Ryohei Kurosawa “Ken Asuka”: Petarung ONE Championship

Piter Rudai 06/01/2026 6 min read
Ryohei Kurosawa “Ken Asuka”: Petarung ONE Championship

Jakarta – Di Jepang, ada jalur yang jauh lebih sunyi daripada sorot lampu UFC atau hiruk-pikuk arena besar Asia. Jalur itu bernama Shooto dan Pancrase—dua “sekolah tua” yang mengajarkan satu hal: kalau kamu ingin diakui, kamu harus menang melawan orang-orang yang juga lapar, teknis, dan tidak mudah panik ketika adu pukul berubah menjadi adu napas.

Dari jalur itulah Ryohei Kurosawa lahir sebagai petarung yang reputasinya dibangun bukan oleh satu momen viral, melainkan oleh rangkaian pertarungan panjang—penuh keputusan sulit, kemenangan cepat, dan periode hening ketika cedera memaksanya berhenti. Dunia mengenalnya dengan nama panggung “Ken Asuka” (飛鳥拳), ring name yang terasa seperti karakter—singkat, keras, dan tajam. Namun dalam beberapa fase karier, ia juga kembali memakai nama aslinya: Kurosawa Ryohei, seolah ingin bilang bahwa ia tak lagi membawa topeng, hanya membawa kemampuan.

Kini, setelah mengoleksi lebih dari 20 kemenangan dan menumpuk banyak penyelesaian KO/TKO, Kurosawa membuka bab baru: strawweight MMA di ONE Championship.

Profil singkat Ryohei Kurosawa

    • Nama: Ryohei Kurosawa (黒澤亮平)
    • Julukan / ring name:Ken Asuka (飛鳥拳)
    • Asal: Matsudo, Chiba, Jepang (basis Chiba; berlatih di lingkungan Matsudo)
    • Tinggi: sekitar 163 cm (5’4”)
    • Divisi di ONE:Strawweight MMA (ONE menuliskan limit 124.6 lbs / 56.5 kg untuk atlet di halaman profilnya)
    • Tim:The Blackbelt Japan
    • Rekor pro (banyak database):20–4

Catatan penting soal tanggal lahir: sebagian sumber internasional seperti Sherdog menulis 10 Juni 1993  , tetapi sumber Jepang (profil Pancrase dan arsip Shooto) menuliskan 10 Mei 1993.

Karena perbedaan ini, banyak artikel memilih menyebut “1993” dan kota asalnya, sambil merujuk tanggal sesuai database yang dipakai.

Paraestra Matsudo, lalu Shooto—jalan cepat seorang “anak emas”

Dalam catatan Shooto, Kurosawa (saat masih memakai ring name Asuka Ken / Ken Asuka) disebut berasal dari Paraestra Matsudo, salah satu ekosistem gym yang kuat di Jepang. Pada fase awal, kariernya seperti rel kereta yang lurus: cepat, rapi, dan terus naik.

Shooto bahkan mencatatnya sebagai:

    • Juara Rookie (新人王) Flyweight 2013
    • Juara Infinity League Flyweight 2014 (tak terkalahkan)

Momen “Rookie 2013” itu penting secara budaya. Di Jepang, status rookie champion sering menjadi semacam cap: petarung ini bukan sekadar prospek—ia adalah prospek yang sudah melewati turnamen, tekanan, dan pertandingan penentu.

Salah satu hasil yang sering disebut dari periode tersebut adalah final turnamen rookie yang ia menangi atas Sho Nishida. Banyak catatan menuliskan Kurosawa menang via guillotine choke di ronde kedua.

Menariknya, ini memberi petunjuk sejak dini: meski publik kemudian lebih sering menyebut Kurosawa sebagai “precision striker”, ia tidak buta di grappling. Ia bisa mengakhiri laga di ground ketika peluang terbuka.

“Sniper strikes” dan luka pertama—ketika Junji Ito mematahkan laju

Setiap petarung yang melesat cepat biasanya akan bertemu malam yang memaksanya menatap ulang identitasnya. Kurosawa mengalami itu ketika menghadapi Junji “Sarumaru” Ito—nama yang berulang kali bertaut dengan takdir Kurosawa.

Combat Press menuliskan bahwa Kurosawa sempat tak terkalahkan di awal karier, lalu laju itu terhenti ketika bertemu Junji Ito pada 2015.  

Di momen seperti ini, banyak prospek runtuh: mereka mulai ragu, mengubah gaya, atau kehilangan keberanian untuk menekan. Kurosawa memilih rute lain—ia kembali membangun, memperbaiki, lalu melompat lebih tinggi.

Puncak Shooto 2016—merebut takhta melawan Ryuto Sawada

Tahun 2016 menjadi tahun “penetapan” Kurosawa sebagai petarung elite Jepang. Ia bertemu Ryuto “Dragon Boy” Sawada dalam perebutan gelar Shooto, dan menang TKO (punches) pada ronde kedua (waktu 4:41 tercatat di beberapa catatan event).

Daftar juara Shooto bahkan menuliskan Kurosawa sebagai Shooto World Strawweight Champion (waktu itu kelas tersebut sebelumnya dikenal sebagai flyweight dalam sistem lama Shooto).

Ini fase ketika label “pukulan cepat dan akurat” mulai melekat kuat: Kurosawa sering digambarkan sebagai petarung yang menembak serangan seperti penembak jitu—tidak selalu liar, tetapi tajam ketika menemukan timing.

Cedera, sabuk yang lepas, dan hening 2,5 tahun—uji mental seorang juara

Namun puncak di Jepang sering datang bersama biaya yang mahal. MMA Planet menulis bahwa Kurosawa pernah berada di puncak Shooto, tetapi kemudian cedera membuatnya tidak bisa mempertahankan gelar dan ia dipaksa melepas sabuk.

Periode setelah itu menjadi sunyi: ada jeda panjang—sekitar 2,5 tahun—yang kerap menjadi zona berbahaya bagi petarung. Banyak yang tidak kembali sama, bukan karena fisik semata, tetapi karena ritme bertarung yang hilang.

Di titik itulah ada detail menarik: beberapa media Jepang menyoroti bahwa ia kembali memakai nama aslinya (Kurosawa Ryohei) setelah sebelumnya dikenal luas sebagai Asuka Ken. Gonkaku menulis soal perubahan nama itu dan bagaimana ia pernah menapaki “jalur elite” Shooto: rookie champion, juara Infinity League, sampai juara dunia.

Shooto sendiri dalam salah satu pengumuman menyebut bahwa ia kembali dan “comeback” itu ditandai dengan KO cepat, seolah ia ingin membuktikan bahwa ledakan lamanya belum padam.

2021—bertemu “Sarumaru” lagi, dan pelajaran pahit di perebutan interim

Takdir mempertemukannya lagi dengan Junji Ito pada 2021, kali ini dalam perebutan gelar interim Shooto. Hasilnya pahit: Kurosawa kalah via rear-naked choke di ronde pertama.

Kekalahan ini sering menjadi titik belok penting untuk petarung tipe striker: apakah ia akan menutup diri dari risiko grappling, atau justru memperkaya permainan ground untuk mencegah skenario yang sama? Melihat apa yang terjadi setelahnya, Kurosawa tampaknya memilih opsi kedua: ia membangun ulang, lalu memburu sabuk lain.

Pancrase—menjadi Raja Strawweight, dengan KO yang “mengunci” reputasi

Jika Shooto adalah sekolah, maka Pancrase adalah panggung pembuktian. Dan di Pancrase, Kurosawa bukan sekadar numpang lewat—ia menjadi pusat cerita.

Halaman profil resmi Pancrase menuliskan Kurosawa sebagai KING OF PANCRASIST (Strawweight) generasi ke-4, dan di sana juga tercantum rangkaian kemenangan kunci:

    • Menang KO atas Takafumi Ato (Little) pada Pancrase 342 (perebutan interim)
    • Menang TKO atas Yoshiki Uematsu pada Pancrase 352 (title fight)

Yang membuat fase Pancrase ini terasa “Kurosawa banget” adalah cara ia menang: ada keputusan yang rapi, tetapi juga ada KO/TKO yang seolah datang dari tombol akselerasi—ketika momen muncul, ia tidak ragu menutup pertarungan.

ONE sendiri kemudian merangkum fase ini dengan cukup tegas: Kurosawa adalah petarung 20–4 yang pernah menjadi juara Pancrase strawweight, datang ke ONE setelah lima kemenangan beruntun, dengan empat finis di bawah dua ronde.

Ini bukan narasi petarung yang “baru belajar panggung besar”. Ini narasi petarung matang yang datang membawa sabuk, momentum, dan kebiasaan menang.

ONE Championship—debut yang dewasa, lalu pintu besar terbuka

Masuk ONE bukan sekadar pindah organisasi; ini pindah ekosistem. Di ONE, ukuran cage/rope ring, ritme event, dan profil lawan dari berbagai negara membuat adaptasi jadi bagian dari ujian.

Debut Kurosawa di ONE tercatat pada ONE Friday Fights 124, melawan Jayson “Dumagmang Warrior” Miralpez, dan ia menang unanimous decision.

Kemenangan keputusan di debut itu menarik karena bertolak belakang dengan stereotip “Ken Asuka si KO”. Justru di situ terlihat kedewasaan: Kurosawa tidak memaksakan highlight. Ia mengambil kemenangan bersih, memastikan tiga ronde miliknya, lalu pulang dengan tangan terangkat—cara paling aman untuk menanam kaki di organisasi baru.

Tak lama setelah itu, ONE mengumumkan langkah berikutnya yang jauh lebih besar: Kurosawa dijadwalkan menghadapi Bokang Masunyane di ONE Fight Night 39, pertarungan yang oleh ONE sendiri disebut sebagai duel strawweight yang “pivotal”.

Agresif, eksplosif, “sniper strikes”, tapi cukup komplet untuk MMA modern

Kamu menyebut Kurosawa sebagai striker agresif dan eksplosif dengan KO/TKO berkat pukulan cepat dan akurat, plus beberapa submission. Jika kita lihat distribusi rekornya di beberapa database, gambaran itu nyambung: ia punya porsi KO/TKO yang besar, tapi juga punya kemenangan submission dan banyak laga yang bisa ia menangkan lewat kontrol.

MMA-Japan bahkan pernah menggambarkannya sebagai precision striker—petarung yang ingin ruang dan timing untuk melepaskan serangan “sniper”.

Artinya, dalam duel tertentu, kunci untuk mengalahkan Kurosawa biasanya adalah mematahkan ruang: menekan, memaksa adu jarak dekat, dan mengacaukan ritme. Di sisi lain, ketika Kurosawa berhasil menjaga jarak idealnya, ia bisa terlihat seperti petarung yang “menembak duluan”—lawan baru sadar ketika serangan sudah masuk.

Yang membuatnya menarik untuk ONE adalah keseimbangan: ia tidak hanya striker. Sejak awal ia sudah punya bukti submission (misalnya guillotine di turnamen rookie), dan dalam perjalanan panjang di Jepang, ia belajar bahwa grappling bukan opsi tambahan—melainkan syarat agar bisa bertahan di puncak.

Ring name yang jadi karakter, lalu kembali ke nama asli

Ada nuansa psikologis yang halus dari perjalanan Kurosawa. Ia memulai sebagai “Asuka Ken”, lalu di fase comeback ia kembali memakai nama asli. Shooto sendiri menyinggung perubahan itu, dan menyebut bagaimana ia sempat “elit” lalu dihantam cedera dan jeda panjang sebelum benar-benar kembali.

Untuk banyak petarung Jepang, ring name adalah identitas panggung. Ketika petarung kembali memakai nama asli, kadang itu terasa seperti deklarasi: tidak ada gimmick, tidak ada romantisasi—hanya karier, hanya pekerjaan, hanya kemenangan berikutnya.

Di ONE, “Ken Asuka” datang bukan untuk nostalgia

Ryohei Kurosawa bukan kisah instan. Ia adalah kisah petarung Jepang yang pernah menjadi juara, kehilangan sabuk karena cedera, hilang cukup lama hingga orang bertanya apakah ia akan kembali, lalu kembali—dan menjadi juara lagi di organisasi lain. Kini ia berada di ONE, menang di debut, dan langsung diarahkan ke laga besar.

Jika ada satu alasan mengapa ia berbahaya di strawweight ONE, itu karena kombinasi berikut: pengalaman title fight, kebiasaan menang di bawah tekanan, dan senjata KO yang tetap hidup—bahkan ketika ia memilih untuk menang lewat keputusan.

Dan di titik ini, “Ken Asuka” terasa bukan sekadar julukan. Ia terasa seperti peringatan.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...