Jakarta – Di dunia lightweight—kelas paling ramai dan paling kejam di UFC—banyak petarung menang karena satu hal: kecepatan tangan, power, atau teknik gulat yang membuat lawan frustrasi. Tapi Chris Duncan membangun namanya lewat sesuatu yang sering diremehkan orang sampai benar-benar melihatnya sendiri: daya tahan, keberanian bertahan di situasi buruk, lalu kemampuan membalikkan keadaan sebelum lawan sempat bernapas lega.
Duncan lahir pada 10 Mei 1993 di Alloa, Skotlandia. Di kartu identitas UFC, ia adalah petarung lightweight dengan julukan yang terdengar seperti ancaman yang sederhana: “The Problem.” Dan memang, cara dia bertarung sering seperti masalah yang sulit diselesaikan—karena ia tidak mudah hancur, dan ia selalu punya satu momen yang bisa mengubah cerita.
Di kamp, ia mengasah dirinya di American Top Team (ATT)—gym yang dikenal sebagai “pabrik” petarung elite, tempat detail kecil bisa menentukan hidup-mati sebuah ronde. Di sana, gaya Duncan matang menjadi paket yang agresif: striking eksplosif untuk memaksa lawan bertukar, plus submission yang solid untuk mengakhiri laga ketika celah terbuka. Rekornya di level profesional—di berbagai database besar—mencerminkan identitas itu: 15 kemenangan dengan porsi KO/TKO dan submission yang menonjol, plus beberapa kemenangan lewat keputusan juri.
Profil singkat Chris Duncan
-
- Nama: Chris Duncan
- Julukan: The Problem
- Lahir: 10 Mei 1993, Alloa, Skotlandia
- Divisi: Lightweight (UFC)
- Camp: American Top Team
- Stance: Orthodox
- Rekor pro: 15–2 (data umum di ESPN/Tapology/Sherdog)
Dari Alloa ke panggung dunia: lahirnya “The Problem”
Nama “The Problem” terasa pas bukan karena Duncan suka gaya yang rumit, tapi karena dia membuat pertarungan jadi tidak nyaman. Dalam biografi ringkasnya, Duncan digambarkan sebagai petarung yang terjun ke MMA sejak lama (tahun aktif sering disebut sejak 2014), lalu perlahan menumpuk pengalaman sampai akhirnya menabrak pintu UFC.
Di kelas lightweight, petarung yang “cukup bagus” mudah tenggelam. Jadi Duncan memilih jalur yang lebih berisik: menang dengan cara meyakinkan. Bukan selalu cantik, tapi selalu terasa nyata—keras, padat, dan sering selesai cepat.
Jalan masuk UFC: satu pukulan di DWCS yang langsung “mengunci kontrak”
Pintu UFC untuk banyak petarung modern bernama Dana White’s Contender Series (DWCS)—sebuah audisi, di mana menang saja tidak selalu cukup. Kamu harus menang dengan cara yang membuat promotor tidak punya alasan untuk menolak.
Duncan melakukannya pada DWCS Season 6, Week 2 (2 Agustus 2022). Malam itu, ia menghadapi Charlie Campbell dan menang lewat KO (right hand) pada 1:43 ronde pertama. Hasil ini tercatat dalam rekap resmi DWCS dan juga muncul dalam riwayat pertandingannya.
Itu bukan sekadar kemenangan. Itu semacam kalimat satu baris yang langsung dipahami UFC: “petarung ini siap.”
Debut UFC: menang rapat, lalu mulai membangun reputasi “petarung yang susah dibunuh”
Debut UFC-nya terjadi di UFC 286 (18 Maret 2023) melawan Omar Morales, dan Duncan menang lewat split decision. Catatan resminya tercantum jelas di UFCStats dan berbagai arsip pertarungan.
Kemenangan split decision seperti ini sering jadi fondasi karier: bukan highlight KO yang viral, tapi bukti bahwa petarung bisa mengelola tekanan, melewati tiga ronde, dan tetap menang di kartu juri. Buat Duncan, itu adalah “cap pertama” bahwa ia bukan sekadar finisher DWCS—ia petarung UFC sungguhan.
UFC London: malam ketika Skotlandia melihat dirinya di oktagon
Setelah debut, Duncan terus mengumpulkan kemenangan di UFC. Salah satu yang menonjol adalah ketika ia mengalahkan Yanal Ashmouz lewat unanimous decision pada 22 Juli 2023 (sering dirujuk sebagai UFC London card saat itu). Ini tercatat dalam riwayat pertandingan ESPN.
