Jakarta – Di Lumpinee Stadium, Bangkok, Muay Thai bukan sekadar olahraga. Ia seperti “ujian bahasa”: kamu boleh fasih teori, tetapi ring akan langsung tahu apakah aksenmu rapi, apakah ritmemu tepat, dan apakah keberanianmu bisa bertahan saat tekanan naik dua kali lipat. Banyak petarung datang membawa harapan, namun hanya sebagian yang pulang membawa jawaban.
Chen Jiayi adalah salah satu nama yang merasakan ujian itu di awal perjalanannya bersama ONE Championship. Petarung Muay Thai asal Tiongkok, lahir 12 November 2000, ini tampil di panggung ONE Friday Fights pada usia yang masih muda—dengan gaya orthodox yang agresif, menonjolkan tendangan keras serta pukulan lurus yang tegas. Ia datang bukan untuk “mencuri pengalaman”, tetapi untuk membuktikan dirinya layak bertahan di level internasional yang keras.
Namun pada bab pertama, panggung memberi pelajaran. Debut Chen Jiayi di ONE Friday Fights 9 (17 Maret 2023) berakhir pahit ketika ia dihentikan oleh salah satu petarung Thailand yang sudah akrab dengan ritme Lumpinee: Nakrob Fairtex.
Profil singkat: postur tinggi, tim dari Anhui, dan identitas striker muda
Di profil resmi ONE Championship, Chen Jiayi tercatat berasal dari China, memiliki tinggi 180 cm (5’10”), dan berlatih bersama Anhui Tianxia Huihiang Fight Club.
Catatan Muay Thai Records juga menyebut ia berlatih di gym yang sama, dengan “last recorded fight weight” di sekitar 61 kg/135 lb—angka yang masuk akal untuk spektrum kelas ringan yang sering muncul di Friday Fights.
Tinggi 180 cm di divisi ringan adalah modal yang unik. Petarung dengan postur seperti ini biasanya punya dua pilihan: bermain sabar sebagai “penjaga jarak”, atau justru memaksakan tekanan agar lawan tidak sempat memanfaatkan celah. Dari deskripsi gaya yang kamu berikan—agresif, tendangan keras, pukulan lurus—Chen Jiayi cenderung memilih opsi kedua: mendorong ritme, bukan menunggu ritme datang.
ONE Friday Fights 9: debut yang langsung melemparnya ke api
Tanggal 17 Maret 2023, ONE menggelar ONE Friday Fights 9 di Lumpinee. Dalam daftar hasil resmi, tertulis jelas:
Nakrob Fairtex mengalahkan Chen Jiayi via TKO pada 2:45 ronde kedua.
Satu baris hasil pertandingan sering tampak dingin. Tapi di baliknya ada realitas yang keras: debut di Lumpinee jarang memberi ruang untuk “adaptasi pelan-pelan”. Ketika kamu bertemu petarung Thailand berpengalaman, mereka biasanya paham betul cara memanfaatkan momen kecil—ketika langkah kaki terlambat, ketika guard naik terlalu tinggi, ketika napas mulai berat setelah pertukaran cepat.
Media luar yang merangkum hasil event juga mencatat kemenangan Nakrob atas Chen Jiayi via TKO ronde dua di waktu yang sama, menegaskan bahwa itu adalah penghentian yang tak menyisakan perdebatan.
Gaya bertarung: orthodox agresif, tendangan keras, dan “garis lurus” pukulan yang jadi andalan
Dalam Muay Thai, gaya orthodox tidak otomatis berarti sederhana. Ia justru memberi struktur: kaki depan sebagai penjaga jarak, tangan depan sebagai “pembuka pintu”, dan tangan belakang sebagai palu. Dengan gaya yang kamu gambarkan, Chen Jiayi biasanya akan bermain dalam pola seperti ini:
-
- Tendangan keras untuk menetapkan wilayah
Tendangan (ke badan atau kaki) bukan cuma merusak, tapi memaksa lawan menghitung jarak ulang. Jika tendangan masuk bersih, lawan akan ragu melangkah. - Pukulan lurus sebagai penusuk ritme
Pukulan lurus sering jadi senjata paling efektif untuk petarung tinggi. Ia “menarik garis” ke wajah atau tubuh lawan—cepat, lurus, dan sulit dibaca kalau footwork rapi. - Agresi sebagai identitas petarung muda
Petarung muda sering punya satu ciri: percaya bahwa tekanan adalah jawaban. Namun, di level ONE, tekanan harus ditemani disiplin—karena petarung yang berpengalaman akan memancing seranganmu untuk dibalas saat kamu sedang paling terbuka.
- Tendangan keras untuk menetapkan wilayah
Debut Chen Jiayi yang berakhir TKO bukan berarti gaya itu “salah”. Ia lebih seperti tanda: di panggung ini, agresi perlu ditopang oleh manajemen jarak, pertahanan saat keluar dari kombinasi, dan kemampuan membaca timing clinch/serangan lanjutan.
Perjalanan karier: bab awal yang belum manis, tapi memberi fondasi untuk berkembang
Di ONE Championship Records miliknya, Chen Jiayi saat ini tercatat memiliki satu pertandingan di ONE—kekalahan dari Nakrob Fairtex via TKO ronde dua.
Itu artinya kisahnya di ONE masih berada di fase pengenalan: fase ketika petarung baru benar-benar “mengenal” panggung, bukan sekadar membayangkannya.
Yang menarik, event ONE Friday Fights sendiri adalah jalur yang sering dipakai ONE untuk menguji prospek dari berbagai negara. Kamu tidak hanya diuji soal teknik, tapi juga soal:
-
- bagaimana kamu beradaptasi dengan atmosfer Bangkok,
- bagaimana kamu mencetak poin dan damage dalam format yang cepat,
- dan bagaimana kamu mengubah rencana saat ronde berjalan tidak sesuai skenario.
Bagi petarung Tiongkok, tantangannya berlapis. Mereka datang membawa disiplin latihan dan perkembangan striking yang pesat, tetapi harus menyesuaikan diri dengan “bahasa Muay Thai” di Thailand—yang sering menuntut ketenangan di jarak dekat dan ketepatan membaca momen.
Aspek menarik: wajah gelombang baru striking Tiongkok di panggung ONE
Walau baru satu kali tampil, Chen Jiayi menarik karena ia mewakili cerita yang lebih besar: gelombang petarung Tiongkok yang makin sering menembus promosi Asia terbesar. Mereka datang dengan gaya yang umumnya lebih “langsung” dan agresif—kombinasi cepat, keberanian menekan, dan intensitas tinggi—lalu diuji oleh petarung Thailand yang kaya pengalaman ring.
Jika Chen Jiayi kembali berlaga, titik evolusi yang paling logis biasanya berada di tiga area:
-
- membuat agresi lebih efisien (tidak membuang tenaga pada serangan yang tidak bersih),
- menutup celah setelah menyerang (keluar dari kombinasi tanpa membuka ruang counter),
- dan mengatur tempo (kapan menekan habis-habisan, kapan menahan agar tidak “dibaca”).
Di situlah kisah petarung muda sering berubah: dari sekadar berani, menjadi berbahaya.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda