Jakarta – Di kelas heavyweight, banyak petarung percaya satu hal: semakin besar tubuhmu, semakin cepat pertarungan selesai. Tapi Martin Buday justru sering membuktikan kebalikannya. Ia memang besar—tinggi menjulang, bahu lebar, dan tenaga yang terasa “berat” ketika sudah menempel di clinch—namun gaya bertarungnya cenderung disiplin dan sabar. Buday bukan tipe yang selalu berburu KO liar sejak detik pertama. Ia lebih suka mengambil posisi, menutup ruang, menekan pelan-pelan sampai lawan kehilangan pilihan, lalu baru menghukum dari jarak dekat.
Buday lahir pada 11 November 1991 di Nitra, Cekoslowakia (kini Slovakia). Ia dikenal dengan julukan “Badys”, bernaung di Spartakus Fight Gym, dan namanya sempat menjadi bagian dari roster UFC heavyweight sebelum kemudian kembali menandatangani kontrak dengan OKTAGON MMA setelah UFC tidak memperpanjang kontraknya.
Profil singkat Martin Buday
-
- Nama: Martin Buday
- Julukan: Badys
- Lahir: 11 November 1991, Nitra, Cekoslowakia (sekarang Slovakia)
- Divisi: Heavyweight
- Tinggi / berat tanding: 6’4” – sekitar 265 lbs
- Reach: 77 inci
- Stance: Orthodox
- Tim: Spartakus Fight Gym
- Rekor (UFC Stats): 16–2 (tercantum di UFC Stats)
Catatan penting: beberapa basis data mencatat total kekalahan berbeda (misalnya Tapology/Sherdog menampilkan 16–3). Perbedaan ini sering muncul karena pembaruan yang tidak serempak atau klasifikasi hasil tertentu.
Awal yang tidak glamor: mulai bela diri untuk “menurunkan berat badan”
Kisah Buday tidak dimulai dari dongeng atlet kecil yang sejak bocah sudah juara nasional. Wikipedia mencatat ia mulai berlatih bela diri sekitar usia 18 tahun untuk menurunkan berat badan, lalu masuk lewat pintu Brazilian Jiu-Jitsu.
Di heavyweight, fondasi BJJ seperti ini penting: ketika tubuh besar bertemu tubuh besar, yang menang bukan hanya yang kuat—tapi yang paham cara menempel, mengunci, dan menghemat tenaga sambil tetap mengontrol posisi.
Itu menjelaskan kenapa Buday, meski dikenal sebagai petarung “fisik besar”, sering terlihat tenang. Seolah ia paham: di kelas berat, panik hanya membuat gas habis lebih cepat.
OKTAGON: sabuk yang mengubah status Buday di Eropa
Sebelum nama Buday melekat di UFC, ia lebih dulu membangun reputasi di Eropa. Ia tercatat sebagai mantan Juara Heavyweight OKTAGON MMA.
Gelar ini penting karena OKTAGON adalah promosi besar Eropa Tengah, panggung tempat petarung tak bisa hanya mengandalkan fisik. Untuk menjadi juara, kamu harus bisa menang dalam pertarungan yang tidak selalu “ideal”—kadang harus bertahan, kadang harus menahan tekanan, kadang harus mengamankan keputusan.
Dari fase ini, Buday membawa identitas yang terasa jelas: petarung yang tidak tergesa-gesa, tapi juga tidak memberi ruang nyaman bagi lawan.
Dana White’s Contender Series 2021: satu lutut, satu kontrak
Gerbang UFC terbuka pada Dana White’s Contender Series 2021 Week 7, ketika Buday menghadapi Lorenzo Hood. Hasil resminya tercatat sebagai KO/TKO (knee to the head) pada 4:56 ronde 1.
Finis di akhir ronde pertama ini memberi gambaran gaya Buday yang khas:
-
- ia tidak selalu meledak sejak detik awal,
- ia sabar menempel dan menekan,
- lalu ketika momen terbuka di jarak dekat—barulah ia “memukul saklar”.
Di heavyweight, satu lutut yang masuk bersih sering sama nilainya dengan satu musim penuh kerja keras. Untuk Buday, itu adalah kontrak UFC.
Tahun-tahun di UFC: menang dengan cara “membuat lawan lelah dulu”
Di UFC, Buday membangun citra sebagai heavyweight yang menang lewat kombinasi sederhana tapi menyiksa: tekanan konstan, clinch kuat, kontrol posisi, lalu pukulan jarak dekat. Bahkan ketika ia tidak selalu menghabisi lawan, ia sering menang karena membuat lawan bertarung dalam kondisi tidak nyaman.
Secara statistik, Buday memang punya variasi cara menang—kombinasi KO/TKO, submission, dan keputusan—yang menunjukkan ia tidak hanya “petarung ukuran”, tetapi juga punya perangkat dasar grappling untuk menyelesaikan.
Dan itulah esensi “Badys” yang sering luput: ia bukan monster KO satu pukulan seperti sebagian heavyweight. Ia lebih mirip mesin press—menekan sedikit demi sedikit sampai lawan kehilangan tenaga, kehilangan posisi, lalu kehilangan tempo.
Keluar dari UFC, kembali ke OKTAGON: bab baru setelah keputusan yang mengejutkan
Hal menarik (dan cukup mengejutkan untuk banyak penggemar) adalah fase setelah itu. MMA Fighting melaporkan bahwa Buday—yang disebut memiliki rekor 7–1 di UFC dan bahkan datang dari kemenangan atas Marcus “Buchecha” Almeida—tetap tidak mendapatkan perpanjangan kontrak dari UFC, lalu menandatangani kontrak dengan OKTAGON MMA.
Untuk petarung, momen seperti ini sering terasa pahit. Tetapi Buday menanggapinya dengan kepala tegak—dan secara naratif, ini membuat kisahnya makin kuat: seorang heavyweight Eropa yang sudah merasakan panggung terbesar, lalu kembali untuk membangun ulang, mungkin dengan target yang sama: datang lagi dengan versi yang lebih tajam.
Gaya bertarung Buday: kenapa clinch dan tekanan jadi senjata utamanya?
Kalau dirangkum, Buday adalah heavyweight yang memaksimalkan tiga hal:
-
- Ukuran tubuh untuk menang posisi
Tinggi 6’4”, bobot 265-an, reach 77 inci—ini bukan sekadar angka; ini alat untuk menutup jarak dan membuat lawan “terkunci” di dekat pagar. - Clinch sebagai ruang kerja
Banyak heavyweight membenci clinch karena menguras napas. Buday justru nyaman di sana—tempat ia bisa mengontrol kepala lawan, menekan pinggul, dan menghukum dengan pukulan pendek. - Kesabaran sebagai strategi
Ia sering menang bukan karena satu momen liar, tapi karena lawan perlahan kehilangan ritme. Ini gaya yang mungkin tidak selalu menghasilkan highlight, tapi sangat efektif.
- Ukuran tubuh untuk menang posisi
Prestasi dan poin penting karier
-
- Mantan Juara Heavyweight OKTAGON MMA
- Mendapat kontrak UFC lewat DWCS 2021: menang TKO (knee to the head) vs Lorenzo Hood, ronde 1
- Tercatat bernaung di Spartakus Fight Gym dan dikenal dengan julukan Badys
- Menandatangani kontrak OKTAGON MMA setelah UFC tidak memperpanjang kontrak (laporan MMA Fighting)
“Badys” dan daya tarik heavyweight yang tidak tergesa-gesa
Di divisi yang sering dipenuhi petarung “sekali pukul selesai”, Buday menawarkan versi berbeda: heavyweight yang menang lewat tugas-tugas kecil yang menghabisi lawan—menempel, menekan, mengunci ruang, lalu memukul pendek sampai lawan menyerah pada tekanan.
Dan mungkin di situlah daya tariknya: Buday membuat pertarungan heavyweight terasa seperti permainan catur yang berat—bukan cepat, tapi brutal dengan cara yang tenang.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda