Ballon d’Or: Sejarah, Evolusi, Dan Prestise Tertinggi Sepak Bola

Eva Amelia • 05/02/2026 • 3 min read
Ballon d’Or: Sejarah, Evolusi, Dan Prestise Tertinggi Sepak Bola

Jakarta – Dalam dunia sepak bola, tidak ada penghargaan individu yang memiliki bobot emosional dan sejarah sekuat Ballon d’Or. Sejak pertama kali digagas di sebuah kantor redaksi majalah di Paris, trofi berbentuk bola emas ini telah bertransformasi dari sekadar penghargaan regional menjadi simbol supremasi global yang menentukan status “legenda” bagi seorang pesepak bola.

Akar Tradisi: Inisiasi Gabriel Hanot

Sejarah Ballon d’Or dimulai pada tahun 1956. Penghargaan ini merupakan buah pikiran dari Gabriel Hanot, seorang jurnalis olahraga terkemuka sekaligus mantan pesepak bola Prancis yang bekerja untuk majalah France Football. Hanot, yang juga aktor intelektual di balik lahirnya European Cup (kini Liga Champions), ingin menciptakan sebuah penghargaan yang mengakui pemain terbaik di Eropa setiap tahunnya.

Pada edisi perdana tahun 1956, pemenangnya adalah Sir Stanley Matthews dari Blackpool. Kemenangan Matthews sangat ikonik karena ia mengalahkan legenda Real Madrid, Alfredo Di Stéfano, di usia 41 tahun. Pada saat itu, aturan Ballon d’Or sangat ketat: hanya pemain berkebangsaan Eropa yang bermain di klub Eropa yang berhak dinominasikan. Inilah alasan mengapa penghargaan ini awalnya dikenal dengan nama European Footballer of the Year.

Evolusi Aturan dan Globalisasi

Selama hampir empat dekade, batasan kewarganegaraan Eropa membuat nama-nama besar seperti Pelé dan Diego Maradona tidak pernah bisa memenangkan trofi ini secara kompetitif saat mereka masih aktif bermain. Ketimpangan sejarah ini baru diperbaiki pada tahun 1995 ketika France Football mengubah aturannya. Pemain dari benua mana pun berhak memenangkan Ballon d’Or, asalkan mereka bermain untuk klub di bawah naungan UEFA.

Tahun 1995 menjadi momen bersejarah ketika George Weah (AC Milan), yang berasal dari Liberia, menjadi pemain non-Eropa pertama yang membawa pulang bola emas tersebut. Perubahan ini membuka jalan bagi dominasi pemain-pemain Amerika Selatan seperti Ronaldo Nazário, Rivaldo, dan Ronaldinho di tahun-tahun berikutnya.

Barulah pada tahun 2007, Ballon d’Or benar-benar menjadi penghargaan global sepenuhnya. Aturan kembali diubah sehingga pemain dari klub mana pun di dunia—bukan hanya yang bermain di Eropa—bisa dinominasikan. Di tahun yang sama, sistem pemungutan suara juga diperluas, melibatkan jurnalis dari seluruh penjuru dunia.

Era Rivalitas Messi-Ronaldo

Jika kita berbicara tentang sejarah Ballon d’Or, mustahil untuk tidak membahas periode 2008 hingga 2023. Sepak bola dunia menyaksikan anomali sejarah di mana dua pemain, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, melakukan duopoli terhadap penghargaan ini.

Rivalitas ini dimulai pada tahun 2008 saat Ronaldo memenangkannya bersama Manchester United, diikuti oleh dominasi empat tahun berturut-turut oleh Messi (2009–2012). Selama lebih dari satu dekade, hanya Luka Modric (2018) dan Karim Benzema (2022) yang mampu mematahkan dominasi mereka. Lionel Messi kini memegang rekor terbanyak dengan 8 gelar, sebuah pencapaian yang hampir mustahil untuk dipecahkan dalam waktu dekat.

Kontroversi dan Penggabungan dengan FIFA

Perjalanan Ballon d’Or tidak selalu mulus. Antara tahun 2010 dan 2015, France Football melakukan kerja sama dengan FIFA untuk menggabungkan penghargaan ini dengan FIFA World Player of the Year, yang kemudian dikenal sebagai FIFA Ballon d’Or.

Namun, kerja sama ini menuai kritik tajam. Banyak yang merasa bahwa penggabungan suara dari jurnalis (yang cenderung objektif) dengan suara dari pelatih dan kapten tim nasional (yang cenderung bersifat politis atau subjektif) merusak esensi penghargaan tersebut. Pada tahun 2016, kemitraan ini berakhir. FIFA menciptakan penghargaannya sendiri bertajuk “The Best”, sementara Ballon d’Or kembali ke format aslinya yang lebih tradisional dan prestisius di bawah kendali France Football.

Kriteria dan Makna Simbolis

Proses penentuan pemenang Ballon d’Or saat ini melibatkan panel jurnalis dari 100 negara peringkat teratas FIFA. Kriteria penilaian pun semakin diperjelas, mengutamakan performa individu dan karakter pemain, diikuti oleh kesuksesan kolektif tim, serta kelas dan sportifitas pemain (fair play).

Mendapatkan Ballon d’Or bukan hanya tentang menjadi yang terbaik di tahun tersebut, tetapi juga tentang pengakuan abadi. Nama seorang pemenang akan bersanding dengan barisan legenda seperti Johan Cruyff, Michel Platini, dan Marco van Basten yang masing-masing memenangkan tiga gelar.

Ballon d’Or Féminin dan Masa Depan

Seiring perkembangan sepak bola wanita, France Football akhirnya memperkenalkan Ballon d’Or Féminin pada tahun 2018. Ada Hegerberg menjadi pemenang pertama, menandai pengakuan bahwa prestise bola emas ini harus mencakup seluruh spektrum olahraga tersebut.

Kini, di era pasca-Messi dan Ronaldo, Ballon d’Or memasuki babak baru. Nama-nama muda seperti Kylian Mbappé, Erling Haaland, dan Jude Bellingham mulai muncul sebagai kandidat utama. Meski formatnya terus berkembang dan teknologi seperti VAR sering menjadi bahan perdebatan dalam penilaian, satu hal tetap pasti: Ballon d’Or tetap menjadi standar emas bagi setiap pemain yang bercita-cita untuk diakui sebagai yang terbaik di planet bumi.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...