Hamza Rachid: Petarung Di ONE Friday Fights 129

Piter Rudai 27/01/2026 4 min read
Hamza Rachid: Petarung Di ONE Friday Fights 129

Jakarta – Ada satu hal yang selalu terasa sama setiap kali ONE Friday Fights dimulai di Lumpinee Stadium: atmosfernya seperti pintu masuk menuju “kelas sebenarnya” Muay Thai. Ini bukan panggung yang memberi ruang untuk gugup terlalu lama. Di sini, petarung tak hanya diuji oleh lawan, tetapi juga oleh sorak yang menuntut aksi dan sejarah yang seolah berbisik: kalau kamu ingin diakui, buktikan sekarang.

Pada 17 Oktober 2025, di ONE Friday Fights 129, Hamza Rachid—petarung Muay Thai asal Maroko yang dijuluki “The Reaper”—membuat debut yang terasa seperti pernyataan. Ia menghentikan Kampeetewada Sitthikul lewat knockout di ronde kedua, tepatnya pada 0:47 ronde tersebut.

Bukan kemenangan “aman”, bukan kemenangan angka—melainkan kemenangan yang memaksa orang bertanya: siapa petarung ini, dan dari mana datangnya?

Profil Hamza Rachid: identitas “The Reaper” di ONE Championship

ONE mencatat Hamza Rachid sebagai petarung bantamweight Muay Thai dengan data yang langsung menggambarkan tubuhnya sebagai mesin tekanan:

    • Nama: Hamza Rachid
    • Julukan: The Reaper
    • Lahir: 1 September 1999 (usia 26 pada profil ONE)
    • Negara: Maroko
    • Tinggi: 180 cm
    • Batas berat: 144.8 lbs / 65.7 kg (bantamweight Muay Thai ONE)
    • Tim: Elamghari Muaythai Team

Angka-angka itu penting, tetapi “The Reaper” tidak dibangun oleh angka semata. Ia dibangun oleh jalur—oleh perjalanan seorang petarung Afrika Utara yang memilih untuk membuktikan diri di pusat Muay Thai dunia.

Maroko, jam terbang, dan karakter petarung yang “membawa badai”

Muay Thai di Maroko mungkin tidak setenar stadion-stadion Bangkok, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, negara itu kian sering melahirkan atlet yang serius—bukan sekadar “berani naik ring”, melainkan atlet yang membawa rekam kompetisi internasional.

Nama Hamza Rachid sendiri pernah diangkat oleh kanal federasi/komunitas Muay Thai internasional sebagai sosok yang punya legitimasi prestasi. Ia disebut sebagai peraih medali perak The World Games, sekaligus memiliki rekam status juara di ranah WMC/IFMA kawasan Arab dan Afrika.

Ada juga catatan yang menekankan betapa tebalnya pengalaman bertandingnya—membawa “ring experience” yang besar.

Dalam konteks Muay Thai, jam terbang sering menjadi “bahasa kedua”. Petarung yang sudah melewati puluhan ring biasanya punya sesuatu yang sulit dipalsukan: ketenangan saat diserang, kemampuan membaca ritme, dan intuisi kapan harus menekan… serta kapan harus memotong cerita.

Di situlah julukan “The Reaper” terasa pas. Ia bukan sekadar agresif; ia agresif dengan niat menyelesaikan.

ONE Friday Fights 129: panggung yang menuntut bukti, bukan janji

ONE Friday Fights 129 digelar di Lumpinee pada 17 Oktober 2025. ONE sendiri memperkenalkan event ini sebagai bagian dari seri mingguan yang kerap menjadi “jalur kontrak besar” bagi para atlet yang tampil menonjol.

Pada malam itulah Hamza menjalani debutnya di ONE—dan ia tidak memilih jalan pelan. Dalam laporan resmi hasil pertandingan, ONE menulis jelas: Hamza Rachid mengalahkan Kampeetewada Sitthikul via KO pada 0:47 ronde 2 untuk laga bantamweight Muay Thai.

Tapology—sebagai arsip kartu pertarungan—juga mencatat duel ini berlangsung di Lumpinee, Bangkok, pada tanggal yang sama, dengan bobot sekitar 145 lbs, menegaskan konteks kelasnya.

Detik-detik perubahan: dari “pendatang baru” menjadi “nama yang diingat”

Ada perbedaan besar antara menang dan menang dengan cara yang membuat orang berhenti menggulir layar. KO ronde kedua di debut—terlebih melawan petarung Thailand di Thailand—adalah jenis hasil yang mengubah status.

ONE bahkan menyorotnya dalam konten video resmi: Hamza Rachid membuat pernyataan dengan KO ronde kedua atas Kampeetewada pada ONE Friday Fights 129 di Bangkok.

Kalau kita membayangkan narasinya di ring, biasanya KO semacam ini lahir dari akumulasi:

    • tekanan yang membuat lawan mundur setengah langkah,
    • kombinasi tangan yang memaksa guard naik,
    • lalu tendangan/pukulan lanjutan yang datang saat lawan kehilangan ritme.

Muay Thai bukan sekadar “siapa paling keras”, tapi “siapa paling tepat”—tepat memilih momen, tepat memotong jarak, tepat memukul saat lawan bernapas salah.

Gaya bertarung: agresif, kombinasi cepat, tendangan keras, dan clinch yang menekan

Kamu menggambarkan Hamza sebagai petarung Muay Thai agresif yang mengandalkan kombinasi pukulan cepat, tendangan keras, dan tekanan clinch. Gambaran itu sejalan dengan cara ONE membingkai penampilannya sebagai “relentless” (tanpa henti) saat mengulas KO debut tersebut.

Secara teknis, gaya seperti ini biasanya terlihat dalam tiga lapisan permainan:

1. Kombinasi tangan sebagai “pembuka pintu”

Pukulan cepat bukan hanya untuk melukai, tetapi untuk memancing respons. Begitu lawan sibuk menutup kepala, ruang untuk menyerang tubuh dan kaki biasanya terbuka.

2. Tendangan keras untuk merusak struktur

Tendangan yang benar-benar efektif membuat lawan kehilangan stabilitas—bukan cuma sakit. Saat struktur rusak, clinch jadi lebih mudah dimenangkan.

3. Clinch sebagai mesin tekanan

Clinch yang menekan memaksa lawan bekerja dua kali: melawan posisi dan melawan serangan. Di sinilah petarung agresif sering “menghabiskan” tenaga lawan—dan ketika tenaga turun, finishing jadi lebih dekat.

Dengan tinggi 180 cm di bantamweight, Hamza punya modal leverage yang bagus untuk bermain di jarak menengah hingga clinch, terutama bila ia pintar mengunci kepala dan bahu lawan.

Prestasi dan hal menarik: simbol gelombang baru Muay Thai Afrika

Kemenangan debutnya memang baru satu langkah di ONE, tetapi langkah itu “keras”. Dan ketika seorang petarung dari Maroko menorehkan KO di Lumpinee, ceritanya otomatis menjadi lebih luas dari sekadar satu pertandingan.

Di sisi prestasi, penyebutan Hamza sebagai peraih medali perak The World Games—serta klaim gelar di ranah IFMA/WMC regional—memberi gambaran bahwa ia bukan pendatang yang muncul dari ruang kosong. Ia datang membawa legitimasi kompetisi.

Di sisi narasi, Hamza adalah representasi bahwa Muay Thai kini benar-benar global: Thailand tetap pusatnya, tetapi ancaman bisa datang dari mana saja—dan “The Reaper” baru saja membuktikan itu di rumah Muay Thai.

Apa berikutnya untuk “The Reaper”?

Di ONE Friday Fights, debut KO sering menjadi pedang bermata dua:

    • Di satu sisi, ia membuka pintu peluang besar.
    • Di sisi lain, ia membuat lawan berikutnya datang dengan rencana yang jauh lebih spesifik.

Jika Hamza ingin naik cepat di divisi bantamweight Muay Thai ONE, tiga hal biasanya akan menentukan:

    1. Apakah ia bisa mengulang tekanan itu saat lawan lebih defensif?
    2. Apakah clinch-nya tetap dominan ketika menghadapi petarung Thailand yang ahli kuncian dan sapuan?
    3. Apakah ia punya variasi tempo (pelan-cepat) agar tidak mudah dibaca?

Debutnya sudah mengirim pesan. Bab berikutnya akan membuktikan apakah pesan itu bisa menjadi cerita panjang.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...