Jakarta – Ada petarung yang paling “hidup” ketika jarak aman terbentuk—mereka menari di luar jangkauan, memetik poin satu demi satu. Dione Barbosa justru terlihat paling nyaman ketika jarak itu lenyap. Saat clinch menempel, pinggul bertabrakan, lalu pertarungan jatuh ke kanvas—di situlah ia berubah menjadi “penyihir” yang sesuai julukannya: “The Witch.” Sekali lawan terseret ke bawah, banyak yang merasa seperti masuk ruangan gelap tanpa pintu keluar: satu kesalahan kecil, dan tangan atau leher sudah dikunci.
Dione lahir pada 8 Mei 1992 di Recife, Pernambuco, Brasil. Rekor profesionalnya tercatat 8 kemenangan dan 4 kekalahan, dengan pola kemenangan yang menggambarkan identitasnya jelas: 4 kemenangan lewat submission dan 4 lewat keputusan. Di UFC, ia aktif di Women’s Flyweight (125 lbs/56,7 kg), membawa gaya grappling agresif yang berulang: takedown, kontrol, lalu berburu kuncian—sering kali sebelum ronde sempat “matang.”
Profil singkat
-
- Nama: Dione Barbosa (juga tercatat sebagai Dione Silva Barbosa de Lima di beberapa database)
- Julukan: “The Witch”
- Lahir: 8 Mei 1992, Recife, Pernambuco, Brasil
- Divisi: UFC Women’s Flyweight (125 lbs)
- Tinggi / reach: sekitar 168 cm / 169 cm
- Rekor pro MMA: 8–4 (4 submission, 4 keputusan)
- Gerbang UFC: Dana White’s Contender Series (menang submission ronde 1 vs Rainn Guerrero)
Recife: kota pesisir, mental “tahan banting”
Recife bukan kota yang membesarkan petarung dengan karpet merah. Ia kota pesisir yang keras—ritme hidup cepat, dan banyak atlet Brasil tumbuh dengan satu prinsip: kalau ingin naik kelas, kamu harus membuktikan diri dengan cara paling nyata. Bagi Dione, “cara paling nyata” itu bukan pukulan jarak jauh. Itu kontak, kontrol, dan kuncian.
Di Brasil, Brazilian Jiu-Jitsu bukan sekadar olahraga; ia semacam bahasa kedua. Banyak petarung bisa “BJJ”, tetapi tidak banyak yang menjadikannya identitas utama di MMA modern—terutama di flyweight wanita yang sering dipenuhi striker cepat. Dione memilih jalur yang lebih jarang: ia ingin membuat lawan terjebak dalam permainan yang memeras tenaga.
Kenapa dijuluki “The Witch”
Julukan “The Witch” terasa pas karena gaya Dione sering bekerja seperti mantra: pelan-pelan, lalu tiba-tiba selesai.
Ada grappler yang menang lewat kontrol panjang, menahan lawan sampai bel. Dione sering terlihat lebih “lapar”: begitu mendapat posisi yang tepat—kepala lawan turun, lengan mulai terjebak, atau punggung terbuka—ia tidak menunggu lama. Ia menutup kuncian dengan cepat, seolah lawan hanya diberi satu kesempatan untuk selamat.
Data rekornya memperkuat citra itu: separuh kemenangannya datang dari submission. Dan yang paling “UFC-friendly”: ia bisa menang keputusan juga, artinya ia tidak runtuh ketika finishing tidak langsung muncul.
DWCS dan armbar yang membuka pintu
Banyak prospek masuk UFC lewat KO viral. Dione masuk lewat bahasa yang ia kuasai: submission.
Di Dana White’s Contender Series 2023 (Week 5), Dione mengalahkan Rainn Guerrero lewat armbar di ronde pertama (4:35). Ini bukan sekadar kemenangan—ini “kartu nama” yang jelas untuk UFC: petarung yang bisa menyelesaikan cepat di malam audisi, di bawah tekanan, tanpa perlu menunggu pertarungan berjalan jauh.
Kemenangan itu juga memberi gambaran tentang prioritasnya: ia ingin membawa pertarungan ke tanah, mengunci posisi, lalu menutup dengan kuncian yang tegas.
Menang, jatuh, lalu bangkit dengan kuncian
Masuk UFC berarti masuk ke level di mana takedown tidak selalu mudah, dan lawan tidak panik saat ditekan. Di sinilah cerita Dione jadi menarik: ia tetap setia pada identitasnya, tapi harus menajamkan detail.
Menang di UFC 301: bukti bisa menang “penuh tiga ronde”
Salah satu penanda penting adalah kemenangan atas Ernesta Kareckaite di UFC 301 lewat unanimous decision. Ini momen yang sering dibutuhkan grappler: bukti bahwa ia tetap bisa menang saat submission tidak datang, dengan kontrol, tempo, dan disiplin selama tiga ronde.
“Kutukan” arm-triangle untuk Diana Belbita
Lalu ada momen yang membuat publik kembali mengingat julukan “The Witch”: pada UFC Vegas 105 (5 April 2025), Dione menundukkan Diana Belbita lewat arm-triangle choke di ronde pertama. Kemenangan cepat seperti ini adalah bensin untuk petarung grappling—karena publik melihat lagi versi terbaiknya: takedown, posisi, kuncian, selesai.
UFC 319: rematch Brasil yang ketat vs Karine Silva
Di UFC 319 (16 Agustus 2025), Dione menghadapi sesama Brasil, Karine Silva, dalam rematch dari karier awal mereka. Karine menang lewat unanimous decision (29-28 di semua kartu juri).
Menariknya, laporan menyebut pertarungan itu berlangsung ketat dengan pertukaran grappling yang seru—jenis duel yang sering ditentukan oleh detail kecil: siapa yang lebih lama mengontrol, siapa yang lebih bersih mencetak damage, dan siapa yang lebih “terlihat menang” di mata juri.
Kekalahan ini tidak menghapus ancamannya—justru mengingatkan bahwa flyweight UFC adalah level di mana bahkan spesialis submission harus menang bukan hanya dengan niat, tetapi dengan efisiensi.
Gaya bertarung
Kalau harus diringkas, gaya Dione seperti ini:
-
- Masuk jarak dulu, baru berpikir menang. Ia tidak selalu ingin bertukar pukulan panjang. Ia ingin “menempelkan” lawan pada situasi yang tidak nyaman.
- Takedown bukan sekali—tapi berulang. Grappler kelas UFC jarang mendapat takedown bersih di percobaan pertama setiap laga. Yang membuat Dione berbahaya adalah keberaniannya mengulang.
- Kuncian sebagai tujuan, bukan bonus. Dengan 4 kemenangan submission, Dione bukan hanya “bisa BJJ”—ia menyelesaikan.
Dan ada satu detail penting: ia tidak punya kemenangan KO/TKO di rekor pro yang tercatat di beberapa database utama—ini memperkuat narasi bahwa senjatanya benar-benar grappling.
Melissa Gatto dan peluang menghidupkan momentum
Dione dijadwalkan menghadapi Melissa Gatto pada 4 April 2026 di UFC Apex, Las Vegas (kelas 125 lbs).
Catatan penting: jadwal UFC bisa berubah—beberapa situs pihak ketiga kadang menandai bout “cancelled” atau berubah status. Namun listing event dan fight center menunjukkan matchup ini ada di kartu UFC Fight Night: Moicano vs Duncan (nama event bisa berubah sesuai promosi/penyiaran).
Untuk Dione, pertarungan ini seperti kesempatan klasik petarung grappling
-
- menang dengan kontrol dan takedown,
- atau menang cepat lewat submission,
- dan membuka pintu ke lawan yang lebih tinggi peringkatnya.
“The Witch” dan ancaman yang selalu sama
Dione Barbosa adalah tipe petarung yang membuat lawan bertarung dengan rasa takut yang berbeda. Bukan takut pada satu pukulan KO dari jarak jauh, tetapi takut pada satu momen yang tampak sepele: pinggul jatuh, punggung terbuka, lengan tersangkut—dan semuanya selesai.
Dengan rekor 8–4, empat submission, dan pengalaman UFC yang sudah mengajarinya kerasnya level elit, Dione berada di fase karier yang menarik: bukan pemula, tapi juga belum selesai berkembang. Dan di divisi yang selalu mencari finisher, “The Witch” punya sesuatu yang selalu dicari: kemampuan mengakhiri laga ketika kesempatan muncul.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda