Gulat Jempol Kaki: Olahraga Teraneh Dari Pub Inggris

Eva Amelia 15/01/2026 4 min read
Gulat Jempol Kaki: Olahraga Teraneh Dari Pub Inggris

Jakarta – Di tengah gemerlapnya olahraga global dengan stadion-stadion megah dan atlet-atlet bertubuh raksasa, terdapat sebuah kompetisi yang unik, bersahaja, dan benar-benar nyeleneh, yang menjadikan bagian tubuh paling dasar sebagai pusat perhatian: Gulat Jempol Kaki (Toe Wrestling).

Berasal dari Inggris, olahraga ini adalah perpaduan yang setara antara tawa, tradisi pub, dan rasa sakit yang mengejutkan, sebuah perayaan keanehan Britania Raya. Jauh dari citra gulat tradisional, pertarungan ini tidak membutuhkan kekuatan otot lengan atau postur tinggi, melainkan kelenturan sendi metatarsal, stamina jempol, dan toleransi yang tinggi terhadap rasa nyeri.

Awal Mula : Dari Pub ke Panggung Dunia

Gulat Jempol Kaki bukanlah tradisi kuno. Kisah kelahirannya terjadi di sebuah pub di Derbyshire, Inggris, pada tahun 1974. Ide gilanya muncul dari sekelompok peminum di The Ye Olde Royal Oak Inn di Wetton, Staffordshire. Mereka prihatin karena Inggris tidak memiliki olahraga baru yang benar-benar bisa dibanggakan dan mendominasi dunia—semua olahraga besar seperti sepak bola atau kriket sudah menjadi universal atau didominasi negara lain.

Seorang pria bernama George Burgess, yang kemudian dihormati sebagai pendiri olahraga ini, mengusulkan ide sederhana namun revolusioner: gulat menggunakan jempol kaki. Tujuannya adalah menciptakan olahraga baru khas Inggris yang suatu hari nanti bisa diakui di Olimpiade, meskipun tujuan itu kini lebih dianggap sebagai lelucon yang menyenangkan.

Meski dimulai sebagai lelucon di pub, kompetisi ini berkembang serius. Sejak 1976, Kejuaraan Dunia Gulat Jempol Kaki diadakan setiap tahun. Awalnya di The Ye Olde Royal Oak Inn, kejuaraan ini kini menjadi acara tahunan di Ashbourne, Derbyshire. Tempat penyelenggaraan modern ini, seringkali di lokasi yang menyediakan bir lokal, memastikan bahwa suasana pub-meet-sport tetap terjaga, menarik perhatian media internasional dan kontestan dari berbagai negara seperti Italia, India, dan Kanada.

Aturan Pertarungan: Sederhana Namun Penuh Strategi dan Rasa Sakit

Aturan gulat jempol kaki sangat sederhana, serupa dengan gulat lengan (arm wrestling), tetapi menggunakan kaki:

  1. Arena dan Posisi: Pertarungan dilakukan di atas panggung di matras kecil yang disebut ‘toedium’. Kedua kontestan duduk berhadapan di lantai, kaki mereka harus bersentuhan secara horizontal di tengah area yang dibatasi oleh bilah kayu.
  2. Kunci: Kontestan saling mengaitkan jempol kaki kanan mereka. Kaki yang tidak digunakan harus menapak rata di lantai sebagai tumpuan.
  3. Prosedur Kunci: Sebelum dimulainya putaran, jari-jari kaki yang lain (selain jempol) harus saling mengunci di bawah jempol lawan, atau sering kali, kontestan memakai tali karet elastis untuk memastikan jari-jari kaki selain jempol tetap terkunci dan tidak ikut bergerak, menghindari kecurangan.
  4. Tujuan: Tujuan utama adalah menjepit jempol lawan ke matras dan menahannya dalam posisi tertindih selama minimal tiga detik.
  5. Pertandingan: Setiap pertandingan terdiri dari tiga putaran (best of three). Biasanya, putaran pertama menggunakan jempol kanan, putaran kedua menggunakan jempol kiri, dan putaran ketiga (jika diperlukan) kembali menggunakan jempol kanan, menguji fleksibilitas kedua kaki.

Wasit, yang disebut “Toe-feree” (gabungan dari toe dan referee), bertanggung jawab untuk memastikan kebersihan kaki—kontestan wajib melepas kaus kaki dan sepatu, seringkali diiringi pemeriksaan kaki—dan memastikan kedua jempol terkunci dengan benar sebelum mengeluarkan perintah ‘Toes Away!’. Cedera yang paling umum adalah kram dan dislokasi ringan, yang menambah kesan ekstrem dari olahraga ini.

Para Juara, Persiapan Unik, dan Fenomena Budaya

Meskipun terlihat konyol, kompetisi ini memiliki juara-juara serius yang mempersiapkan diri dengan tekun. Salah satu nama paling legendaris dan dominan dalam olahraga ini adalah Alan “Nasty” Nash. Selama lebih dari 25 tahun, Nash telah mendominasi arena ini, mengklaim gelar Kejuaraan Dunia berkali-kali. Nash dan atlet elit lainnya menyadari bahwa kemenangan tidak hanya bergantung pada kekuatan, tetapi pada daya tahan terhadap rasa sakit.

Persiapan atlet terkadang tidak masuk akal bagi orang luar. Beberapa mengaku melakukan latihan seperti mengangkat beban ringan dengan jempol kaki, atau merendam kaki dalam air es untuk meningkatkan sirkulasi dan mengurangi sensitivitas nyeri. Yang paling penting adalah fleksibilitas tendon dan ligamen yang menghubungkan jempol kaki, yang dilatih melalui peregangan agresif.

Di Kejuaraan Dunia, suasananya meriah. Penonton bersorak-sorai dan tertawa, sering kali sambil memegang gelas bir. Para kontestan sering mengadopsi julukan yang berani dan kostum yang lucu, menambahkan lapisan hiburan.

Gulat jempol kaki telah menjadi fenomena budaya kecil yang merangkul humor diri dan quirkiness Inggris. Meskipun George Burgess dan para pendiri berharap olahraga ini akan mencapai Olimpiade, Komite Olimpiade Internasional belum menunjukkan minat.

Namun, bagi para penggemar dan kontestan, Gulat Jempol Kaki tetap memiliki daya tarik tersendiri—sebuah pengingat bahwa olahraga tidak harus selalu mahal, atletis, atau serius untuk bisa menghibur dan menciptakan komunitas yang kuat. Ini adalah olahraga rakyat jelata, di mana siapa pun bisa menjadi juara dunia, asalkan Anda punya jempol yang kuat, gigih, dan hati yang siap menghadapi sensasi rasa sakit yang menusuk di jari kaki.

(EA/timKB).

Sumber foto: youtube

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...