Di titik ini, kariernya mulai punya bentuk: ia bukan hanya mengandalkan “pukulan keberuntungan”. Ia bisa menang lewat ritme, ketahanan, dan konsistensi ronde—kualitas yang sangat penting di lightweight.
UFC Paris: kemenangan submission yang membuat orang sadar—Duncan bukan cuma striker
Banyak orang menempelkan label “striker” pada Duncan karena ia punya KO/TKO, dan memang kemenangan KO-nya banyak. Tapi salah satu momen penting dalam narasi kariernya justru datang lewat grappling.
Di UFC Paris (28 September 2024), Duncan menghadapi Bolaji Oki dan menang lewat technical submission (guillotine choke) pada ronde 1 (3:34), menurut catatan hasil resmi yang beredar luas.
Kemenangan ini seperti pengingat: jika lawan terlalu fokus menghindari tangan kanan Duncan, mereka bisa “jatuh” ke perangkap lain—leher terkunci, napas dipotong, laga selesai.
“Daya tahan” sebagai merek dagang: menang perang berdarah vs Mateusz Rębecki
Masuk 2025, Duncan menambah bab yang makin menegaskan identitasnya: petarung yang siap perang.
Ia menghadapi Mateusz Rębecki pada event UFC Fight Night: Taira vs Park (2 Agustus 2025) dan keluar sebagai pemenang lewat keputusan juri (rekap scorecard resmi UFC memuat hasil kemenangan Duncan atas Rębecki).
Laga ini banyak disebut sebagai pertarungan keras dan berdarah—jenis pertarungan yang biasanya memisahkan petarung biasa dari petarung yang “tahan tinggal di neraka”. Duncan terlihat nyaman di situ. Dan ketika kamu bisa menang di laga seperti itu, kamu biasanya naik kelas—setidaknya dalam persepsi matchmaker.
UFC 323: comeback gila yang menegaskan kenapa namanya “The Problem”
Puncak narasi “The Problem” versi modern datang dalam bentuk comeback yang dramatis. Dalam laporan MMAFighting, Duncan mengalahkan Terrance McKinney lewat submission anaconda choke di ronde 1 (2:30) setelah sempat berada dalam tekanan awal—sebuah kemenangan yang digambarkan sebagai comeback besar dan memperpanjang rentetan kemenangannya.
Ini tipe kemenangan yang membangun reputasi cepat, karena pesannya sederhana: bahkan ketika Duncan kelihatan hampir jatuh, dia masih bisa membalikkan keadaan dan mengakhiri laga.
Agresif, eksplosif, tapi punya “jalan pulang” di submission
Duncan bertarung dengan orthodox stance dan dikenal agresif—menekan, memancing duel, lalu meledak dengan serangan yang memaksa lawan bereaksi. Namun, statistik kariernya menunjukkan kombinasi yang lebih lengkap: 7 kemenangan KO/TKO dan 4 kemenangan submission, plus kemenangan keputusan yang menegaskan ia juga mampu “mengunci ronde”.
Di ATT, pola seperti ini biasanya dipertajam: striking untuk membuka pintu, grappling untuk menutup pintu. Ketika itu bekerja, petarung jadi sulit ditebak—dan di lightweight, “sulit ditebak” sering berarti “berbahaya”.
Prestasi dan aspek menarik yang membuat Duncan penting untuk diikuti
-
- Kontrak UFC dari DWCS lewat KO ronde 1—cara paling meyakinkan untuk masuk roster.
- Koleksi kemenangan UFC lewat tiga jalur: keputusan, submission cepat, hingga perang berdarah yang dimenangkan.
- Reputasi daya tahan + comeback yang membuatnya jadi “bad matchup” untuk banyak petarung yang mengandalkan start cepat.
- Representasi Skotlandia di kelas tersibuk UFC, sebuah panggung yang butuh karakter kuat untuk bertahan.
Masalah yang makin sulit dihapus
Chris Duncan bukan petarung yang mengandalkan satu senjata. Ia adalah petarung yang membuat lawan harus memikirkan dua hal sekaligus: “bagaimana menahan ledakannya?” dan “bagaimana tidak terjebak kuncian saat panik?”
Saat itulah julukannya terasa tepat: The Problem.
Dan jika ia terus menang dengan cara seperti ini—keras, tahan uji, dan kadang dramatis—maka “masalah” itu tidak hanya akan hidup di kartu undercard. Ia akan naik ke pertarungan yang lebih besar, melawan nama yang lebih besar, di divisi yang tidak pernah kehabisan calon korban.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda