Perjalanan Ubaid Hussain Ke Panggung Besar ONE Championship

Piter Rudai 21/04/2026 5 min read
Perjalanan Ubaid Hussain Ke Panggung Besar ONE Championship

Jakarta – Di dunia Muay Thai modern, kemunculan petarung muda berbakat bukan hal langka. Namun, hanya sedikit yang bisa datang ke panggung sebesar ONE Championship lalu langsung membuat publik merasa bahwa mereka sedang melihat sesuatu yang istimewa. Ubaid Hussain adalah salah satu nama itu. Ia adalah petarung Muay Thai asal Pakistan-Inggris, lahir pada tahun 2005, berlatih di Kiatphontip Gym, Leeds, Inggris, dan kini mulai menegaskan dirinya sebagai salah satu prospek paling menarik di kelas ringan ONE Championship. Profil resmi ONE mencatatnya dengan julukan “Bad”, berasal dari Pakistan / United Kingdom, dan hingga kini masih tak terkalahkan di organisasi tersebut.

Yang membuat Ubaid menarik bukan hanya usianya yang sangat muda, tetapi juga cara ia menang. Anda menyebut bahwa sejak debut pada Desember 2024 ia mencatat laju tanpa kekalahan, termasuk kemenangan KO dan beberapa kemenangan lewat keputusan bulat. Data resmi ONE mendukung gambaran itu. Profil atletnya menunjukkan lima kemenangan beruntun di ONE: satu KO ronde pertama atas Petsinchai Kingballroofphuket, lalu empat kemenangan unanimous decision atas Khusen Salomov, Petnakian Sor Nakian dua kali, dan Brazil Aekmuangnon. Dengan kata lain, Ubaid tidak hanya mampu meledak cepat, tetapi juga sanggup menjaga kualitas teknik dan kontrol selama tiga ronde penuh.

Salah satu hal paling menarik dari kisah Ubaid Hussain adalah latar tempat ia berkembang. Ia berlatih di Kiatphontip Gym, Leeds, sebuah nama yang sudah cukup dikenal dalam lingkar Muay Thai Inggris. Dalam konteks petarung muda Eropa atau Asia Selatan yang ingin serius di Muay Thai, tumbuh di gym seperti itu berarti tidak hanya belajar memukul dan menendang, tetapi juga memahami ritme, disiplin, dan detail teknis Muay Thai yang sesungguhnya. Itu terasa penting karena Ubaid tidak tampil seperti petarung muda yang hanya mengandalkan semangat. Ia bertarung dengan struktur, kontrol, dan ketenangan yang biasanya lahir dari sistem latihan yang kuat.

Perjalanan Ubaid di ONE Championship dimulai dengan cara yang nyaris sempurna untuk menarik perhatian. Pada ONE Friday Fights 90 tanggal 6 Desember 2024, ia melakoni debut melawan Petsinchai Kingballroofphuket dalam duel Muay Thai 132-pound catchweight. Hasilnya sangat meyakinkan: Ubaid menang KO ronde pertama pada 2:10. Artikel hasil resmi ONE menulis bahwa ia “made quick work” atas lawannya, sementara video sorotan resmi juga menyebut debut itu sebagai blistering first-round KO. Debut semacam ini selalu punya makna besar. Bukan hanya karena memberi kemenangan pertama, tetapi karena langsung membangun identitas di mata penonton: Ubaid datang bukan untuk sekadar mencoba panggung, melainkan untuk menaklukkannya.

Menariknya, kemenangan atas Petsinchai tidak datang dengan cara yang liar dan berantakan. Artikel ONE menjelang laga berikutnya menjelaskan bahwa performa breakout itu dibangun lewat knees yang menusuk dan pukulan tajam, sebuah kombinasi yang menunjukkan bahwa bahkan sejak debut, Ubaid sudah membawa karakter Muay Thai yang lengkap. Ia bukan hanya petarung yang mengandalkan satu tangan keras atau satu tendangan cepat. Ia terlihat tahu bagaimana menekan lawan, memadukan serangan, dan memilih momen yang tepat untuk memukul lebih keras.

Setelah menang KO di debut, banyak petarung muda biasanya menghadapi ujian kedua yang lebih sulit: membuktikan bahwa kemenangan pertama bukan kebetulan. Ubaid menjawab tantangan itu pada ONE Friday Fights 105 tanggal 18 April 2025, saat ia menghadapi sesama petarung tak terkalahkan, Khusen “Lee” Salomov, lagi-lagi di kelas 132 lbs Muay Thai. ONE menulis bahwa Ubaid tetap sempurna setelah meraih kemenangan unanimous decision, dan laporan resminya menggambarkan dirinya sebagai “buzzsaw from the onset,” terus memaksa clinch, meluncurkan hook, elbow, knee, dan kick secara beruntun. Kemenangan ini penting karena memperlihatkan versi lain dari dirinya. Bila debut menunjukkan sisi ledakan, laga melawan Salomov menunjukkan ketahanan dan kematangan.

Dari sana, narasi Ubaid mulai terasa semakin kuat. Ia bukan lagi sekadar petarung muda yang menarik, tetapi petarung muda yang mulai membangun resume serius. Pada ONE Friday Fights 115 tanggal 4 Juli 2025, ia mengalahkan Petnakian Sor Nakian lewat unanimous decision dalam laga 130 lbs Muay Thai. Hasil ini kemudian terulang dengan lawan yang sama di ONE Friday Fights 121, di mana profil resmi ONE kembali mencatat kemenangan unanimous decision atas Petnakian. Dua kemenangan semacam ini memberi warna yang penting pada kariernya. Ubaid tidak hanya menang saat semuanya berjalan ideal dan cepat. Ia juga bisa menghadapi lawan yang sudah mengenalnya, lalu tetap keluar sebagai pemenang melalui disiplin teknik dan kontrol penuh tiga ronde.

Puncak sorotan sejauh ini datang saat ia melangkah ke ONE Friday Fights 138 pada 16 Januari 2026. Menjelang laga itu, ONE menulis bahwa Ubaid datang ke pertarungan melawan Brazil Aekmuangnon dengan momentum besar, membawa rekor 13-0, dan berada pada titik ketika dirinya mulai benar-benar diperhitungkan. Artikel pra-laga ONE menekankan bahwa pertarungan ini punya taruhan personal dan profesional, dan Ubaid sendiri mengatakan bahwa ia merasa perlu menyelesaikan lawannya. Namun yang terjadi di atas ring sedikit berbeda: ia tidak mendapat finish, tetapi justru menunjukkan kedewasaan yang lebih tinggi dengan menang unanimous decision atas Brazil dalam laga flyweight Muay Thai.

Kemenangan atas Brazil Aekmuangnon menjadi sangat penting karena itulah laga yang mempertegas posisi Ubaid sebagai salah satu nama muda yang paling stabil di ONE Friday Fights. Brazil bukan lawan sembarangan. Ia datang dengan lima kemenangan di ONE dan pengalaman menghadapi nama-nama kuat di divisi itu. Tetapi Ubaid mampu mengendalikan laga dan menambah kemenangan lagi ke catatan sempurnanya. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhannya bukan lagi sekadar soal sensasi awal, melainkan tentang kemampuan mempertahankan level melawan lawan yang semakin serius.

Salah satu aspek paling menarik dari Ubaid Hussain adalah kontras antara usianya dan kematangannya. ONE secara resmi menyebutnya sebagai petarung muda dari Leeds yang menginjak usia 20 tahun saat memasuki ONE Friday Fights 138, tetapi ia sudah tampil seolah memiliki jam terbang jauh lebih panjang. Dalam banyak penampilannya, Ubaid tidak terlihat tergesa-gesa. Ia bisa agresif, tetapi agresinya tidak liar. Ia bisa menekan, tetapi tetap sadar posisi dan ritme. Untuk petarung yang lahir pada 2005, kualitas seperti ini sangat mengesankan dan menjadi salah satu alasan kenapa banyak orang mulai melihatnya sebagai prospek besar.

Soal prestasi, Ubaid mungkin belum memegang sabuk besar di ONE, tetapi ia sudah punya sesuatu yang sangat berharga untuk petarung seusianya: rekor tak terkalahkan, debut KO yang mengesankan, dan serangkaian kemenangan unanimous decision melawan lawan-lawan yang semakin berkualitas. Itu bukan pencapaian kecil. Dalam sistem ONE Friday Fights yang sangat keras dan kompetitif, petarung muda sering kali tersandung cepat. Ubaid justru menunjukkan bahwa dirinya bisa bertahan, beradaptasi, dan terus menang.

Julukannya, “Bad,” juga punya nuansa yang menarik. Julukan itu singkat, sederhana, dan terasa seperti penegasan karakter. Ia tidak perlu terdengar rumit. Di atas ring, “Bad” terasa cocok untuk petarung yang datang dengan niat menyakiti lawan, tetapi melakukannya dengan teknik yang rapi. Kadang-kadang, julukan yang paling efektif justru yang paling lugas. Dan dalam kasus Ubaid, “Bad” terasa seperti ringkasan yang pas untuk gaya serta kepercayaan dirinya.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...