Jakarta – Di Southern California, panas matahari dan kerasnya budaya olahraga bertemu dalam satu ruang bernama gym. Di sana, disiplin bukan slogan; ia adalah kebiasaan. Setiap ronde sparring seperti ujian kecil, setiap luka seperti tanda tangan, dan setiap kemenangan amatir adalah tiket—bukan ke kemewahan, melainkan ke tantangan yang lebih besar.
Diego Paez tumbuh dari lingkungan seperti itu. Ia adalah petarung Muay Thai berdarah Kolombia–Amerika, lahir dan besar di Southern California, dan mengasah kemampuannya di Classic Fight Team, Fountain Valley—sebuah rumah latihan yang dikenal menuntut mental sekeras fisik.
Perjalanannya bukan kisah instan. Ia dimulai dari usia remaja, dari ring amatir, dari kebiasaan menang yang dibangun pelan-pelan. Dan ketika akhirnya ia masuk panggung ONE Championship, ia belajar satu pelajaran yang selalu hadir di level tertinggi: kamu boleh berbakat, tapi kamu harus bisa bertahan—dan beradaptasi—untuk menang.
Profil Singkat
-
- Asal: Southern California, Amerika Serikat (Kolombia–Amerika)
- Camp: Classic Fight Team (Fountain Valley, California)
- Divisi: Flyweight Muay Thai ONE Championship (sekitar 61 kg/135 lbs)
- Mulai latihan Muay Thai: usia 15 tahun
- Rekor amatir: 10-0 (tak terkalahkan) – sesuai narasi yang sering menyertai profilnya di ONE
- Mulai profesional: 2017
Dari Remaja 15 Tahun ke Ambisi Serius
Paez mulai berlatih Muay Thai saat berusia 15 tahun. Awalnya, ini terdengar seperti kisah klasik: anak muda datang ke gym, jatuh cinta pada ritme latihan, lalu bermimpi bertarung. Tetapi pada Paez, “jatuh cinta” itu cepat berubah menjadi komitmen. ONE menuliskan bahwa ia memulai latihan di usia 15 dan menjalani pertarungan pertamanya beberapa tahun kemudian—sebuah penanda bahwa ia bukan sekadar berlatih untuk kebugaran, melainkan untuk kompetisi.
Kisah amatirnya—10 kemenangan tanpa kekalahan—membentuk fondasi yang penting: kebiasaan memecahkan masalah di ring. Rekor amatir yang bersih bukan hanya soal angka, tapi juga soal karakter. Petarung amatir yang menang terus-menerus biasanya punya satu kesamaan: mereka belajar cepat, dan tidak gampang panik saat pertarungan berubah kacau.
Lalu pada 2017, Paez menyeberang menjadi profesional.
Di titik itu, banyak petarung baru menyadari bahwa dunia pro bukan sekadar versi lebih keras dari amatir—ini dunia yang berbeda: tempo lebih tinggi, hukuman lebih berat, dan “nama besar” tidak peduli kamu datang dari mana.
Tempat Agresivitas Dipaksa Jadi Terstruktur
Nama Classic Fight Team bukan sekadar latar. Dalam kisah Paez, ini seperti “laboratorium” yang membentuk gaya bertarungnya: agresif, namun tetap punya rencana. ONE menegaskan bahwa Paez mengasah craft striking-nya di Classic Fight Team, Fountain Valley.
Di gym seperti ini, petarung agresif biasanya diberi dua pilihan:
menjadi “brawler” yang mengandalkan keberanian, atau
menjadi striker penekan yang tetap disiplin.
Paez jelas bergerak ke opsi kedua. Ia menekan, tetapi tidak asal maju. Ia mencoba memotong ring, membuat lawan tak nyaman, lalu memaksa pertarungan terjadi dalam kecepatan yang ia sukai.
Teknis, Eksplosif, dan Berjiwa “Pressure Fighter”
Label paling mudah untuk Paez adalah agresif. Namun agresifnya bukan cuma soal banyak pukulan. Ia agresif dengan cara yang lebih “dewasa”:
1. Tekanan sebagai bahasa utama
Paez suka mengambil ruang. Ia membuat lawan bekerja sejak awal—bertahan, bergerak, merespons. Ketika lawan sibuk merespons, Paez bisa mencuri momen untuk menyerang lebih tajam.
2. Striking tajam yang dibangun dari kebiasaan
ONE menggambarkan duel-duelnya sebagai pertarungan yang penuh aksi dan menyinggung kualitas striking-nya. Bahkan jelang laga besar, ONE menyoroti footwork dan kemampuan menyerangnya sebagai senjata penting.
3. Kemampuan adaptasi (ini yang paling penting)
Agresif itu bagus—sampai bertemu lawan yang bisa memancing kamu masuk perangkap. Paez belajar bahwa untuk menang di ONE, ia harus bisa mengubah rencana di tengah pertarungan.
Dan pelajaran itu datang sangat cepat.
Debut di ONE Fight Night 28
Pada ONE Fight Night 28, Paez bertemu rivalnya Sean “The One” Climaco dalam laga flyweight Muay Thai. Pertarungan itu berakhir dengan kekalahan split decision untuk Paez—tipis, ketat, dan menyakitkan karena terasa dekat.
ONE bahkan menulisnya sebagai “razor-close thriller” dan menggambarkan bagaimana Climaco memakai boxing yang rapi serta low kick untuk meredam Paez yang terus maju.
Bagi petarung yang datang dengan reputasi agresif, kekalahan seperti ini sering menjadi momen penting: kamu sadar bahwa menekan saja tidak cukup. Kamu perlu membaca, perlu mengatur, dan perlu menang dengan cara yang membuat juri yakin.
Paez merasakan itu. Dan ia tidak menutupinya.
Dalam pemberitaan menjelang laga berikutnya, ONE menekankan bahwa Paez termotivasi untuk memulai “winning stretch” baru setelah kekalahan tipis dari Climaco pada Februari di ONE Fight Night 28.
Kebangkitan di ONE Fight Night 32
Lalu datanglah panggung yang menguji bukan hanya teknik, tetapi mental.
Di ONE Fight Night 32, Paez menghadapi Johan “Jojo” Ghazali, remaja sensasi yang sudah punya reputasi highlight KO. Laga ini sejak awal dipromosikan sebagai duel yang wajib ditonton—bentrokan antara hype muda yang eksplosif dan petarung yang lapar pembuktian.
Hasilnya: Diego Paez menang split decision pada 6 Juni 2025 di Lumpinee Stadium.
ONE menulis kemenangan itu sebagai kemenangan pertama Paez di ONE Championship, setelah ia “outlasted” Ghazali dalam perang flyweight Muay Thai yang memeras tenaga.
Di titik ini, narasi Paez berubah. Ini bukan lagi tentang “petarung agresif yang seru ditonton”. Ini tentang petarung yang bisa mengalami kekalahan tipis, lalu kembali dan menang dalam pertarungan tipis yang lain—tapi kali ini, juri memihaknya.
Kemenangan seperti ini biasanya membentuk dua hal:
-
- kepercayaan diri (aku bisa menang di panggung ini),
- kredibilitas (aku bisa menang melawan lawan yang sedang naik).
Apa yang Berbeda? “Paez yang Baru” Setelah Kekalahan Debut
Menariknya, jelang laga berikutnya, ONE menyoroti aspek-aspek yang terlihat dalam kebangkitan Paez—bukan hanya tekanan, tetapi juga kreativitas.
Dalam preview laga berikutnya, ONE menyebut Paez mengandalkan elusive footwork, creative counter-striking, dan variasi spinning attacks ketika mengalahkan Ghazali.
Ini detail yang penting karena menunjukkan evolusi:
-
- Ia tidak hanya maju lurus.
- Ia mulai membuat lawan ragu.
- Ia menambah “lapisan” pada gaya agresifnya.
Dalam Muay Thai modern, terutama di ONE, petarung yang hanya punya satu kecepatan biasanya cepat terbaca. Spinning attacks, counter kreatif, dan footwork licin memberi Paez dimensi baru: ia bisa menyerang sambil menghindar, bukan sekadar menyerang sambil berharap tahan balasannya.
Paez dan Identitas “Fighter yang Lapar”
Di olahraga tarung, ada dua jenis petarung:
-
- yang bertarung karena mereka suka bertarung,
- dan yang bertarung karena mereka butuh membuktikan sesuatu.
Paez terasa lebih dekat ke tipe kedua. Dari cara ONE menarasikannya—“sekarang gilirannya” di tengah sukses rekan-rekan satu gym—kamu bisa menangkap mood itu: ada rasa bahwa ia sedang mengejar momen besar.
Ia juga membawa identitas Kolombia–Amerika, yang memberi warna tersendiri di divisi flyweight Muay Thai: pasar Amerika semakin besar, tetapi petarung bergaya Muay Thai murni dari Amerika yang bisa tahan uji di Lumpinee tetap bukan hal biasa.
Ujian Berikutnya: Black Panther di ONE Fight Night 40
Setelah momentum dari kemenangan atas Ghazali, Paez dijadwalkan menghadapi Black Panther dalam laga flyweight Muay Thai di ONE Fight Night 40, pada 13 Februari 2026 di Lumpinee Stadium.
Bagi Paez, ini jenis laga yang sangat menentukan:
-
- jika ia menang, ia mengunci status sebagai ancaman nyata di divisi,
- jika ia kalah, ia tetap punya kredibilitas, tapi harus memulai ulang pendakian.
Yang membuat duel ini menarik adalah benturan karakter: Black Panther dikenal penuh determinasi dan tekanan, sementara Paez mulai menemukan versi agresif yang lebih kreatif.
Ini bukan sekadar pertandingan. Ini tes apakah “Paez yang berkembang” bisa menembus level berikutnya.
Diego Paez dan Seni Bangkit di Level Tertinggi
Diego Paez bukan kisah sempurna tanpa cela. Justru sebaliknya—ia kisah petarung yang masuk ONE, mengalami kekalahan tipis di debut melawan Sean Climaco, lalu membalas dengan kemenangan tipis yang sama tegangnya atas Johan Ghazali.
Dan di antara dua split decision itu, ada sesuatu yang lebih bernilai daripada statistik: kemampuan untuk belajar di bawah sorotan.
Di divisi flyweight Muay Thai ONE, tidak ada waktu untuk berlama-lama meratapi hasil. Kamu either berkembang, atau tenggelam. Paez—setidaknya sejauh ini—memilih berkembang. Dan itu membuatnya layak ditunggu.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda