Jakarta – Ada petarung yang terlihat “lahir untuk ring” sejak kecil—sejak SD sudah terbiasa memukul samsak, sejak remaja sudah hidup di kamp latihan. Yu Yau Pui justru datang dari pintu yang jauh lebih sunyi: piano dan tari. Dua dunia yang melatih kepekaan terhadap ritme, ketepatan gerak, dan disiplin yang tak terlihat glamor—tapi justru menjadi pondasi ketika ia memutuskan berbelok ke Muay Thai.
Yu lahir 1 Maret 1993 di Hong Kong, China. Profil resmi ONE menyebut masa kecilnya dihabiskan untuk belajar piano dan menari atas permintaan orang tua, demi membentuk kebiasaan baik dan disiplin. Dari sana, jalannya berubah: remaja yang semula akrab dengan panggung seni, akhirnya menemukan panggung lain—ring Muay Thai—dan di sana ia menemukan sisi dirinya yang berbeda: agresif, berani, dan suka menekan.
Di ONE Championship, Yu bertarung di atomweight Muay Thai (115 lbs/52 kg), dengan tinggi 165 cm dan stance southpaw. Dalam catatan promosi (dan juga ringkasan record pihak ketiga), Yu dikenal sebagai pressure fighter yang menyerang dengan kombinasi cepat, menumpuk volume, lalu mematahkan lawan melalui akumulasi. Rekornya di ONE tercatat 6 menang dan 2 kalah, dengan 3 kemenangan KO/TKO.
Yang membuat kisah Yu menarik bukan hanya angka menang-kalah, tapi cara ia menang: seperti gelombang yang tak putus. Dan yang membuatnya semakin “nyata” adalah kenyataan bahwa ia bukan hanya menang atas nama-nama yang bisa “dipaksa jatuh”, tapi juga sudah merasakan duel keras melawan elite—dan belajar dari kekalahan yang menyakitkan.
Profil singkat
-
- Nama: Yu Yau Pui
- Lahir: 1 Maret 1993, Hong Kong
- Tinggi: 165 cm
- Divisi: Atomweight Muay Thai (115 lbs / 52 kg)
- Stance: Southpaw
- Gym/Tim: KF 1
- Rekor ONE: 6–2 (3 KO/TKO)
“Ritme” yang pindah rumah: dari tuts piano ke ring Lumpinee
Ada alasan kenapa latar seni Yu terasa relevan. Piano mengajarkan timing, tari mengajarkan keseimbangan dan koordinasi. Ketika Yu beralih ke Muay Thai, ia seperti memindahkan semua konsep itu ke tubuh: langkah menjadi metronom, kombinasi menjadi notasi, dan tekanan menjadi crescendo.
ONE menggambarkan masa kecil itu sebagai fase pembentukan disiplin. Dan disiplin itulah yang nantinya terlihat dalam gaya Yu: ia tidak sekadar menyerang, ia menyerang dengan pola, lalu menambah lapisan-lapisan tekanan sampai lawan kehilangan ritme—persis seperti musisi yang mengambil alih tempo pertunjukan.
Southpaw 165 cm yang tidak suka mundur
Sebagai southpaw, Yu otomatis memberi teka-teki sudut bagi banyak lawan orthodox: jalur serang kiri masuk dari arah yang “mengganggu kebiasaan.” Namun Yu bukan southpaw yang menunggu counter sambil jalan mundur. Ia lebih seperti petarung yang ingin menguasai ring sejak awal:
-
- memotong sudut,
- menembak kombinasi cepat,
- memaksa lawan bertahan sambil bergerak.
Ketika lawan bergerak sambil bertahan, mereka jarang punya waktu menyusun serangan balik. Di situlah Yu unggul: ia membuat pertarungan menjadi “kerja lembur” bagi lawan—mereka bukan hanya melawan pukulan, tapi melawan tempo.
Titik lompat besar
Salah satu kemenangan paling ikonik Yu di ONE adalah saat ia menghentikan Zehra Doğan lewat KO/TKO (punches to the body) pada Ronde 2 (1:28) di ONE Friday Fights 42.
Kemenangan body shot seperti ini selalu punya cerita ganda:
-
- Ini bukan “hoki” satu pukulan. Body shot biasanya hasil dari akumulasi—lawan sudah lelah, napas sudah pendek, guard sudah naik, lalu tubuh menjadi korban.
- Ini menunjukkan IQ bertarung: Yu tidak memaksa headhunting, ia merusak mesin napas dulu, baru mematikan.
ONE sendiri merilis highlight khusus untuk finishing itu—menegaskan bahwa momen tersebut adalah salah satu “cap” karier Yu di Friday Fights.
Naik ke panggung Fight Night
Setelah membangun momentum di Friday Fights, Yu masuk ke panggung yang lebih besar: ONE Fight Night yang disorot global. Di ONE Fight Night 20, Yu mengalahkan Lara Fernandez lewat unanimous decision.
SCMP menggambarkan kemenangan itu sebagai kemenangan keputusan yang “one-sided”/dominan, sekaligus mengangkat Yu sebagai petarung Hong Kong yang benar-benar mengumumkan dirinya di panggung dunia. Ini penting, karena menunjukkan Yu tidak hanya berbahaya saat laga “berantakan”, tetapi juga mampu menang saat pertarungan menuntut kontrol tiga ronde: menjaga jarak, mencetak poin bersih, dan menekan tanpa menghabiskan bensin.
Dua malam pahit yang membentuknya
Karier yang naik cepat selalu punya momen jatuh yang keras—dan Yu merasakannya di level elite.
KO 49 detik oleh Amy Pirnie
Di ONE Fight Night 24, Yu kalah KO ronde pertama dalam 0:49 dari Amy Pirnie.
Kekalahan cepat sering terasa brutal untuk pressure fighter: karena mereka terbiasa “menang lewat volume”, tapi di level atas, satu kesalahan entry saja bisa dihukum.
Kalah keputusan dari Martyna Kierczynska
Yu juga tercatat kalah keputusan dari Martyna Kierczynska di ONE Fight Night 29.
Jika kekalahan dari Pirnie adalah “alarm instan”, kekalahan dari Kierczynska adalah “pelajaran panjang”: bagaimana tetap menekan ketika lawan cukup kuat untuk menahan tekanan dan membalas dengan rapi.
Identitas Yu di ONE: 6–2 yang dibangun dari kerja keras, bukan sensasi
Rekor 6–2 sering terlihat simpel, tapi konteksnya membuat angka itu berat:
-
- Ia menang di atmosfer Friday Fights yang brutal—di mana tempo tinggi dan pertarungan sering berubah liar.
- Ia menang di panggung Fight Night yang menuntut ketenangan dan kontrol.
- Ia sudah merasakan duel keras melawan nama-nama elite dan tidak menghilang setelah kalah.
MuayThaiRecords merangkum rekor Yu sebagai 6–2–0 dengan 3 kemenangan KO/TKO, tinggi 165 cm, dan berat pertarungan sekitar 52 kg. Ini menggambarkan petarung yang punya keseimbangan: cukup beringas untuk finishing, tapi juga cukup matang untuk menang keputusan.
“Seni” yang berubah jadi senjata
Yang membuat Yu berbeda dari banyak petarung adalah narasi transformasinya: dari seni ke pertarungan. Tapi ini bukan sekadar “latar unik.” Ada efek nyata dalam gaya:
-
- Ritme kombinasi: Yu sering menekan dengan rangkaian serangan, bukan pukulan tunggal.
- Koordinasi kaki: pressure fighter tanpa footwork akan mudah dipotong. Yu menekan sambil memotong sudut—seperti penari yang tahu posisi panggung.
- Disiplin latihan: latar piano menanamkan budaya mengulang teknik sampai rapi.
Yu Yau Pui sedang menulis bab “paling dewasa” dalam kariernya
Yu Yau Pui sudah membuktikan bahwa ia bisa menjadi petarung Hong Kong yang bersinar di ONE—bukan hanya karena menang, tapi karena cara ia bertarung: southpaw agresif, tempo tinggi, kombinasi cepat, dan tekanan tanpa henti.
Namun bab berikutnya selalu lebih sulit: bagaimana mengubah gaya pressure menjadi lebih aman di level elite—tanpa kehilangan identitas. Kekalahan cepat dari Pirnie dan duel keras melawan Kierczynska adalah “biaya kuliah” di tingkat dunia.
Jika ia berhasil mengambil pelajaran itu—menambah lapisan defensif, memperhalus entry, dan tetap menjaga volume—Yu bisa menjadi salah satu nama atomweight Muay Thai ONE yang paling sulit ditaklukkan: petarung yang menyerang seperti gelombang, tapi berpikir seperti pemain musik yang menguasai tempo.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda