Jakarta – Di Thailand, banyak petarung muda tumbuh dengan satu mimpi yang sama: bertarung di ring besar, di bawah lampu terang, di depan penonton yang tahu betul mana teknik yang “murni” dan mana yang sekadar ramai. Bagi Petgarfield Jitmuangnon, mimpi itu terasa makin nyata ketika ia melangkah ke Lumpinee Boxing Stadium—panggung yang bukan sekadar arena, tapi semacam “ruang ujian” bagi reputasi seorang nak muay.
Petgarfield lahir pada 21 Juni 2002 dan kini berusia 23 tahun. Dalam sejumlah database pertarungan, ia dicatat berasal dari Yang Talat, Kalasin, wilayah yang lekat dengan karakter petarung Isan: ulet, keras kepala, dan tidak mudah mundur saat pertarungan berubah jadi adu nyali.
Ia bernaung di Jitmuangnon Gym, dan di ONE Championship namanya muncul lewat jalur yang paling “jujur”: ONE Friday Fights—serial pertarungan yang menuntut petarung tampil agresif, karena tiga ronde bisa habis sebelum kamu sempat “membaca” lawan dengan nyaman.
Yang membuat Petgarfield menarik bukan hanya hasil menang-kalahnya, melainkan cara ia bertarung. Ia dikenal sebagai petarung orthodox yang membawa gaya Muay Thai tradisional: kombinasi pukulan-tendangan yang langsung, tekanan konstan, serta clinch yang kuat untuk mengunci ritme dan memaksa lawan bekerja di area yang paling melelahkan. Dan bila kamu mengikuti rekam jejaknya di Friday Fights, kamu akan melihat satu benang merah: Petgarfield bukan tipe petarung yang mencari jalan pintas—ia memilih jalur yang penuh gesekan.
Profil singkat Petgarfield Jitmuangnon
-
- Nama: Petgarfield Jitmuangnon
- Lahir: 21 Juni 2002 (usia 23)
- Asal (dicatat di beberapa database): Yang Talat, Kalasin, Thailand
- Tinggi: 173 cm (5’8”)
- Stance: Orthodox
- Gym/Tim: Jitmuangnon Gym
- Panggung: ONE Championship (ONE Friday Fights – Muay Thai)
- Catatan ONE (Friday Fights): 2 menang – 2 kalah
Catatan berat di ONE Friday Fights sering berupa catchweight (dalam satuan lbs). Petgarfield tampil di angka sekitar 138–142 lbs dalam beberapa pertarungannya.
Kalasin dan “cara bertarung yang tidak dibuat-buat”
Ada petarung yang terlihat seperti produk strategi: aman, rapi, minimal risiko. Petgarfield—setidaknya dari apa yang terlihat di Friday Fights—lebih seperti produk dari kebiasaan bertarung. Ia maju, menekan, dan tidak ragu memasuki jarak klinis Muay Thai: jarak di mana tulang kering bertemu paha, siku mengintip dari sela guard, dan clinch jadi perang kecil yang menentukan napas.
Kalau ada satu kata yang paling pas menggambarkan Petgarfield, itu “determinasi”. Karena rekam jejaknya di ONE Friday Fights memperlihatkan spektrum lengkap: menang keputusan setelah perang tiga ronde, kalah angka dalam duel yang rapat, sampai kekalahan TKO cepat yang mengingatkan betapa tipisnya batas di sarung tangan kecil ONE.
Jitmuangnon Gym: fondasi klasik yang membentuk gaya orthodox
Di profil resminya, ONE menuliskan Petgarfield berada di Jitmuangnon Gym.
Gym besar seperti ini biasanya menanamkan fondasi yang sama pada petarungnya: disiplin jarak, timing tegas, dan clinch yang bukan sekadar “mengunci”, tapi menghasilkan (poin, kontrol, dan kerusakan).
Petgarfield juga tercatat bertarung orthodox, gaya yang secara klasik membuat kombinasi Muay Thai terasa sangat “langsung”: jab untuk membuka, cross untuk memaksa reaksi, lalu rangkaian tendangan (low kick/body kick) untuk menggerus keseimbangan lawan.
Namun yang menarik: gaya orthodox Petgarfield di Friday Fights tidak terlihat pasif. Ia cenderung menjadi pihak yang mengambil inisiatif—mendorong tempo lebih cepat, memaksa lawan memutuskan: bertukar di tengah, atau terseret ke clinch.
ONE Friday Fights: empat laga yang membentuk narasi Petgarfield
Di halaman atlet ONE, Petgarfield tercatat punya empat hasil di ONE: dua kemenangan, dua kekalahan.
Empat laga itu bisa dibaca seperti mini-seri yang membentuk karakter seorang petarung muda.
1. “Perang klasik” vs Sho Ogawa: menang lewat kerja, bukan kebetulan
Tanggal 25 Agustus 2023, Petgarfield bertemu Sho Ogawa di ONE Friday Fights 30 pada 138 lbs. Hasilnya: unanimous decision untuk Petgarfield.
ONE bahkan menyebut laga ini sebagai “classic”—sebuah perang yang membuat keduanya “meninggalkan segalanya di ring”. Dalam narasi ONE, Petgarfield menang karena berhasil outwork lawannya: bekerja lebih banyak, lebih konsisten, dan lebih tahan dalam tiga ronde.
Kemenangan seperti ini biasanya punya efek besar bagi petarung muda: ia belajar bahwa kemenangan bukan selalu soal momen KO, tapi soal mengunci ronde lewat volume, kontrol jarak, dan clinch yang membuat lawan kehilangan waktu untuk membangun serangan.
2. Mengalahkan Numpangna: bukti kontrol di laga 3 ronde
Dua bulan kemudian, 27 Oktober 2023, Petgarfield kembali menang—kali ini melawan Numpangna Eaglemuaythai di ONE Friday Fights 38 pada 140 lbs, juga via unanimous decision.
Menang dua kali lewat keputusan bisa berarti satu hal: kamu punya “mesin” untuk tiga ronde. Dan untuk petarung yang dikenal agresif, ini penting—karena agresif yang cerdas berbeda dari agresif yang boros. Di titik ini, Petgarfield terlihat seperti petarung yang mulai memahami cara menekan tanpa kehilangan struktur.
3. Ujian keras vs Buakhiao Por Paoin: kalah angka di 141 lbs
Lalu datang bab yang menguji: 16 Agustus 2024, Petgarfield menghadapi Buakhiao Por Paoin di ONE Friday Fights 75 pada 141 lbs, dan kalah via unanimous decision.
Kekalahan keputusan seperti ini sering terasa “menyakitkan” karena tidak ada titik akhir dramatis—hanya tiga ronde yang ditutup oleh angka. Tapi di level Friday Fights, kekalahan seperti ini biasanya mengajarkan detail yang paling mahal: kapan harus memaksakan clinch, kapan harus keluar; kapan tendangan jadi senjata, kapan justru membuka celah.
Dan ketika seorang petarung muda mengalami kekalahan seperti ini, ia pulang membawa dua hal: rasa tidak puas—dan peta perbaikan.
4. Soner Sen: kekalahan TKO ronde 1 yang jadi alarm terbesar
Puncak ujian paling keras terjadi pada 6 Desember 2024, saat Petgarfield menghadapi Soner “Golden Boy” Sen di ONE Friday Fights 90 (tercatat di sekitar 142 lbs). Petgarfield kalah via TKO ronde 1 pada 2:47.
Di Friday Fights, kekalahan cepat bukan sekadar “hari buruk”—itu alarm. Karena format 3 ronde dan sarung tangan kecil tidak memberi ruang untuk terlambat panas. Kalah TKO cepat biasanya memaksa petarung mengevaluasi hal-hal paling mendasar: masuk-keluar jarak, guard saat menekan, cara memotong sudut tanpa “masuk lurus”, dan disiplin defensif ketika agresif.
Namun justru di titik seperti ini, kita biasanya bisa melihat masa depan seorang petarung: apakah ia hanya berani saat semuanya lancar, atau ia bisa menyusun ulang dirinya setelah terpukul.
Membaca gaya Petgarfield: tradisional, agresif, dan berorientasi “membuat lawan kerja”
Dari empat laga itu, terlihat bahwa Petgarfield punya “DNA” Muay Thai yang tegas:
-
- Tekanan maju: ia tidak menunggu ronde lewat.
- Tendangan sebagai penentu jarak: di Muay Thai tradisional, tendangan bukan hanya serangan—itu pagar yang membuat lawan ragu melangkah.
- Clinch sebagai tempat mengambil alih kendali: ketika clinch kuat, lawan bukan hanya kehilangan ruang, tapi juga kehilangan waktu untuk membangun kombinasi.
Dua kemenangan keputusan menunjukkan ia bisa bertarung dengan struktur selama tiga ronde.
Sementara dua kekalahan—terutama TKO cepat—menunjukkan area yang biasanya menjadi pekerjaan rumah bagi petarung agresif: bagaimana tetap “menekan” tanpa menjadi target statis, bagaimana tetap keras tanpa menjadi ceroboh.L
Aspek menarik: Petgarfield ada di usia “emas untuk dibentuk”
Usia 23 di Muay Thai profesional itu menarik. Di satu sisi, jam terbang bisa sudah tinggi; di sisi lain, tubuh dan pola bertarung masih bisa dibentuk ulang dengan cepat. ONE sendiri mencatat usianya 23 tahun.
Dengan catatan ONE 2–2, Petgarfield berada pada posisi yang “serius tapi belum final”: ia sudah membuktikan bisa menang di panggung ONE, tapi ia juga sudah merasakan kerasnya hukuman ketika salah langkah.
Kalau ia mampu menggabungkan agresivitas tradisionalnya dengan peningkatan defensif—terutama di menit-menit awal—Petgarfield punya peluang untuk kembali naik lewat Friday Fights. Dan dari sana, seperti banyak petarung Thailand lainnya, jalurnya bisa mengarah ke panggung ONE yang lebih besar.
Petgarfield dan proyek “Muay Thai klasik” di era sarung tangan kecil
ONE Friday Fights pada dasarnya adalah mesin: ia mengangkat petarung yang bisa tampil tajam, tegas, dan menarik. Petgarfield sudah menunjukkan ia punya fondasi untuk itu—dua kemenangan keputusan yang membuktikan stamina dan kontrol, serta gaya orthodox tradisional yang membuat pertarungannya terasa “Muay Thai banget.”
Kini tantangannya adalah mengubah pelajaran dari dua kekalahan menjadi evolusi: bukan menghilangkan agresivitas, tapi memolesnya—supaya tekanan Petgarfield bukan hanya keras, tapi juga aman; bukan hanya berani, tapi juga cerdas.
Di situlah cerita petarung muda biasanya jadi menarik: ketika ia tidak lagi sekadar bertarung dengan hati, tapi mulai bertarung dengan hati dan kepala.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda