Songpandin Sor Kaewwiset Petarung Di ONE Friday Fights

Piter Rudai 26/05/2026 4 min read
Songpandin Sor Kaewwiset Petarung Di ONE Friday Fights

Jakarta – Di panggung Muay Thai modern, ada petarung yang langsung melesat lewat sorotan besar, tetapi ada juga yang tumbuh melalui proses yang jauh lebih keras: naik ring berulang kali, menghadapi lawan-lawan tangguh, menang tipis, kalah pahit, lalu kembali lagi tanpa banyak bicara. Songpandin Sor Kaewwiset termasuk dalam kelompok kedua. Ia adalah petarung Muay Thai muda yang tampil di orbit ONE Championship, khususnya di ajang ONE Friday Fights, Tinggi badannya sekitar 169 cm, batas berat 124,3 lbs / 56,4 kg, serta afiliasi tim Chor Kaeweiset.

Dia sudah tercatat mengalahkan Yodsingdam Keatkhamtorn di ONE Friday Fights 48, menundukkan Wanchuchai Kaewsamrit di ONE Friday Fights 57, lalu mengalami kekalahan dari Muanglao Kiattongyot, Lothong Kruaynaimuanggym, dan Rambong Sor Therapat dalam rentang laga berikutnya. Itu berarti jalurnya di ONE sejauh ini dibentuk oleh fase naik dan turun yang sangat nyata.

Kalau melihat perjalanan itu secara naratif, Songpandin terasa seperti petarung yang sedang benar-benar dibentuk oleh ring, bukan oleh narasi kosong. Ia tidak datang dengan rekor yang terlalu bersih atau dibungkus sebagai bintang instan. Sebaliknya, ia seperti petarung muda yang harus belajar langsung dari kerasnya Lumpinee: bagaimana mengelola tekanan, bagaimana menjaga ritme, dan bagaimana menerima kenyataan bahwa di level ini, satu ronde buruk bisa mengubah seluruh malam. Justru karena itulah ceritanya terasa lebih hidup.

Salah satu titik awal penting dalam kiprahnya di ONE datang pada ONE Friday Fights 48 tanggal 19 Januari 2024, saat ia menghadapi Yodsingdam Keatkhamtorn. Hasilnya adalah kemenangan unanimous decision untuk Songpandin. Ini adalah kemenangan yang penting, karena dari awal ia sudah menunjukkan bahwa dirinya mampu melewati pertarungan penuh tiga ronde dan meyakinkan para juri. Untuk petarung muda, kemenangan seperti ini punya nilai besar. Itu menandakan bahwa ia tidak hanya mengandalkan ledakan sesaat, tetapi juga punya kedisiplinan dan kontrol yang cukup untuk bekerja sepanjang laga.

Momentum itu berlanjut pada ONE Friday Fights 57. Artikel resmi ONE menulis bahwa Songpandin mencetak kemenangan keduanya secara beruntun di Lumpinee setelah mengalahkan Wanchuchai Kaewsamrit dalam duel 126-pound catchweight Muay Thai. Ini adalah salah satu momen yang mulai menegaskan bahwa ia bukan sekadar nama baru yang kebetulan menang sekali. Dua kemenangan beruntun di ONE Friday Fights memberi sinyal bahwa ia punya fondasi yang cukup kuat untuk berkembang lebih jauh. Apalagi artikel ONE saat itu juga menyebutnya sebagai teenage rising star, penanda bahwa promotor sendiri melihat ada potensi besar dalam dirinya.

Dari dua kemenangan awal itu, mulai tampak gambaran tentang gaya bertarung Songpandin. Walau data resmi yang saya temukan tidak merinci stance atau statistik lengkap serangannya, hasil-hasil pertandingannya menunjukkan petarung yang hidup di wilayah Muay Thai teknis, cukup sabar untuk mengumpulkan poin, tetapi tetap nyaman dalam pertukaran keras. Ia tidak tampil seperti petarung yang sepenuhnya liar. Ia lebih terasa seperti petarung muda yang sedang memoles dasar-dasar tradisional Muay Thai menjadi senjata untuk level internasional.

Namun, seperti banyak petarung lain, jalan Songpandin tidak terus menanjak tanpa hambatan. Pada ONE Friday Fights 72 tanggal 26 Juli 2024, ia menghadapi Muanglao Kiattongyot dalam laga 128-pound catchweight Muay Thai. Malam itu, Muanglao menang lewat unanimous decision. Kekalahan ini penting, karena menjadi titik ketika Songpandin harus mulai menghadapi sisi lain dari olahraga ini: tidak semua performa bagus akan berujung pada kemenangan, dan tidak semua momentum bisa dipertahankan dengan mulus.

Beberapa bulan kemudian, ujian yang lebih keras datang di ONE Friday Fights 89 tanggal 29 November 2024, saat ia berhadapan dengan Lothong Kruaynaimuanggym dalam duel 128 lbs Muay Thai. Kali ini, hasilnya lebih tegas. Artikel resmi ONE mencatat bahwa Lothong mengalahkan Songpandin lewat knockout pada ronde kedua menit 1:22. Kekalahan KO seperti ini tentu berat, terutama untuk petarung muda yang sedang membangun rasa percaya diri. Tetapi justru dalam olahraga seperti Muay Thai, momen semacam inilah yang sering menjadi pembentukan paling jujur. Ia memaksa seorang petarung melihat lubang dalam permainannya dan belajar dengan cara yang tidak nyaman.

Kekalahan dari Lothong memberi lapisan penting pada kisah Songpandin. Ia menunjukkan bahwa level ONE Friday Fights tidak memberi ruang besar bagi kesalahan. Satu lawan yang lebih cepat membaca ritme, lebih berani mengambil momen, atau lebih tajam mengeksekusi celah bisa mengubah segalanya. Dan bagi petarung muda seperti Songpandin, pengalaman ini meski pahit tetap sangat berharga. Banyak karier besar di Muay Thai justru dibangun setelah fase-fase sulit seperti ini.

Bab terbaru yang paling penting dalam perjalanan Songpandin sejauh ini datang pada ONE Friday Fights 143 tanggal 20 Februari 2026, saat ia menghadapi Rambong Sor Therapat. Hasil resminya adalah kekalahan split decision. Ini menarik, karena meskipun kalah, ia kalah tipis. Artikel hasil resmi ONE menulis bahwa Rambong mengalahkan Songpandin lewat keputusan terbelah dalam laga flyweight Muay Thai, dan halaman event resmi juga menegaskan hasil yang sama. Dalam Muay Thai, split decision sering berarti pertarungan berjalan sangat rapat dan ditentukan oleh detail-detail kecil. Artinya, Songpandin tetap cukup kompetitif untuk berada sangat dekat dengan kemenangan.

Soal gaya bertarung, Anda menyebut ia seorang petarung Muay Thai dengan dasar striking. Itu sangat sesuai dengan seluruh jejak laganya. Semua pertandingan yang terdokumentasi di ONE berada di bawah aturan Muay Thai, dan seluruh narasi tentang dirinya berputar di sekitar pertukaran berdiri, ritme, dan kemampuan mengelola tiga ronde. Ia bukan petarung yang hidup dari gimmick. Ia adalah petarung yang sedang belajar menjadikan dasar Muay Thai-nya lebih efektif dari satu laga ke laga berikutnya.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Songpandin belum memegang sabuk besar atau rekor yang membuatnya langsung disejajarkan dengan bintang utama ONE. Namun fondasi yang ia punya tetap layak diperhatikan. Ia sudah mencatat kemenangan resmi atas Yodsingdam Keatkhamtorn dan Wanchuchai Kaewsamrit, tampil berulang kali di Lumpinee dalam panggung ONE Friday Fights, dan tetap cukup kompetitif untuk bertarung ketat sampai split decision pada 2026. Untuk petarung muda di jalur Muay Thai yang sangat padat, itu adalah modal yang tidak kecil.

Pada akhirnya, Songpandin Sor Kaewwiset adalah kisah tentang petarung muda yang sedang ditempa oleh kerasnya dunia nyata Muay Thai. Ia adalah petarung muda Asia Tenggara yang sedang belajar, kalah, menang, dan tumbuh di salah satu panggung Muay Thai paling kompetitif di dunia. Dan justru karena jalannya tidak mulus, kisah Songpandin terasa jauh lebih menarik untuk terus diikuti.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...