Jakarta – Dalam sejarah sepak bola, ada pemain yang dikenang karena jumlah trofinya, namun ada pula yang abadi karena cara mereka menyentuh bola. Dragan Stojkovic, atau yang lebih dikenal dengan julukan “Piksi”, berada di kategori kedua. Ia adalah seniman lapangan hijau, seorang playmaker jenius yang membawa estetika Balkan ke panggung dunia. Bagi masyarakat Serbia dan pendukung setuju di seluruh dunia, Stojkovic bukan sekadar pesepak bola; ia adalah simbol keanggunan dan visi yang melampaui zamannya.
Awal Mula Sang Legenda
Lahir pada 3 Maret 1965 di Niš, Yugoslavia (sekarang Serbia), bakat Stojkovic sudah terlihat sejak ia masih kanak-kanak. Ia memulai karier profesionalnya di Radnički Niš, namun namanya benar-benar meledak ketika ia pindah ke Red Star Belgrade pada tahun 1986. Di sana, ia tidak hanya menjadi kapten, tetapi juga ruh permainan.
Julukan “Piksi” ia dapatkan dari karakter kartun populer, namun di lapangan, ia jauh dari kata lucu bagi lawan-lawannya. Stojkovic memiliki kemampuan kontrol bola yang membuat bola seolah-olah menempel di kakinya. Visi bermainnya sangat luas, mampu mengirimkan umpan terobosan yang membelah pertahanan lawan bahkan sebelum lawan menyadari adanya celah. Di Red Star, ia meraih status legenda dengan memenangkan dua gelar liga dan terpilih sebagai Pemain Terbaik Yugoslavia dua tahun berturut-turut.
Panggung Dunia dan Tragedi Cedera
Puncak keemasan Stojkovic terjadi pada Piala Dunia 1990 di Italia. Dunia menyaksikan keajaiban kaki kanannya saat Yugoslavia menghadapi Spanyol di babak 16 besar. Stojkovic mencetak dua gol yang hingga kini dianggap sebagai karya seni. Gol pertamanya, di mana ia melakukan gerak tipu yang membuat bek Spanyol terpelanting sebelum melepaskan tembakan tenang, adalah demonstrasi ketenangan tingkat tinggi.
Namun, nasib malang menghampiri saat ia memutuskan pindah ke raksasa Prancis, Olympique Marseille, pada tahun 1990. Ia datang sebagai salah satu pemain termahal dan paling dinantikan di Eropa. Sayangnya, cedera lutut parah menghantamnya di awal musim. Ironisnya, di final Liga Champions 1991, Marseille bertemu dengan mantan klubnya, Red Star Belgrade. Stojkovic masuk sebagai pemain pengganti di babak perpanjangan waktu, namun ia menolak mengambil tendangan penalti melawan klub yang ia cintai. Red Star menang, dan Stojkovic harus puas melihat mantan rekan-rekannya mengangkat trofi yang seharusnya ia menangkan.
Masa-masanya di Marseille dan masa pinjamannya di Hellas Verona sering kali terganggu oleh masalah fisik. Banyak pengamat sepak bola percaya bahwa jika bukan karena cedera lutut tersebut, Stojkovic mungkin akan berada di level yang sama dengan Diego Maradona atau Michel Platini dalam debat pemain terbaik sepanjang masa.
Menjadi Kaisar di Negeri Matahari Terbit
Ketika banyak orang mengira kariernya akan meredup karena cedera, Stojkovic mengambil langkah mengejutkan pada tahun 1994 dengan pindah ke Jepang untuk bergabung dengan Nagoya Grampus Eight. Keputusan ini mengubah sejarah sepak bola Jepang selamanya.
Di bawah asuhan Arsene Wenger (yang kemudian melatih Arsenal), Stojkovic menemukan kembali kegembiraannya bermain bola. Di J-League, ia bukan sekadar pemain asing; ia adalah seorang kaisar. Tekniknya yang luar biasa membuat publik Jepang jatuh cinta pada sepak bola. Salah satu momen paling ikonik dalam kariernya terjadi saat pertandingan sedang hujan deras. Bola tertahan di genangan air, namun Stojkovic dengan cerdik melakukan juggling bola sambil berlari melintasi air, melewati lawan tanpa membiarkan bola menyentuh permukaan air yang basah.
Wenger sendiri mengakui bahwa Stojkovic adalah pemain terbaik yang pernah ia latih. Kehadiran Piksi di Jepang tidak hanya membawa trofi bagi Nagoya Grampus, tetapi juga meningkatkan standar kualitas liga di sana. Ia bermain di Jepang selama tujuh musim hingga pensiun pada tahun 2001, meninggalkan warisan yang membuatnya dihormati sebagai salah satu pemain asing teragung dalam sejarah sepak bola Asia.
Pengabdian Setelah Pensiun
Setelah gantung sepatu, Stojkovic tidak bisa jauh dari lapangan hijau. Ia sempat menjabat sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Serbia dan Montenegro, serta Presiden Red Star Belgrade. Namun, panggilan jiwanya ada di pinggir lapangan sebagai pelatih.
Sebagai pelatih, ia kembali ke Nagoya Grampus dan membawa mereka menjuarai J-League untuk pertama kalinya dalam sejarah klub pada tahun 2010. Gaya kepelatihannya mencerminkan gaya bermainnya: menyerang, kreatif, dan penuh percaya diri. Kesuksesan terbesarnya sebagai pelatih datang saat ia menakhodai Tim Nasional Serbia. Ia berhasil membawa negaranya lolos ke Piala Dunia 2022 dengan gaya yang meyakinkan, termasuk kemenangan dramatis atas Portugal di babak kualifikasi.
Warisan Sang Maestro
Dragan Stojkovic adalah pengingat bahwa sepak bola adalah tentang kecerdasan otak, bukan sekadar kekuatan otot. Ia bermain dengan kepala tegak, melihat ruang yang tidak dilihat orang lain, dan melakukan gerakan yang tidak terpikirkan oleh pemain biasa. Meskipun kariernya di Eropa dihantui cedera, dampaknya di Yugoslavia dan Jepang tetap tak terhapuskan.
Piksi mengajarkan kita bahwa seorang maestro sejati tetap bisa bersinar meski badai cedera mencoba memadamkannya. Ia tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda di Balkan dan Jepang, sebuah jembatan budaya yang disatukan melalui keindahan sebuah operan dan presisi sebuah tembakan. Dragan Stojkovic bukan hanya seorang legenda sepak bola; ia adalah puisi yang ditulis di atas rumput hijau.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda