Jakarta – Di dunia Muay Thai Thailand, lahirnya petarung-petarung tangguh seolah tidak pernah berhenti. Dari kamp-kamp latihan yang keras, dari ritme hidup yang disiplin, dan dari tradisi panjang olahraga nasional Thailand, selalu muncul nama-nama baru yang perlahan membangun reputasi mereka. Salah satu nama yang patut mendapat perhatian adalah Pethuahin Jitmuangnon, petarung asal Thailand yang lahir pada 19 Oktober 1999 dan kini tampil di panggung ONE Championship. Di organisasi tersebut, ia tercatat berlaga dengan batas divisi 127,6 lbs / 57,9 kg, memiliki tinggi 169 cm, dan mewakili Jitmuangnon Gym. Di halaman resmi ONE, rekor Pethuahin saat ini tercatat 2 kemenangan dan 1 kekalahan.
Pethuahin bukan tipe petarung yang dibangun semata-mata oleh sensasi. Ia lebih terasa seperti representasi klasik petarung Thailand: tenang, terlatih, efisien, dan sanggup bertahan dalam tempo laga yang keras. Gaya bertarungnya dikenal khas Muay Thai, dengan penekanan pada kombinasi pukulan dan tendangan serta ketahanan fisik yang kuat. Karakter seperti ini membuatnya menjadi sosok yang menarik, karena ia tidak hanya mengandalkan satu senjata, melainkan membangun pertarungan lewat ritme, tekanan, dan konsistensi dari awal hingga akhir ronde. Data profil resminya di ONE juga menguatkan identitas itu: ia datang dari Thailand, berada di bawah panji Jitmuangnon Gym, dan masuk dalam kelompok petarung yang sedang berusaha menapaki jalan menuju level yang lebih tinggi di panggung internasional.
Perjalanan Pethuahin di ONE Championship dimulai dengan kemenangan yang memberi sinyal bahwa ia bukan sekadar pelengkap kartu pertandingan. Pada ONE Friday Fights 29 tanggal 18 Agustus 2023, ia meraih kemenangan lewat unanimous decision atas Pongsiri Sujeebameekiew dalam laga Muay Thai 128 lbs. Hasil ini penting bukan hanya karena memberi angka pertama di kolom kemenangan, tetapi juga karena menjadi penanda bahwa ia mampu tampil efektif dalam pertarungan penuh tiga ronde di bawah sorotan ONE. Kemenangan angka seperti ini sering kali menunjukkan kualitas yang tidak selalu tampak dari sekadar highlight: kontrol ritme, disiplin menjaga jarak, akurasi serangan, dan kemampuan membaca pertarungan secara matang.
Namun perjalanan petarung tidak pernah benar-benar bergerak lurus. Setelah kemenangan tersebut, Pethuahin mengalami ujian berat di ONE Friday Fights 37, ketika ia kalah dari Aslamjon Ortikov melalui TKO pada ronde ketiga. Kekalahan seperti ini sering menjadi momen paling jujur dalam karier seorang petarung. Ia memaksa seorang atlet untuk menilai ulang jarak, tempo, pertahanan, dan daya tahan di situasi tekanan tinggi. Di atas kertas, hasil itu memang menodai laju awalnya. Tetapi dalam narasi karier, kekalahan justru sering menjadi batu loncatan yang menentukan: apakah seorang petarung akan goyah, atau justru kembali dengan versi yang lebih matang. Dalam kasus Pethuahin, jawabannya datang kemudian.
Dari tiga penampilan yang tercatat di ONE, ada pola yang cukup jelas dalam perjalanan Pethuahin. Dua kemenangannya sama-sama datang lewat keputusan juri, sementara satu kekalahannya terjadi via TKO. Statistik resmi ONE juga mencatat bahwa dari dua kemenangan itu, belum ada yang ia selesaikan lewat finis, sehingga finish rate-nya di ONE saat ini berada di angka 0 persen. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tampak biasa saja. Namun untuk pembaca yang memahami Muay Thai, statistik tersebut justru menggambarkan sesuatu yang penting: Pethuahin adalah petarung yang cenderung membangun kemenangan dengan kontrol dan konsistensi, bukan semata-mata ledakan satu momen. Ia mampu bertahan dalam laga yang panjang, menjaga efektivitas serangan, dan mengumpulkan poin secara disiplin.
Inilah salah satu aspek menarik dari sosok Pethuahin. Banyak penonton modern menyukai petarung yang eksplosif dan selalu mengejar knockout. Tetapi ada nilai tersendiri pada petarung yang menang lewat struktur, ketelitian, dan daya tahan. Pethuahin tampak berada di jalur itu. Dengan kombinasi pukulan dan tendangan yang rapi, ia tidak harus selalu tampil liar untuk terlihat berbahaya. Sebaliknya, ia bisa tetap berbahaya justru karena terukur. Ia dapat menjaga pertarungan tetap berada dalam bentuk yang ia pahami, lalu perlahan mengikis lawan dengan volume, akurasi, dan ketahanan. Deskripsi gaya bertarung yang menekankan kombinasi dan fisik yang kuat sangat cocok dengan pola hasil yang terlihat di atas panggung ONE.
Pada usia 26 tahun menurut profil resmi ONE per April 2026, Pethuahin berada di fase yang menarik dalam kariernya. Ia bukan lagi prospek yang sangat mentah, tetapi juga belum berada di titik akhir perkembangan. Ini adalah fase ketika petarung biasanya mulai memasuki kematangan kompetitif: pengalaman sudah mulai terkumpul, tubuh masih berada dalam kondisi prima, dan pemahaman taktik mulai lebih tajam. Dengan rekor 2-1 di ONE, ia masih memiliki ruang yang sangat terbuka untuk membangun reputasi lebih besar, terlebih karena ONE Friday Fights telah menjadi jalur penting bagi banyak petarung untuk membuktikan kualitas dan membuka peluang menuju sorotan yang lebih luas.
Menariknya, Pethuahin juga masih terus aktif dalam orbit pertandingan ONE. ONE baru saja mengumumkan bahwa ia dijadwalkan menghadapi Rambong Sor Therapat di ONE Friday Fights 150 pada 10 April 2026 dalam laga flyweight Muay Thai. Jadwal ini menunjukkan bahwa namanya tetap berada dalam sirkulasi kompetitif yang serius. Bagi Pethuahin, laga semacam ini sangat penting, karena kemenangan bisa menjadi pijakan baru untuk menambah momentum dan memperkuat posisinya di tengah persaingan ketat petarung Muay Thai Thailand di ONE.
Jika melihat keseluruhan perjalanannya sejauh ini, Pethuahin Jitmuangnon adalah potret petarung yang tumbuh lewat proses, bukan gebrakan sesaat. Ia sudah merasakan kemenangan pembuka, mengalami kemunduran, lalu menunjukkan kapasitas untuk bangkit lagi. Narasi seperti inilah yang sering membentuk fondasi karier jangka panjang. Dalam dunia bela diri, khususnya Muay Thai, banyak petarung hebat tidak langsung melejit lewat satu malam ajaib. Mereka justru tumbuh dari kumpulan laga keras, dari hasil-hasil ketat, dan dari pembelajaran yang datang setelah kekalahan.
Pada akhirnya, daya tarik Pethuahin tidak hanya terletak pada angka rekor 2-1 semata. Ia menarik karena mewakili esensi petarung Muay Thai Thailand: disiplin, tahan banting, dan terus bergerak maju tanpa banyak kebisingan. Dengan usia yang masih produktif, dasar teknik yang solid, serta pengalaman yang mulai bertambah di panggung ONE Championship, Pethuahin Jitmuangnon masih memiliki banyak halaman yang belum ditulis dalam kariernya. Dan justru di situlah pesonanya berada—ia adalah petarung yang ceritanya belum selesai, sosok yang masih terus membangun namanya satu ronde, satu laga, dan satu kemenangan demi kemenangan.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda