Davey Grant: Kisah “Dangerous” Dari Darlington

Piter Rudai 19/03/2026 7 min read
Davey Grant: Kisah “Dangerous” Dari Darlington

Jakarta – Di MMA, ada petarung yang terkenal karena sabuk. Ada yang dikenal karena rekor sempurna. Lalu ada pula petarung yang dihormati karena satu hal yang jauh lebih sulit dipertahankan: kemampuan untuk tetap relevan setelah melewati begitu banyak fase keras dalam karier. Davey Grant termasuk dalam kelompok itu. Ia bukan sekadar petarung bantamweight asal Inggris yang sudah lama berada di UFC. Ia adalah gambaran tentang daya tahan, tentang keberanian untuk terus bertarung di usia yang bagi banyak orang sudah terlalu senior untuk divisi yang sangat cepat ini, dan tentang bagaimana seorang atlet bisa tetap menarik karena gaya bertarungnya selalu membawa ancaman.

Davey Grant lahir pada 18 Desember 1985 di Darlington, County Durham, Inggris. Ia bertarung di divisi bantamweight, memakai stance ortodoks, memiliki bobot sekitar 135–136 pound dan jangkauan 69 inci, serta berlatih di SBG UK/Bishop Auckland. Julukannya adalah “Dangerous,” dan julukan itu terasa tepat karena ia menggabungkan striking agresif dengan ancaman submission yang nyata dari Brazilian Jiu-Jitsu. Rekor profesionalnya kini tercatat 17 kemenangan dan 8 kekalahan, dan ESPN juga menampilkan laga berikutnya melawan Adrian Luna Martinetti pada 25 April.

Yang membuat kisah Grant begitu menarik bukan hanya angka 17-8 itu. Daya tariknya justru lahir dari bentuk karier yang tidak pernah sederhana. Ia masuk ke UFC lewat The Ultimate Fighter: Team Rousey vs. Team Tate pada 2013, lalu menjalani perjalanan panjang yang penuh luka, kebangkitan, kemenangan spektakuler, dan kekalahan menyakitkan. Tetapi di sepanjang semua itu, satu hal tidak berubah: Davey Grant hampir selalu datang ke octagon sebagai petarung yang berbahaya.

Dari Darlington menuju dunia tarung profesional

Darlington bukan nama yang otomatis diasosiasikan dengan kilau besar MMA dunia. Justru itu yang membuat kisah Grant terasa begitu membumi. Ia lahir jauh dari pusat glamor olahraga ini, tumbuh dari lingkungan Inggris timur laut yang identik dengan karakter pekerja keras, lalu membangun dirinya lewat proses yang panjang. Dalam banyak hal, Grant terasa seperti representasi klasik petarung Inggris: keras, jujur, tidak terlalu dibuat-buat, dan lebih senang membiarkan pertarungan berbicara daripada citra. Detail asal-usulnya dari Darlington dan County Durham konsisten muncul dalam profil-profil biografisnya.

Afiliasinya dengan SBG UK yang berbasis di Bishop Auckland juga penting. Lingkungan gym seperti itu memberi fondasi teknik dan mental yang kuat, terutama untuk petarung yang bertahan lama di level tertinggi. Dari sana, Grant mengembangkan identitas bertarung yang khas: ia bisa menyerang dengan aktif saat laga berdiri, tetapi juga punya insting grappling yang matang untuk mengubah duel kapan saja. Dalam divisi bantamweight, kombinasi seperti ini sangat berharga, terutama bagi petarung veteran yang harus terus menyesuaikan diri dengan lawan-lawan yang lebih muda dan lebih cepat.

The Ultimate Fighter: pintu besar yang mengubah segalanya

Bagi banyak petarung generasinya, The Ultimate Fighter adalah gerbang emas menuju UFC. Davey Grant mendapat kesempatan itu pada musim Team Rousey vs. Team Tate pada 2013. Ia termasuk salah satu peserta pria di musim tersebut dan berada di bawah Team Ronda Rousey. Itu adalah masa ketika TUF masih sangat berpengaruh: bukan sekadar reality show, tetapi sistem seleksi brutal yang menuntut kemampuan teknis, mental, dan daya tahan di bawah tekanan kamera serta eliminasi cepat.

Grant memanfaatkan peluang itu dengan baik. Ia mencatat kemenangan di ajang TUF dan akhirnya mendapatkan kontrak resmi UFC. Bagi seorang petarung dari sirkuit Inggris, ini adalah titik balik yang sangat besar. Ia tidak masuk ke UFC sebagai bintang yang sudah jadi, tetapi sebagai petarung yang harus membuktikan semuanya dari bawah. Justru karena itu, jalur TUF memberi bobot tambahan pada kisah kariernya. Ia datang melalui jalur kompetitif, bukan karpet merah.

Ortodoks, agresif, dan licin saat grappling

Secara teknik, Davey Grant adalah petarung yang menyenangkan untuk dianalisis karena ia bukan spesialis satu arah. Ia bertarung dengan stance ortodoks dan punya striking yang aktif, tetapi identitasnya tidak berhenti di sana. ESPN mencantumkan gaya bertarungnya sebagai Brazilian Jiu-Jitsu, dan itu masuk akal jika melihat komposisi kemenangannya. Dari 17 kemenangan profesionalnya, banyak yang lahir lewat submission, menandakan bahwa kemampuan grappling-nya bukan pelengkap, melainkan salah satu fondasi utama permainannya.

Namun Grant bukan grappler pasif yang hanya menunggu laga menyentuh matras. Salah satu daya tarik terbesarnya justru datang dari striking yang agresif dan berani. Ia senang bertukar serangan, punya kombinasi yang hidup, dan sering menciptakan pertarungan yang terasa “berbahaya” bahkan ketika hasilnya belum jelas. Ini yang membuat julukan “Dangerous” terasa otentik. Lawan tidak pernah bisa benar-benar santai menghadapinya, sebab ancaman datang dari dua arah sekaligus: pukulan yang aktif dan submission yang bisa muncul dari scramble atau transisi yang tidak diduga.

Veteran yang tidak pernah benar-benar jinak

Karier UFC Grant tidak dibangun dari jalur lurus. Ia sempat mengalami fase naik turun, seperti banyak alumni TUF lainnya. Tetapi justru di situlah letak nilai besarnya. Davey Grant adalah salah satu contoh petarung yang menolak hilang meski berkali-kali diuji. Ia terus bertahan di organisasi terbesar MMA, dan lebih dari itu, ia tetap menjadi lawan yang sulit diprediksi. Dalam olahraga yang sangat kejam terhadap usia, terutama di bantamweight, ketahanan seperti ini adalah prestasi tersendiri.

Usia menjadi bagian menarik dari ceritanya. Lahir pada Desember 1985, Grant bertarung di divisi yang sangat menuntut kecepatan, refleks, dan volume kerja tinggi. Banyak petarung bantamweight mengalami penurunan lebih cepat daripada kelas yang lebih berat. Tetapi Grant tetap aktif, tetap kompetitif, dan tetap berbahaya. Itu menandakan bahwa ia mengandalkan lebih dari sekadar atletisme mentah. Ia bertahan karena pengalaman, insting, dan kemampuan membaca pertarungan.

Momen-momen penting yang menjaga namanya tetap hidup

Dalam fase veteran kariernya, Grant tetap mampu menciptakan momen yang mengangkat namanya kembali. Salah satu yang paling mencolok adalah kemenangan KO atas Louis Smolka, yang menjadi bukti bahwa di usia senior untuk bantamweight, ia masih punya daya ledak di atas kaki. Momen lain yang sangat penting datang saat ia menaklukkan Raphael Assuncao lewat inverted triangle choke pada Maret 2023, sebuah submission yang bukan hanya efektif, tetapi juga artistik. Kemenangan seperti ini menegaskan bahwa Grant tetap memiliki kreativitas dan keberanian dalam bertarung.

Bahkan dalam kekalahan, ia kerap tetap meninggalkan kesan. Sherdog menyoroti kekalahannya dari Charles Jourdain di UFC Vancouver 2025 sebagai duel yang tetap relevan secara naratif, karena Grant masih dipandang sebagai veteran berbahaya. ESPN juga menampilkan hasil kalah dari Da’Mon Blackshear pada Juli 2025, yang membuat rekor profesionalnya menjadi 17-8. Semua ini menunjukkan satu hal: Grant tidak pernah menjadi sekadar nama pelengkap kartu. Ia selalu masuk ke pertarungan dengan potensi mengacaukan rencana lawan.

Rekor 17-8: angka yang lebih dalam dari permukaannya

Rekor Davey Grant saat ini tercatat 17 kemenangan dan 8 kekalahan menurut UFC Stats, dan angka itu juga konsisten dengan pembaruan hasil terbaru di ESPN dan Sherdog. Namun rekor ini tidak boleh dibaca secara dangkal. Bagi petarung veteran seperti Grant, angka menang-kalah tidak menceritakan seluruh kualitasnya. Yang membuat rekor itu bernilai adalah komposisinya: ia punya kemenangan lewat KO, submission, dan keputusan, yang menunjukkan fleksibilitas sebagai petarung. Ia bukan petarung yang bertahan karena satu senjata sempit. Ia bertahan karena bisa menemukan banyak cara untuk menang.

Rekor itu juga berbicara tentang daya tahan karier. Banyak petarung tidak pernah sampai ke tahap memiliki 25 pertarungan profesional dengan level lawan seperti yang dihadapi Grant. Bertahan cukup lama untuk membangun rekor seperti itu di UFC dan level setara berarti seorang atlet telah berkali-kali membuktikan kualitasnya. Jadi, ketika melihat 17-8, yang seharusnya terbaca bukan hanya jumlah kekalahan, tetapi juga umur panjang karier dan kualitas persaingan yang telah ia lewati.

Kenapa Davey Grant tetap disukai penggemar

Salah satu alasan terbesar Grant tetap punya tempat khusus di hati penggemar adalah karena ia hampir selalu membawa unsur hiburan. Ia bukan petarung yang cenderung bermain aman demi kemenangan tipis. Gaya bertarungnya sering mengundang aksi, membuka ruang pertukaran, dan membuat laga terasa hidup. Pada saat yang sama, kemampuan submission-nya menjaga ancaman dari arah lain. Kombinasi ini membuat laga Davey Grant jarang terasa membosankan.

Ada pula faktor manusiawi yang membuatnya mudah dihormati. Ia datang dari jalur TUF, melewati fase sulit, tidak pernah menjadi superstar utama, tetapi tetap bertahan dan memberi pertarungan yang layak diingat. Dalam era ketika banyak petarung dibentuk oleh momentum media sosial, Grant terasa seperti pengingat akan nilai lama dalam MMA: kerja keras, ketangguhan, dan kesiapan untuk terus bertarung meski sorotan tidak selalu mengarah kepadanya.

Masa depan: veteran yang masih punya ancaman

Melihat jadwal ESPN yang menampilkan laga Davey Grant melawan Adrian Luna Martinetti, jelas bahwa ceritanya belum selesai. Ia masih aktif, masih mendapat pertarungan, dan masih diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa pengalaman bisa melawan usia. Tentu jalannya tidak akan mudah. Lawan-lawan baru datang dengan tubuh yang lebih segar dan ritme yang lebih cepat. Tetapi jika ada satu hal yang sudah dibuktikan Grant selama bertahun-tahun, itu adalah bahwa ia tetap berbahaya bahkan ketika publik mulai meragukannya.

Sebagai veteran bantamweight, Grant kini berada dalam posisi unik. Ia bukan hanya bertarung untuk menang, tetapi juga untuk mempertahankan warisan sebagai salah satu petarung Inggris yang paling gigih dan paling menghibur di generasinya. Ia mungkin tidak selalu jadi sorotan utama, tetapi petarung seperti inilah yang membuat roster UFC terasa punya kedalaman dan karakter.

Davey Grant adalah petarung MMA asal Inggris yang membangun kariernya dengan cara yang keras dan jujur. Lahir di Darlington pada 18 Desember 1985, ia masuk ke UFC lewat The Ultimate Fighter 18, berkembang sebagai petarung ortodoks dengan striking agresif dan submission yang berbahaya, lalu bertahan cukup lama untuk mengumpulkan rekor 17-8 di salah satu divisi tercepat dalam olahraga ini. Ia bertarung dari SBG UK, membawa julukan “Dangerous,” dan hingga hari ini julukan itu masih terasa pantas.

Yang membuatnya spesial bukan hanya kemenangan yang ia kumpulkan, tetapi cara ia bertahan. Grant adalah kisah tentang petarung yang tidak pernah berhenti memberi alasan untuk diperhatikan. Dalam dunia yang sangat mudah melupakan, itu adalah kualitas yang langka. Dan mungkin justru karena itulah Davey Grant tetap menjadi salah satu nama yang paling layak dihormati di bantamweight UFC.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...