Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang datang ke UFC lewat jalur mewah, dibicarakan jauh hari, lalu masuk dengan sorotan besar. Namun ada juga petarung yang menembus panggung utama lewat jalan yang lebih keras, lebih sunyi, dan karena itu justru lebih menarik untuk diceritakan. Gabe Green adalah salah satu nama itu. Petarung asal Amerika Serikat ini lahir pada 2 Mei 1993 di San Pedro, California, dan saat ini dikenal sebagai atlet dengan julukan “Gifted”. Green kini tercatat bertarung di divisi lightweight, dengan rekor profesional 12 kemenangan dan 5 kekalahan. Sumber-sumber yang lebih mutakhir juga menempatkannya dengan tinggi sekitar 5’10”, reach 73 inci, dan stance switch, bukan sekadar orthodox.
Rekornya tertulis 12 kemenangan dan 5 kekalahan, serta masuk ke UFC lewat panggilan langsung pada 30 Mei 2020 setelah berkarier di ajang regional CXF. Profil resminya menyorot bahwa ia profesional sejak 2016, memiliki empat kemenangan KO, tujuh kemenangan submission, dan satu kemenangan keputusan, serta saat ini bertarung di lightweight. Ia memiliki gaya bertarungnya sebagai freestyle, jadi identitas utamanya memang bukan semata striker, melainkan petarung campuran yang sangat nyaman bertarung di banyak wilayah.
Secara teknik, Gabe Green adalah tipe petarung yang sulit dipersempit ke satu label. Statistik kemenangannya menunjukkan bahwa dari 12 kemenangan profesional, 7 diraih lewat submission, 4 lewat KO/TKO, dan 1 lewat keputusan juri. Ini berarti inti permainannya justru sangat kuat di grappling, meskipun ia juga punya striking yang berbahaya. Jadi ia punya gaya freestyle yang menggabungkan striking dan submission sangat tepat. Green bukan petarung yang hanya menunggu satu pukulan besar, tetapi juga bukan grappler pasif yang bergantung penuh pada takedown. Ia terasa seperti petarung yang nyaman hidup di tengah transisi, di antara pukulan, scramble, clinch, dan peluang submission.
Salah satu aspek paling penting dalam kisah Gabe Green adalah bagaimana ia masuk ke UFC. Berbeda dari banyak petarung modern yang masuk lewat Dana White’s Contender Series, Green datang melalui panggilan langsung pada Mei 2020. UFC sendiri mencatat tanggal masuk profesionalnya ke promosi pada 30 Mei 2020. Jalur seperti ini punya arti tersendiri. Itu berarti UFC melihat ada sesuatu yang cukup menarik pada dirinya tanpa harus lebih dulu membawanya ke sistem seleksi DWCS. Biasanya, kesempatan seperti itu diberikan pada petarung yang dianggap siap secara kompetitif atau dibutuhkan untuk laga tertentu, dan itu menunjukkan bahwa Green sudah membangun reputasi yang cukup kuat di regional.
Menariknya, karier Gabe Green juga menunjukkan adanya transisi divisi. Sejumlah profil publik lama dan arsip menyebutnya sempat dikenal di welterweight, tetapi sumber terbaru sekarang konsisten menempatkannya di lightweight. Perubahan seperti ini bukan hal kecil. Bagi seorang petarung, pindah divisi berarti bukan hanya soal angka timbangan, tetapi juga penyesuaian terhadap ukuran lawan, kecepatan pertarungan, dan strategi. Pada Green, perpindahan ini tampak menjadi bagian dari evolusi kariernya, bukan sekadar eksperimen sesaat. Bahkan laga terakhirnya yang tercatat di ESPN dan FightMatrix berlangsung di lightweight.
Salah satu hasil paling penting dan paling mutakhir dalam perjalanan Green datang pada 17 Mei 2025, ketika ia menghadapi Matheus Camilo. Data ESPN menampilkan hasil pertandingan itu dengan jelas: Green menang lewat submission ronde kedua pada 3:43. FightMatrix juga menandai laga yang sama sebagai pertarungan terakhirnya di UFC hingga saat itu, sekaligus memperkuat bahwa Green saat ini memiliki rekor UFC 3-3. Kemenangan atas Camilo ini sangat penting, karena datang setelah masa yang tidak sepenuhnya mudah, dan menunjukkan bahwa Green tetap punya kemampuan untuk menghentikan lawan lewat senjata terbaiknya: grappling dan submission.
Kemenangan atas Matheus Camilo juga terasa seperti ringkasan kecil dari siapa Gabe Green sebenarnya. Ia tidak harus selalu menang dengan cara yang sama. Ia memang punya pukulan yang berbahaya, tetapi ketika lawan memberi celah, ia bisa menutup laga lewat submission dengan ketenangan yang sangat matang. Dalam konteks itu, julukan “Gifted” terasa cukup pas. Bukan karena ia petarung flamboyan atau terlalu artistik, tetapi karena ia tampak punya bakat alami untuk membaca celah dalam pertarungan dan memanfaatkannya secara efisien. Rekor 7 submission dari 12 kemenangan adalah bukti kuat bahwa naluri grappling-nya bukan sekadar pelengkap.
Di sisi lain, perjalanan Gabe Green juga tidak lepas dari benturan. Rekor profesional 12-5 berarti ia telah merasakan cukup banyak kekalahan untuk memahami bahwa MMA tidak pernah memberi jalan lurus. Kekalahannya terdiri dari 3 lewat KO/TKO dan 2 lewat keputusan juri. Tidak ada kekalahan submission yang tercatat saat ini, sebuah detail yang justru menarik karena menegaskan bahwa meskipun ia sangat aktif di grappling, ia tidak mudah diselesaikan lewat jalur itu. Ini memberi gambaran bahwa fondasi bawahnya memang sangat kokoh. Ia bisa kalah karena striking lawan atau kalah angka, tetapi sangat jarang benar-benar dikalahkan di wilayah yang paling ia kuasai.
Ada pula aspek lain yang membuat cerita Green relevan untuk pembaca media olahraga. Ia berasal dari San Pedro, California, wilayah yang punya kultur keras, langsung, dan sangat dekat dengan tradisi olahraga tarung. Petarung dari California sering dibentuk oleh lingkungan yang kompetitif dan mentalitas bekerja keras, dan pada Green hal itu terasa sekali. Ia bukan petarung dengan aura selebritas. Ia lebih terasa seperti pekerja yang kebetulan bertarung di kandang. Ia membangun kariernya dari promotor regional, dari kesempatan-kesempatan kecil, lalu perlahan memaksa dirinya untuk tetap bertahan di lingkungan UFC yang sangat selektif.
Kalau berbicara soal prestasi, Gabe Green memang belum menjadi juara atau nama elite ranking atas. Namun itu tidak berarti kariernya tidak punya bobot. Ia telah membangun rekor profesional 12 kemenangan dan 5 kekalahan, mencatat 7 kemenangan submission, masuk ke UFC lewat jalur langsung, bertahan cukup lama untuk mengumpulkan rekor 3-3 di UFC dan tetap menunjukkan kemampuan menyelesaikan pertarungan di level tertinggi. Dalam dunia lightweight yang sangat padat, bisa bertahan dan tetap berbahaya seperti itu sudah merupakan pencapaian tersendiri.
Pada akhirnya, Gabe Green adalah kisah tentang petarung yang tidak pernah dibangun dari jalan mudah. Ia lahir pada 2 Mei 1993 di San Pedro, California, berkembang sebagai atlet freestyle dengan kombinasi striking dan submission, lalu masuk ke UFC pada Mei 2020 lewat jalur langsung. Rekornya 12-5, julukannya “Gifted,” dan warisannya sejauh ini dibangun dari ketangguhan, fleksibilitas teknik, dan kemampuan untuk tetap relevan meski jalannya tidak pernah benar-benar lurus. Ia mungkin bukan nama terbesar di lightweight UFC, tetapi justru karena itulah kisahnya terasa kuat: ia adalah petarung yang harus benar-benar merebut setiap langkahnya sendiri.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda