Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang membangun namanya lewat dominasi panjang, tetapi ada juga yang justru dikenang karena selalu datang dengan keberanian penuh, tempo tinggi, dan risiko besar di setiap penampilan. Daniel Lacerda termasuk dalam kelompok kedua. Ia adalah petarung asal Valença, Brasil, lahir pada 5 Juni 1996, dan dikenal luas dengan julukan “Miojo.” Ia adalah petarung Brasil dengan tinggi sekitar 168 cm, bertarung di sekitar kelas flyweight, memakai switch stance, dan memiliki rekor profesional13 kemenangan, 7 kekalahan, dan 1 no contest, dengan aktivitas terbaru di luar UFC pada 2024–2025.
Yang membuat Daniel Lacerda menarik bukan cuma hasil akhirnya, melainkan bentuk dari seluruh kariernya. Ia adalah petarung yang hampir selalu hidup di wilayah berbahaya. Statistik salah satu sumber mencatat pada fase rekor 11-6 ia membukukan 5 kemenangan KO/TKO dan 6 kemenangan submission, sedangkan ada sumber lain pada fase terbaru mencatat totalnya menjadi 6 kemenangan KO/TKO dan 7 kemenangan submission. Ini menunjukkan bahwa meskipun identitas utamanya memang seorang striker agresif, Lacerda juga sangat nyaman menyelesaikan lawan di matras. Dengan kata lain, ia bukan petarung satu dimensi. Ia berbahaya di kaki, tetapi juga cukup licin ketika pertarungan berpindah ke bawah.
Perjalanan Daniel Lacerda menuju UFC dibangun dari jalur regional Brasil yang keras. Salah satu jejak penting awal yang masih terlihat di arsip sebuah sumber datang dari Shooto Brazil 90 pada 15 Maret 2019, ketika ia menghadapi João Paulo Alves dan kalah lewat TKO karena cedera lengan hanya dalam 37 detik. Kekalahan seperti ini menunjukkan bahwa kariernya tidak dibangun dari kesempurnaan, melainkan dari benturan yang nyata. Namun justru dari jalur seperti itulah banyak petarung Brasil tumbuh: terus bertarung, terus memperbaiki diri, lalu mencari satu rangkaian kemenangan yang bisa membuka jalan ke panggung lebih besar.
Dan itulah yang pada akhirnya dilakukan Lacerda. Sebelum masuk UFC, ia membangun momentum sebagai petarung regional yang atraktif dan berbahaya. UFC menempatkannya di roster resmi dengan nama Daniel Lacerda, lalu memberinya debut pada 23 Oktober 2021. Halaman resmi UFC mencatat dengan jelas bahwa ia adalah atlet profesional asal Brasil di divisi flyweight dan menempatkan tanggal debut itu sebagai titik awal kiprahnya di organisasi terbesar dunia. Debut pada Oktober 2021.
Namun, seperti banyak pendatang baru lain, langkah awalnya di UFC tidak berjalan mudah. Sebuah sumber dalam preview menuju pertarungannya di UFC 278 pada Agustus 2022 menulis bahwa Lacerda adalah petarung yang “exciting but frustrating,” karena ia beberapa kali memulai laga dengan sangat panas tetapi gagal menjaga momentum sampai akhir. Kalimat itu sangat menggambarkan keseluruhan fase UFC-nya. Ia sering terlihat berbahaya di menit-menit awal, tetapi justru karena gaya agresif itu, ia juga membuka banyak ruang bagi lawan untuk menghukumnya ketika pertarungan mulai masuk fase yang lebih rumit.
Salah satu contoh paling jelas datang saat ia menghadapi Édgar Cháirez di Mexico City. ESPN menampilkan laga itu sebagai kekalahan submission ronde pertama pada 2:17 untuk Lacerda, dan halaman preview UFC Mexico juga menempatkan pertarungan itu dalam konteks flyweight. Kekalahan ini menjadi bagian dari fase sulit dalam karier UFC-nya, sekaligus memperlihatkan kenyataan bahwa di level elite, petarung yang terlalu terbuka di awal bisa segera dihukum lawan yang lebih tenang dan lebih terukur.
