Jakarta – Mendengar nama Sócrates, sebagian besar orang mungkin akan langsung teringat pada filsuf Yunani kuno yang menjadi mahaguru Plato. Namun, bagi para penggemar sepak bola, nama itu merujuk pada sosok legenda Brasil yang tak kalah cerdas dan revolusioner: Sócrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira.
Bukan hanya seorang maestro di lini tengah, Sócrates adalah perpaduan langka antara kejeniusan akademis, aktivisme politik, dan keterampilan sepak bola yang elegan. Dijuluki ‘Doutor Sócrates’ (Dokter Sócrates) karena gelar kedokteran yang ia raih saat masih aktif bermain, ia membuktikan bahwa kecerdasan di luar lapangan dapat menjelma menjadi kepemimpinan dan visi yang luar biasa di atas lapangan hijau, menjadikannya salah satu figur paling unik dan berpengaruh dalam sejarah olahraga.
Masa Muda dan Karir di Lapangan Hijau: Prioritas di Luar Lapangan
Lahir di Belém do Pará pada 19 Februari 1954, Sócrates tumbuh besar dalam keluarga yang menghargai pendidikan, bahkan saat Brasil berada di bawah kediktatoran militer yang ketat. Ayahnya adalah seorang pembaca avid, dan rumah mereka dipenuhi buku-buku filosofi dan sejarah. Ketertarikannya pada filsafat dan politik sudah mulai tumbuh sejak ia kecil, terutama setelah menyaksikan ayahnya menyembunyikan buku-buku terlarang yang dianggap subversif oleh rezim militer saat kudeta tahun 1964. Pengalaman masa kecil ini menanamkan benih perlawanan dan pemikiran kritis dalam dirinya.
Berbeda dengan kebanyakan bintang Brasil lainnya yang menjadikan sepak bola sebagai jalan keluar dari kemiskinan, Sócrates memilih untuk menunda karir profesionalnya. Ia memprioritaskan studi, sebuah keputusan yang sangat tidak konvensional bagi calon bintang lapangan hijau. Ia baru benar-benar memulai karir profesionalnya relatif terlambat, yaitu pada usia 24 tahun, setelah ia menyelesaikan studinya di fakultas kedokteran di Universitas São Paulo dan meraih gelar dokter. Ia percaya bahwa seorang atlet harus memiliki kehidupan dan nilai di luar olahraga itu sendiri.
Puncak Karir di Corinthians dan Inovasi Taktis
Masa keemasan Sócrates sebagai pemain terjadi saat ia membela klub Corinthians (1978–1984). Di klub raksasa São Paulo ini, posturnya yang tinggi (192 cm) memungkinkannya mengendalikan lini tengah dengan pandangan mata yang luas. Sentuhan bolanya yang anggun, tendangan keras jarak jauh, dan, tentu saja, umpan tumit tanpa melihat (blind heel pass) yang ikonis dan elegan, menjadikannya gelandang serang yang tak hanya ditakuti tetapi juga dikagumi karena keindahannya. Ia mencetak 172 gol dalam 297 penampilan dan mempersembahkan tiga gelar Liga Paulista, meninggalkan jejak statistik yang impresif.
Namun, yang membuat eranya di Corinthians melegenda bukanlah trofi semata, melainkan eksperimen sosial-politik yang dikenal sebagai “Democracia Corinthiana” (Demokrasi Corinthians).
Gerakan Demokrasi Corinthians: Revolusi di Ruang Ganti
Pada awal tahun 1980-an, di tengah represi kediktatoran militer Brasil yang masih berkuasa, Sócrates, bersama rekan setimnya seperti Wladimir, Zenon, dan Casagrande, memelopori gerakan Demokrasi Corinthians. Ini adalah bentuk anarki yang terorganisir di mana setiap keputusan klub—mulai dari jadwal latihan, berapa lama waktu istirahat, perekrutan pemain, hingga menu makanan—diputuskan melalui pemungutan suara oleh seluruh anggota tim, staf pelatih, hingga karyawan kebersihan. Prinsip yang dipegang teguh adalah satu orang, satu suara, sebuah konsep radikal di tengah masyarakat yang kehilangan hak-hak sipilnya.
Gerakan ini adalah kritik langsung terhadap kediktatoran. Sócrates menggunakan panggung olahraga untuk memperjuangkan cita-cita yang lebih besar. Para pemain Corinthians sering memasuki lapangan dengan spanduk yang membawa pesan-pesan politik eksplisit, seperti “Diretas Já” (Pemilu Langsung Sekarang) atau “Ganhar ou perder, mas sempre com democracia” (Menang atau kalah, tapi selalu dengan demokrasi). Sócrates sendiri kadang terlihat mengenakan ikat kepala bertuliskan slogan-slogan tersebut. Corinthians tidak hanya bermain sepak bola; mereka menjadi simbol perlawanan damai, platform politik, dan harapan bagi masyarakat yang merindukan pemulihan demokrasi.
Sócrates di Tim Nasional: Seni yang Tak Terlupakan
Sócrates adalah kapten dari tim nasional Brasil di Piala Dunia 1982 di Spanyol. Tim yang diisi oleh para maestro seperti Zico, Falcão, dan Éder ini sering disebut sebagai tim terhebat yang tidak pernah memenangkan Piala Dunia. Tim ini menampilkan Jogo Bonito (Permainan Indah) dalam bentuknya yang paling murni dan memukau, sebuah perpaduan antara keindahan, kreativitas, dan filosofi menyerang total.
Meskipun gagal meraih trofi setelah dikalahkan Italia 3-2 dalam pertandingan dramatis di mana Sócrates mencetak salah satu gol, warisan tim 1982—dan kepemimpinan intelektual Sócrates—tetap abadi dalam ingatan penggemar sepak bola. Mereka membuktikan bahwa ada nilai dalam cara bermain, bukan hanya hasil akhir. Sócrates kembali memimpin Seleção pada Piala Dunia 1986, di mana Brasil tersingkir oleh Prancis melalui adu penalti setelah pertandingan yang sangat seimbang. Secara keseluruhan, ia mencatat 60 penampilan untuk timnas, mencetak 22 gol.
Kehidupan Setelah Sepak Bola dan Warisan Abadi
Setelah pensiun dari lapangan hijau, Sócrates benar-benar meniti karir barunya. Ia aktif mempraktikkan ilmu kedokterannya di Ribeirão Preto, menjadi kolumnis yang berwawasan luas yang menulis tentang olahraga, politik, dan ekonomi, dan juga sebagai komentator sepak bola yang cerdas. Ia bahkan sempat meraih gelar PhD dalam bidang filsafat, memperkuat citranya sebagai seorang “Filosofo do Futebol”. Dalam sebuah ironi pahit, ia adalah seorang dokter cerdas yang juga perokok berat dan memiliki masalah dengan alkohol—kontradiksi manusiawi yang ia hadapi secara terbuka.
Sócrates meninggal dunia pada 4 Desember 2011 di São Paulo, pada usia 57 tahun, karena infeksi usus. Dalam sebuah momen kebetulan yang sangat simbolis dan mengharukan, pada hari yang sama, mantan klubnya, Corinthians, berhasil mengunci gelar Liga Brasil setelah pertandingan dramatis.
Sócrates lebih dari sekadar pesepakbola. Ia adalah seorang intelektual publik yang menggunakan panggung olahraga untuk memperjuangkan keadilan sosial dan demokrasi, yang berani mengklaim: “Pemain sepak bola harus menjadi seniman, bukan budak.” Warisannya adalah bukti nyata bahwa olahraga dan aktivisme dapat beriringan, sebuah simbol perlawanan damai yang menghormati keindahan sepak bola sekaligus pentingnya pemikiran kritis.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda