Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang terkenal karena knockout cepat, ada yang dibicarakan karena hype besar, dan ada pula yang justru menarik perhatian karena mereka datang dengan cara yang lebih sunyi: kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus mencoba sampai akhirnya pintu benar-benar terbuka. Wes Schultz termasuk dalam kelompok terakhir itu. Ia adalah petarung asal Madison, Wisconsin, Amerika Serikat, lahir pada 9 Agustus 1996, dan kini berkompetisi di divisi middleweight UFC. Ia mempunyai tinggi 1,88 meter, berat tanding 84 kg, nickname “Party Time,” stance orthodox, serta rekor profesional terbaru 9 kemenangan dan 3 kekalahan.
Yang membuat Wes Schultz menarik adalah identitas bertarungnya yang cukup jelas. Ia digambarkan sebagai petarung dengan dasar gulat dan stance orthodox, dan sumber-sumber terbaru sangat mendukung itu. Sebuah sumber secara eksplisit menuliskan foundation style: wrestling, sementara preview sebuah sumber sebelum laga melawan Damian Pinas menggambarkannya sebagai petarung yang sangat percaya pada grappling, scramble, dan kemampuan menciptakan tabrakan untuk membawa lawan ke wilayah bawah. Sumber lain juga menegaskan bahwa striking Schultz dalam MMA bukan kekuatan utamanya, tetapi justru permainan bawahnya yang kreatif dan berbahaya menjadi pembeda.
Perjalanan karier Wes Schultz sebelum UFC dibangun dari jalur regional yang cukup panjang. Ia bukan petarung yang langsung dibentuk untuk sorotan besar. Rekor 9-3 yang ia bawa sekarang lahir dari proses yang lebih keras: naik dari level lokal, menghadapi lawan yang beragam, lalu perlahan membentuk identitas sebagai middleweight yang nyaman memaksa lawan masuk ke situasi grappling kacau. Justru karena itulah kisahnya terasa relevan. Schultz tidak datang sebagai prospek steril yang dibungkus terlalu rapi, melainkan sebagai petarung yang benar-benar harus membuktikan diri berkali-kali.
Salah satu bab penting dalam kisahnya adalah fakta bahwa ia gagal lebih dulu sebelum akhirnya lolos ke UFC. Schultz sempat kalah dari Mingyang Zhang pada musim sebelumnya. UFC menyebut Zhang sebagai sosok yang menutup pembukaan musim sebelumnya dengan kemenangan ronde kedua atas Wes Schultz. Artinya, Schultz bukan petarung yang langsung berhasil pada percobaan pertama. Ia harus kembali, memulai lagi, dan membuktikan bahwa ia layak diberi kesempatan kedua.
Kesempatan kedua itu datang pada Dana White’s Contender Series Season 9 Week 10. Kartu dibuka dengan duel middleweight antara Mario Mingaj dan Wes Schultz. Sebuah data juga mencatat laga ini berlangsung pada 14 Oktober 2025 di UFC Apex, Las Vegas. Ini adalah momen yang sangat penting. Schultz datang bukan hanya untuk menang, tetapi untuk menebus kegagalan sebelumnya. Ini bukan lagi soal membuktikan potensi, melainkan tentang menunjukkan karakter.
Dan di situlah Wes Schultz berhasil mengubah arah hidupnya. Hasil-hasil terbaru yang dirangkum beberapa sumber menunjukkan bahwa ia mengalahkan Mario Mingaj dan kemudian masuk ke UFC. Kemenangan ini menjadi titik balik besar karena dari sanalah ia resmi menembus organisasi terbesar dunia. Jalur seperti ini selalu punya bobot emosional lebih tinggi dibanding petarung yang lolos mulus pada kesempatan pertama. Schultz tidak sampai ke UFC karena semua berjalan mudah. Ia sampai ke sana karena ia datang lagi, mencoba lagi, dan kali ini berhasil.
Debut UFC-nya datang pada 28 Februari 2026 di Mexico City saat menghadapi Damian Pinas, sesama alumni Contender Series. Namun malam itu tidak berjalan sesuai harapan. Beberapa sumber sama-sama mencatat bahwa Schultz kalah lewat TKO ronde pertama dari Pinas. Bagi petarung dengan identitas grappler seperti dirinya, kekalahan cepat semacam ini tentu berat, karena ia tidak sempat benar-benar memaksakan gaya bertarung yang paling nyaman baginya. Debut seperti itu bisa mematahkan kepercayaan diri banyak petarung baru.
Namun justru di sinilah bagian paling menarik dari cerita Wes Schultz dimulai. Alih-alih tenggelam setelah debut yang pahit, ia kembali kurang dari tiga bulan kemudian pada 2 Mei 2026 di Perth, Australia, untuk menghadapi Ben Johnston. Dan malam itu, Schultz menulis jawaban yang nyaris sempurna. Beberapa sumber mencatat ia menang lewat guillotine choke ronde ketiga pada 1:50. Salah satu artikel yang terbit sesudah laga juga menulis bahwa kemenangan itu membuat rekor Schultz menjadi 9-3, serta menyorot bahwa ia berhasil bangkit setelah kekalahan di debut UFC.
Kemenangan atas Ben Johnston ini sangat penting untuk memahami siapa Wes Schultz sebenarnya. Ia bukan petarung yang hanya bagus saat segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Ia justru menunjukkan kualitas terbesarnya setelah jatuh. Menang lewat submission di ronde ketiga juga sangat cocok dengan identitasnya sebagai grappler. Itu seperti pengingat bahwa ketika ia berhasil membawa pertarungan ke wilayahnya, Schultz tetap sangat berbahaya. Bahkan sebuah sumber menempatkan submission itu sebagai salah satu submission terbaik tahun 2026 dalam daftar komunitas mereka, menambah bobot bahwa kemenangan itu bukan sekadar hasil, tetapi juga momen yang meninggalkan kesan.
Gaya seperti itu juga menjelaskan mengapa rekornya tidak dibangun hanya lewat satu jenis kemenangan. Walau sebuah data menekankan dasar gulatnya, realitas karier Schultz menunjukkan bahwa ia bukan semata “wrestling grinder.” Ia punya kemampuan submission yang cukup tajam, dan itu kini makin terlihat penting setelah kemenangan guillotine di UFC Perth. Pada saat yang sama, fakta bahwa ia bisa sampai ke UFC dan bertahan setelah debut yang pahit menunjukkan bahwa sisi mentalnya juga cukup kuat. Dalam MMA, petarung seperti ini sering kali berkembang lebih jauh setelah benturan awal, karena mereka belajar cepat dan tidak terlalu takut menghadapi kekacauan.
Kalau berbicara soal prestasi, Wes Schultz memang belum punya ranking atau sabuk besar. Namun fondasinya sudah cukup layak dihargai. Ia berhasil lolos ke UFC lewat Dana White’s Contender Series 2025, lalu mencatat kemenangan submission di UFC pada tahun pertamanya di promosi utama. Rekor profesional 9-3 yang ia miliki sekarang juga menunjukkan bahwa ia masih berada di fase sangat menarik: cukup matang untuk berbahaya, tetapi masih punya banyak ruang untuk berkembang.
Pada akhirnya, Wes Schultz adalah kisah tentang petarung yang tidak menyerah pada versi pertama dari kegagalannya. Ia lahir di Madison, Wisconsin, bertarung di kelas middleweight, datang dengan dasar gulat, lalu membangun dirinya lewat ketekunan dan keberanian untuk terus mencoba. Julukannya “Party Time” mungkin terdengar santai, tetapi perjalanan kariernya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih serius: ia adalah petarung yang siap bekerja keras untuk mendapatkan tempatnya. Dan justru karena kisahnya dibangun lewat jatuh, bangkit, lalu menang lagi, Wes Schultz terasa seperti salah satu nama middleweight UFC yang paling menarik untuk terus diikuti.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda