Jakarta – Ada petarung yang membuat lawan terlihat “sibuk” sejak detik pertama, guard naik-turun, kaki ragu melangkah, kepala bergerak ke kiri-kanan, seolah pikirannya ditarik-tarik seperti benang. Lalu, ketika lawan akhirnya merasa menemukan ritme… sebuah pukulan telak mendarat dan semua rencana buyar. Di situlah julukan Zhu Kangjie terasa hidup: “The Hypnotist / One Punch Man.”
Zhu lahir di Hefei, Anhui, Tiongkok, pada 16 Januari 1996 (sebagian database internasional menuliskan 15 Januari 1996, tetapi sejumlah sumber lain mencantumkan 16 Januari). Ia bertarung di featherweight (145 lbs/66 kg) dengan stance orthodox, berangkat dari latar kickboxing, dan berafiliasi dengan Haosheng Fight Gym.
Rekor profesionalnya tercatat 21 menang, 4 kalah, 1 no contest—angka yang memberi konteks mengapa ia disebut striker berbahaya. Dalam salah satu basis data, Zhu bahkan dikreditkan punya persentase kemenangan KO/TKO yang sangat tinggi (lebih dari separuh kemenangannya). Namun, yang benar-benar mengangkat namanya ke radar publik global bukan sekadar rekor. Itu adalah Road to UFC—jalur “turnamen hidup-mati” yang sering menjadi pintu utama talenta Asia menuju kontrak UFC.
Profil singkat
-
- Nama: Zhu Kangjie (朱康杰)
- Julukan: The Hypnotist / One Punch Man
- Lahir: Hefei, Anhui, Tiongkok — 16 Januari 1996 (sebagian sumber menulis 15 Januari 1996)
- Divisi: Featherweight (145 lbs / 66 kg)
- Stance: Orthodox
- Basis gaya: Kickboxing
- Afiliasi: Haosheng Fight Gym
- Rekor: 21–4 (1 NC)
“The Hypnotist”: ketika tempo jadi senjata
Julukan “The Hypnotist” terdengar puitis, tapi kalau diterjemahkan ke gaya bertarung, maknanya sederhana: Zhu mengontrol perhatian lawan. Ia membuat lawan memikirkan terlalu banyak hal sekaligus, jab, low kick, ancaman pukulan keras, langkah memotong sudut, hingga lawan kehilangan satu hal paling penting: kebebasan untuk menyerang dengan nyaman.
Di divisi featherweight, ini aset besar. Banyak striker punya power, tetapi tidak semua striker punya kemampuan “mengunci” ritme. Dan Zhu, dengan latar kickboxing dan stance orthodox, dibangun untuk menembak dari jarak menengah: cukup dekat untuk mendaratkan kombinasi, cukup jauh untuk menghindari balasan paling berbahaya.
Haosheng Fight Gym dan wajah baru striker Tiongkok
Afiliasi Zhu dengan Haosheng Fight Gym memberi konteks yang menarik: ekosistem MMA Tiongkok kini lebih “modern”—bukan lagi sekadar talenta lokal yang bertarung di sirkuit domestik, melainkan petarung yang tumbuh dalam sistem latihan yang menyiapkan mereka untuk format internasional.
Di jalur Road to UFC, detail kecil seperti kontrol jarak, disiplin defensif, dan stamina tiga ronde sering menjadi pembeda antara “striker highlight” dan “striker turnamen.” Zhu menunjukkan ia bisa bertahan dalam format turnamen, yang artinya, ia tidak hanya mengandalkan satu pukulan.
Road to UFC: dua kemenangan yang mengantar nama Zhu keluar dari peta lokal
-
- Shanghai, 18 Mei 2024 — menang atas Tatsuya Ando. Di pembuka Road to UFC Season 3, Zhu menghadapi Tatsuya Ando dan menang lewat unanimous decision. Ini kemenangan yang penting secara narasi, karena memberi pesan bahwa Zhu tidak harus “KO cepat” untuk menang. Ia bisa bermain rapi, mengambil ronde, dan menutup pertarungan tanpa kehilangan struktur.
- Las Vegas, 23 Agustus 2024 — menang tipis atas Shin Haraguchi. Zhu bertemu Shin Haraguchi dan menang lewat split decision. Kemenangan split biasanya berarti pertarungan berjalan di batas tipis—satu ronde bisa ditentukan oleh satu momen. Dan justru itulah ujian yang sering membentuk petarung: apakah ia panik ketika pertarungan rapat, atau tetap disiplin hingga akhir. Zhu lulus ujian itu.
Final yang tertunda: ketika cedera menahan langkah di momen paling penting
Rencana awal Road to UFC Season 3 menempatkan final di UFC Macau: Yan vs. Figueiredo pada 23 November 2024. Namun final featherweight antara Zhu dan Xie Bin ditunda karena Zhu mengalami cedera. Di titik ini, kisah Zhu berubah dari “progres mulus” menjadi “ujian mental.” Karena untuk striker yang sedang panas, tidak ada musuh yang lebih membosankan daripada waktu: latihan tanpa tanggal pasti, menunggu tubuh pulih, dan menjaga fokus ketika sorotan mulai pindah ke nama lain.
Pertemuan dengan Xie Bin akhirnya terjadi: kemenangan yang menegaskan ketahanan mental
Penundaan itu tidak membuat kisahnya berhenti. Zhu akhirnya bertemu Xie Bin dan menang lewat split decision pada 23 Mei 2025 di Shanghai.
Kemenangan ini penting karena terasa seperti “bab penutup yang tertunda.” Bukan kemenangan KO yang dramatis—melainkan kemenangan yang menunjukkan ia bisa kembali dari jeda, kembali bertarung rapat, dan tetap menemukan cara menang. Untuk petarung yang dijuluki One Punch Man, justru kemenangan jenis ini sering paling berharga: menang ketika pertarungan tidak memberi jalur cepat.
Lalu, kapan debut UFC?
Di sini ada detail yang perlu diluruskan secara faktual.
Zhu dijadwalkan tampil pada kartu UFC Macau November 2024, tetapi pertarungan finalnya ditunda karena cedera.
Sementara itu, data penjadwalan terbaru menunjukkan Zhu akan tampil dalam event UFC pada 28 Maret 2026 di Seattle melawan Marcio Barbosa.
Dengan kata lain: alih-alih “debut pada 23 November 2024,” kisah yang paling konsisten di berbagai sumber adalah debutnya sempat tertahan, dan panggung UFC berikutnya yang jelas tercatat berada di Maret 2026.
Kenapa Zhu Kangjie menarik di featherweight?
-
- Ia striker, tapi bukan striker satu dimensi. Zhu menang di turnamen lewat keputusan (Shanghai) dan menang “rapat” lewat split decision (Las Vegas, Shanghai 2025). Ini menunjukkan ia tidak hanya hidup dari KO, meski identitasnya memang striker eksplosif.
- Gaya kickboxing-nya “UFC-friendly”. Featherweight UFC penuh atlet cepat. Striker yang bisa mengatur jarak, memotong sudut, dan menjaga tempo sering lebih konsisten dibanding striker yang hanya mengandalkan power. Zhu punya fondasi itu.
- Ia sudah ditempa format turnamen. Road to UFC menuntut disiplin, pemulihan cepat, dan mental kuat. Zhu sudah melewati panggung Shanghai, Las Vegas, penundaan cedera, lalu comeback menang.
Zhu Kangjie bukan sekadar petarung dengan julukan keren. Ia adalah cerita tentang striker Tiongkok generasi baru: menang lewat kontrol, bertahan di pertarungan tipis, sempat tertahan cedera di momen final, lalu kembali menutup urusan yang tertunda. Jika ia benar-benar melangkah ke oktagon UFC pada 2026, maka bab berikutnya akan menjawab pertanyaan paling penting bagi semua “One Punch Man” yang naik level: apakah satu pukulan tetap cukup, ketika lawan-lawan di UFC tidak mudah goyah?