjadi juara Lightweight WLF dan bahkan melakukan tiga kali defense. Ini penting, karena pada tahap itu ia bukan hanya petarung “prospek”, melainkan petarung yang sudah terbiasa menanggung beban sebagai juara—menjadi target, bukan pengejar.
Gaya bertarungnya mulai terlihat jelas: tempo tinggi, striking agresif, tetapi perlahan ia menambahkan layer grappling—sesuatu yang kelak menjadi pembeda saat ia harus menang bukan hanya dengan keras, melainkan dengan cerdas.
Bab UFC pertama: masuk cepat, lalu belajar mahal
Rong Zhu pertama kali masuk UFC pada 2021. Ia debut melawan Kazula Vargas di UFC 261, tetapi kalah melalui keputusan juri.
Lalu datang kemenangan yang membuat namanya ramai dibahas: ia menang TKO ronde tiga atas Brandon Jenkins (pertarungan catchweight karena ia melewati batas timbangan). Kemenangan itu memperlihatkan dua sisi Rong Zhu sekaligus—talenta finishing yang nyata, namun juga masalah profesional yang berbahaya: kedisiplinan weight cut.
Masalah itu berulang. Saat menghadapi Ignacio Bahamondes, ia kembali melewati batas timbangan dan akhirnya kalah melalui submission pada ronde tiga. Dalam waktu singkat, ia belajar bahwa di UFC, bakat saja tidak cukup. Ada detail yang bisa mengubah karier: timbangan, persiapan, dan disiplin.
Setelah periode itu, ia keluar dari UFC—dan bagi banyak petarung, bab seperti ini bisa menjadi penutup. Tetapi bagi Rong Zhu, itu justru menjadi jeda untuk membangun ulang.
Bangkit di luar UFC: menang lagi, lalu memilih jalur paling berat—Road to UFC
Setelah keluar, Rong Zhu bertarung di UAE Warriors dan menang TKO atas Felipe Maia, seolah mengumumkan: ia belum selesai.
Kemudian ia masuk ke jalur yang tidak memberi ruang untuk malas: Road to UFC Season 2. Di turnamen ini, ia tampil seperti versi yang lebih matang.
Perempat final: mengalahkan Hong Seong-chan via TKO ronde satu.
Semifinal: mengalahkan Kim Sang-wook lewat keputusan mutlak (unanimous decision)—tanda ia bisa menang dalam perang tiga ronde.
Final: mengalahkan Shin Haraguchi dengan rear-naked choke ronde tiga, memastikan diri menjadi juara turnamen lightweight Road to UFC Season 2 dan kembali mendapat jalan ke UFC.
Jika KO/TKO adalah “cap” pertama dalam kariernya, maka final Road to UFC itu menegaskan cap kedua: ia bisa menyelesaikan pertarungan dengan grappling ketika situasi menuntut. Rekornya yang memuat 6 kemenangan submission terasa masuk akal—Rong Zhu bukan striker satu dimensi.
Kembali ke UFC
Bab “return” jarang berjalan mulus. Rong Zhu sempat kalah lewat TKO doctor stoppage melawan Chris Padilla (akibat luka). Tetapi ia tidak berhenti di situ.
Lalu datang salah satu panggung penting: UFC 312 pada Februari 2025. Rong Zhu menghadapi pendatang baru Kody Steele dan menang lewat unanimous decision. Pertarungan itu bahkan mendapatkan Fight of the Night, menandakan betapa intensnya duel tersebut dan betapa Rong Zhu mampu tampil atraktif tanpa harus selalu menyelesaikan lewat KO.
Kemenangan di UFC 312 itu terasa seperti validasi dari versi baru Rong Zhu: tetap agresif, tetap “lapar”, tetapi lebih rapi—dan lebih siap menghadapi ritme UFC yang sering memaksa petarung menguasai semua fase.
Prestasi dan hal menarik yang membuat Rong Zhu beda
1. Finisher sejati di lightweight
Dengan 15 KO/TKO dan 6 submission, Rong Zhu termasuk tipe petarung yang tidak sekadar “menang angka”—ia punya naluri mengakhiri.
2. Juara WLF dengan tiga defense
Pengalaman menjadi juara dan mempertahankan gelar di WLF membuatnya terbiasa menjadi pusat target, bukan penumpang.
3. Juara Road to UFC Season 2
Jalur ini bukan jalan pintas. Ia harus menang beberapa kali, melawan tekanan, lalu mengunci final dengan submission.
4. Fight of the Night di UFC 312
Bukan hanya menang, tetapi menang dengan cara yang membuat publik dan promotor menoleh.
“Little Yama” dan fase baru yang lebih lengkap
Rong Zhu seperti petarung yang ditempa oleh dua hal: bakat menyerang dan pelajaran keras tentang detail. Ia datang dari Sanda, naik dari WLF, merasakan dinginnya UFC, jatuh karena detail, lalu kembali dengan jalur turnamen yang menguji mental.
Kini, di divisi lightweight UFC yang padat dan brutal, Rong Zhu punya satu bekal yang selalu dicari promotor: ia membuat pertarungan terasa hidup—karena ia bertarung untuk menang, tetapi juga bertarung untuk menyudahi. Dan justru di situlah “Little Yama” terlihat paling berbahaya: ketika ia bukan hanya beringas, tapi juga matang.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda