Mengenal Den Sitnayoktaweeptaphong (Sak Buriram)

Piter Rudai 02/03/2026 5 min read
Mengenal Den Sitnayoktaweeptaphong (Sak Buriram)

Jakarta – Di Muay Thai, kemenangan tidak selalu lahir dari satu pukulan pamungkas. Kadang, kemenangan dibangun dari sesuatu yang lebih “sunyi” tetapi jauh lebih melelahkan bagi lawan: ritme, volume serangan, dan stamina yang tak putus-putus. Tipe petarung seperti ini biasanya tidak mencuri perhatian lewat satu adegan dramatis, melainkan lewat tiga ronde yang terasa seperti dikejar ombak—datang, menekan, mundur sebentar, lalu datang lagi lebih deras.

Di panggung ONE Friday Fights yang keras, cepat, dan tak memberi ruang untuk ragu, Den Sitnayoktaweeptaphong tumbuh sebagai sosok yang mewakili tradisi Muay Thai Thailand: agresif, penuh kombinasi, dan setia pada prinsip “mengumpulkan kerusakan” sampai lawan mulai kehilangan kendali. Lahir pada 23 Januari 1997, Den bertarung di bawah bendera Sak Buriram, dengan tinggi 163 cm, dan tampil di ONE Championship terutama pada divisi strawweight Muay Thai.

Rekornya di ONE Friday Fights memang masih ringkas—1 kemenangan dan 1 kekalahan—namun dua laga itu justru terasa seperti dua bab penting: satu bab tentang pelajaran mahal, dan satu bab tentang kebangkitan yang membuat orang mulai menoleh kembali.

Den dan identitas Sak Buriram

Den bukan petarung yang “mencari jalan pintas”. Ia adalah pekerja ring—petarung yang ritmenya hidup dari kombinasi: pukulan cepat yang disambung tendangan, lalu kembali ke pukulan, seolah ia sedang mengetuk pintu pertahanan lawan berkali-kali sampai engselnya longgar.

ONE mencatat ia mewakili tim Sak Buriram dan memiliki tinggi 163 cm—postur yang membuatnya harus cerdas mengelola jarak. Dengan tinggi seperti itu, Den biasanya harus “menjemput” pertarungan: masuk-keluar jarak dengan kaki aktif, memotong sudut, lalu menumpahkan kombinasi sebelum lawan sempat menata ulang posisi.

Gaya yang seperti ini sangat Thailand: bukan sekadar agresif, tetapi agresif yang tetap berstruktur—ada pola, ada tempo, ada momen naik-turun intensitas.

Malam yang mengajarkan bahwa margin kemenangan itu tipis

Perjalanan Den di ONE Friday Fights berawal pada ONE Friday Fights 19 (2 Juni 2023). Di malam itu, ia bertemu Petrapha Sor Sopit dan harus menerima kekalahan via split decision.

Split decision adalah jenis hasil yang paling “menggantung”. Ia bukan kekalahan yang menghancurkan, tetapi juga bukan kekalahan yang bisa dilupakan begitu saja. Split decision biasanya berarti ada ronde yang bisa diperdebatkan; ada momen yang bisa dibalik; ada detik-detik yang, kalau dieksekusi sedikit berbeda, mungkin mengubah hasil akhir.

Bagi petarung tempo tinggi seperti Den, pelajaran dari laga seperti ini sering brutal namun berharga: serangan banyak saja tidak cukup—yang dinilai adalah kebersihan pukulan, dampak, kontrol ring, dan bagaimana ia menutup ronde. Dalam format tiga ronde di ONE Friday Fights, satu ronde yang “hilang” karena terlalu boros atau karena lawan mencuri momen bisa menjadi harga yang mahal.

Yang menarik, Den bertahan sampai akhir dan laga berjalan penuh. Ini memberi sinyal bahwa ia punya modal utama: ketahanan dan kepercayaan diri untuk bertarung panjang—dua hal yang tidak bisa dibeli, hanya bisa dibentuk oleh jam terbang.

Jeda yang membuat Den matang: dari “ramai” menjadi “efektif”

Setelah laga itu, Den tidak tiba-tiba menjadi headline. Ia bergerak seperti kebanyakan petarung tradisional Thailand: kembali ke gym, memperbaiki detail, mempertebal stamina, dan menyusun ulang cara bertarung agar agresivitasnya punya hasil yang terlihat.

Di level elit, perbedaan petarung yang “menekan” dan petarung yang “mendominasi” sering terletak pada detail kecil:

    • kapan ia memilih menyerang tubuh untuk mematikan kaki lawan,
    • kapan ia memaksa pertukaran di jarak dekat,
    • kapan ia justru menahan diri agar tidak “habis bensin” di ronde ketiga.

Den dikenal sebagai tipe yang mengandalkan stamina—dan stamina yang baik sering membuat seorang petarung berani melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain: menjaga tempo ketika lawan mulai melambat.

Menang pada hari ulang tahun, mengalahkan Jaoinsee PK Saenchai

Lalu datang momen yang terasa sinematik: 23 Januari 2026—tanggal yang sama dengan hari lahirnya—Den kembali ke ONE Friday Fights dan meraih kemenangan penting atas Jaoinsee PK Saenchai lewat unanimous decision pada ONE Friday Fights 139.

Unanimous decision bukan sekadar “menang angka”. Ia adalah pengakuan bahwa Den tampil cukup jelas untuk mengunci penilaian juri tanpa perdebatan berarti. Di format yang cepat seperti ONE Friday Fights, kemenangan mutlak biasanya dibangun dari:

    1. konsistensi serangan: tidak ada ronde yang benar-benar kosong,
    2. kontrol tempo: ia yang mengatur kecepatan pertukaran,
    3. efektivitas: kombinasi yang bukan hanya ramai, tetapi “kena” dan terlihat.

ONE bahkan mencatat laga ini sebagai kemenangan Den di strawweight Muay Thai dalam daftar hasil event dan halaman atletnya.

Bagi Den, kemenangan ini terasa seperti titik balik: bukan hanya membalas luka dari split decision di masa lalu, tetapi juga menunjukkan bahwa ia mampu mengubah agresivitas menjadi dominasi yang lebih rapi.

Membaca gaya Den: Muay Thai tradisional dengan “mesin” tempo tinggi

Kalau Den adalah sebuah gaya, maka gaya itu berdiri di atas tiga pilar:

1. Kombinasi cepat dan berlapis

Den bukan tipe yang menunggu satu serangan “sempurna”. Ia justru membangun peluang lewat rangkaian: pukulan pembuka untuk membuat lawan bereaksi, tendangan untuk mengunci jarak, lalu pukulan lanjutan untuk mengumpulkan poin dan kerusakan.

2. Stamina sebagai senjata utama

Stamina Den bukan hanya soal kuat—tetapi soal keberanian untuk tetap agresif di ronde akhir. Banyak petarung melemah di menit-menit terakhir; Den justru menjadikan menit-menit itu sebagai tempat untuk “mengunci” kemenangan.

3. Agresif, tapi tetap tradisional

Agresif ala Muay Thai tradisional biasanya bukan brawl tanpa arah. Ia agresif dengan pola: tekanan langkah, serangan terukur, lalu reset posisi, kemudian masuk lagi. Den terasa seperti ini—menekan, mundur setengah langkah, lalu menekan lagi dengan kombinasi baru.

Mengapa petarung seperti Den sering “lebih berbahaya” dari yang terlihat

Ada alasan mengapa petarung tempo tinggi sering jadi ujian berat di ONE Friday Fights:

    • Mereka mengubah pertarungan menjadi kerja lembur. Lawan bukan hanya melawan teknik, tapi melawan rasa lelah dan stres karena terus dikejar.
    • Mereka memaksa lawan membuat keputusan cepat. Ketika tekanan datang bertubi-tubi, kesalahan kecil sering muncul—guard turun sedikit, langkah telat, atau reaksi berlebihan yang membuka celah.
    • Mereka cocok untuk format 3 ronde. Karena tiga ronde adalah perang ritme. Siapa yang “terlihat lebih aktif dan efektif” sering punya nilai lebih dalam penilaian.

Dengan modal 1-1, Den memang belum menjadi nama paling besar. Tapi kemenangan atas Jaoinsee memberi pesan bahwa ia punya kapasitas untuk naik kelas: bukan hanya hadir, melainkan mengunci hasil.

Membangun momentum di strawweight ONE

Di Muay Thai ONE Friday Fights, momentum sering lebih penting daripada “nama besar”. Petarung yang menang dengan meyakinkan biasanya mendapat peluang lebih besar, lawan yang lebih menarik, dan panggung yang lebih tinggi. Den sudah memiliki satu hal yang paling dicari promotor: gaya yang aktif dan enak ditonton—agresif, kombinatif, dan tidak mudah padam.

Kalau ia bisa menjaga tren ini—memperjelas efektivitas serangan, mengunci ronde akhir dengan kuat, dan menjaga disiplin energi—Den berpotensi menjadi salah satu nama yang rutin muncul dan perlahan naik dalam ekosistem strawweight Muay Thai.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...