Yuneisy Morales: Perjalanan Karier Dari DWCS Ke UFC

Piter Rudai 01/05/2026 4 min read
Yuneisy Morales: Perjalanan Karier Dari DWCS Ke UFC

Jakarta – Di dunia MMA wanita, ada petarung yang membangun nama lewat teknik halus dan kemenangan angka yang rapi, tetapi ada juga petarung yang langsung mencuri perhatian karena satu hal yang sangat jelas: mereka datang untuk memukul keras dan membuat lawan runtuh. Yuneisy Francheska Duben Morales termasuk dalam kelompok kedua itu. Petarung asal Venezuela ini lahir pada 8 Juli 1996 di Valencia, Carabobo, dan kini dikenal sebagai salah satu nama yang sedang mencoba membangun tempatnya di divisi Women’s Flyweight UFC. Yuneisy bertarung di kelas flyweight, memiliki tinggi 5’4”, berat bertanding sekitar 125 lbs, reach 65 inci, memakai orthodox stance, dan saat ini memiliki rekor profesional 6 kemenangan dan 1 kekalahan.

Perjalanan hidup Yuneisy juga memberi kedalaman besar pada kisah kariernya. UFC dalam feature “The Best Is Yet To Come” menulis bahwa ia sempat meninggalkan Venezuela, tinggal di Peru, mengalami perlakuan buruk dari mantan pelatih, lalu akhirnya membangun hidup baru di Las Vegas. Narasi ini membuat sosok Yuneisy terasa lebih dari sekadar petarung dengan pukulan keras. Ia adalah atlet yang datang ke UFC membawa kisah bertahan hidup, keberanian untuk memulai ulang, dan tekad untuk tidak membiarkan masa lalu menentukan masa depannya.

Sebelum masuk UFC, Yuneisy lebih dulu membangun namanya di sirkuit regional Amerika Latin. Riwayat pertandingannya di ESPN menunjukkan kemenangan atas nama-nama seperti R. Casana di Inka FC 31 pada 2019, A. Velasquez di 300 Sparta 34, serta Ingrid Garcia di FFC 74 pada April 2024 lewat TKO – corner stoppage. Jalur seperti ini penting karena menunjukkan bahwa Yuneisy tidak masuk ke UFC sebagai petarung dadakan. Ia datang setelah mengumpulkan pengalaman, mengasah daya rusak striking-nya, dan membangun rekor yang cukup kuat di panggung regional.

Titik balik terbesar dalam kariernya datang pada Dana White’s Contender Series. Pada 3 September 2024, Yuneisy menghadapi Shannon Clark dan menang lewat KO/TKO ronde pertama pada 1:13. ESPN mencatat hasil itu secara jelas, dan UFC kemudian menyebut kemenangan tersebut sebagai salah satu kejutan terbesar musim itu. Kemenangan di DWCS bukan hanya membuka pintu UFC, tetapi juga mempertegas reputasinya sebagai striker berbahaya yang bisa mengakhiri laga dalam waktu singkat. Bagi seorang petarung flyweight wanita, menang dengan cara seperti itu di Contender Series langsung memberi nilai jual yang sangat besar.

Setelah kemenangan itu, Yuneisy resmi masuk ke UFC dan melakoni debut pada 15 Maret 2025. Debut tersebut terjadi di UFC Fight Night: Vettori vs. Dolidze 2, saat ia menghadapi Carli Judice. Namun, langkah pertamanya di panggung utama tidak berjalan mulus. ESPN dan video resmi UFC sama-sama mencatat bahwa Yuneisy kalah lewat KO/TKO ronde pertama pada 1:40. Kekalahan debut seperti ini tentu pahit, apalagi bagi petarung yang datang dengan reputasi knockout artist dari DWCS. Tetapi justru di titik seperti itulah cerita seorang atlet mulai terasa nyata.

Secara teknik, Yuneisy Duben tetap sangat mudah dikenali. Ia adalah petarung dengan fondasi orthodox, striking yang agresif, dan kepercayaan besar pada kekuatan pukulannya. Rekor 5 KO/TKO dari 6 kemenangan bukan kebetulan. Itu adalah cerminan dari gaya bertarungnya yang langsung, berani, dan sangat berorientasi pada penyelesaian. Namun ada satu hal penting yang membuat masa depannya menarik: satu-satunya kemenangan non-striking dalam rekornya datang lewat submission. Artinya, meskipun identitas utamanya tetap striker, ia bukan petarung yang sepenuhnya satu dimensi.

Laga berikutnya yang dijadwalkan untuknya, yakni menghadapi Jeisla Chaves pada 6 Juni 2026 di Las Vegas. Jadwal ini menunjukkan bahwa UFC masih memberi ruang bagi Yuneisy untuk membuktikan dirinya. Dan untuk petarung dengan gaya seperti miliknya, satu kemenangan saja bisa langsung mengubah arah pembicaraan. Petarung dengan power selalu punya nilai khusus, karena mereka bisa mengubah nasib karier hanya dengan satu momen yang tepat.

Kalau berbicara soal prestasi, Yuneisy mungkin belum punya gelar besar atau ranking resmi UFC. Tetapi fondasinya tetap layak dihargai. Ia membangun rekor profesional 6-1, mencetak lima kemenangan KO/TKO, memenangkan kontrak UFC lewat knockout besar di Dana White’s Contender Series, lalu masuk ke panggung utama sebagai salah satu nama yang dianggap menarik di flyweight wanita. Untuk petarung asal Venezuela yang harus menempuh jalan panjang keluar dari negaranya dan membangun ulang hidupnya di luar negeri, pencapaian ini bukan hal kecil.

Pada akhirnya, Yuneisy Francheska Duben Morales adalah kisah tentang petarung yang datang ke UFC dengan lebih dari sekadar rekor bagus. Ia datang membawa keberanian, daya pukul, dan perjalanan hidup yang keras. Lahir di Valencia, Carabobo, pada 8 Juli 1996, bertarung di Women’s Flyweight dengan gaya orthodox berbasis striking, serta memegang rekor 6-1, Yuneisy adalah tipe petarung yang selalu layak ditonton karena ia membawa ancaman nyata setiap kali masuk arena. Kariernya di UFC mungkin baru dimulai, tetapi justru karena itu ceritanya terasa semakin menarik: masih ada banyak hal yang bisa ia buktikan, dan mungkin bagian terbaik dari kisahnya memang belum datang.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...