Namun yang membuat Daniel Lacerda tetap menarik justru adalah bahwa kisahnya tidak berhenti setelah UFC. Beberapa sumber menunjukkan bahwa setelah fase tersebut, ia kembali aktif di level regional Amerika Serikat, termasuk di Tuff-N-Uff dan Victory Fighting League. Pada 11 Oktober 2024, ia mencatat kemenangan atas Ahmet Kayretli lewat armbar di Tuff-N-Uff, lalu pada 12 Desember 2025 ia menang atas Ashiek Ajim lewat TKO ronde pertama di Victory Fighting League. Kemenangan-kemenangan ini penting karena menunjukkan bahwa “Miojo” tidak sekadar hilang setelah jalan di UFC menjadi berat. Ia justru kembali membangun dirinya lagi, dan itu memberi warna yang jauh lebih manusiawi pada kariernya.
Dari sisi teknik, Daniel Lacerda memang selalu menarik dibahas karena paradoks dalam dirinya. Di satu sisi, ia secara resmi dicatat ESPN sebagai striker dengan switch stance, sesuatu yang cocok dengan gaya awalnya yang cepat, langsung, dan ofensif. Di sisi lain, distribusi kemenangannya menunjukkan bahwa submission justru memegang porsi yang sangat besar dalam kariernya. Artinya, Lacerda bukan sekadar petarung yang hidup dari pukulan liar atau tekanan berdiri. Ia adalah petarung yang berbahaya saat laga memasuki fase transisi. Lawan yang terlalu sibuk menghindari striking-nya bisa saja justru masuk ke perangkap grappling-nya.
Aspek lain yang cukup menarik adalah soal tim latihannya. Salah satu sumber saat ini menampilkan Chute Boxe sebagai timnya, sedangkan sebuah sumber menampilkan RD Champions dan menyebut pelatih kepala Renato Dominguez. Perbedaan ini bisa mencerminkan fase karier yang berbeda, perpindahan tempat latihan, atau cara pendataan yang tidak selalu seragam antar-sumber. Tetapi satu hal tetap jelas: Lacerda datang dari kultur MMA Brasil yang sangat akrab dengan agresi, striking keras, dan transisi submission cepat. Dan seluruh kariernya memang terasa mencerminkan budaya bertarung itu.
Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Daniel Lacerda bukan nama yang akan dikenang sebagai juara besar UFC. Tetapi itu tidak berarti kisahnya tidak punya nilai. Ia pernah menembus UFC, bertarung di divisi flyweight yang sangat keras, membangun rekor profesional dua digit kemenangan, dan tetap cukup berbahaya untuk terus aktif setelah fase UFC-nya berakhir. Dalam MMA, banyak petarung regional tidak pernah sampai ke titik itu. Lacerda sampai. Dan bahkan setelah gagal mempertahankan tempatnya di panggung utama, ia tetap kembali bertarung dan menang.
Yang paling menarik dari Daniel Lacerda mungkin justru ada pada ritme kariernya. Ia bukan petarung yang membangun cerita dari kestabilan, melainkan dari intensitas. Pertarungannya cepat. Kemenangannya banyak yang selesai sebelum juri dibutuhkan. Kekalahannya pun sering datang dalam bentuk yang tegas. Ia seperti petarung yang menolak hidup di wilayah abu-abu. Dalam setiap bab kariernya, selalu ada rasa bahwa sesuatu akan terjadi cepat. Dan untuk pembaca media olahraga, itulah yang membuat sosok seperti “Miojo” selalu layak diangkat: ia tidak pernah terasa biasa.
Pada akhirnya, Daniel Lacerda adalah kisah tentang petarung Brasil yang hidup dari keberanian. Ia lahir di Valença pada 5 Juni 1996, datang ke UFC sebagai flyweight dengan gaya striker switch stance, lalu menunjukkan bahwa dirinya juga punya submission yang tajam. Rekornya memang tidak lagi sama seperti fase awal UFC, tetapi justru di situlah nilai ceritanya. Ia pernah jatuh, sempat kehilangan tempat di panggung utama, lalu tetap melanjutkan karier dan kembali menang. Dalam dunia MMA, itu adalah jenis perjalanan yang tidak glamor, tetapi sangat nyata. Dan sering kali, kisah seperti itulah yang paling layak diceritakan.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda