Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang: Petarung ONE Championship

Piter Rudai 02/06/2026 4 min read
Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang: Petarung ONE Championship

Jakarta – Di panggung Muay Thai, tidak semua petarung lahir dari cerita yang lurus dan mulus. Ada yang justru dibentuk oleh pertarungan-pertarungan keras, oleh kekalahan yang memaksa mereka belajar cepat, lalu oleh kemenangan yang datang setelah proses panjang. Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang termasuk dalam golongan itu. Ia adalah petarung Muay Thai asal Thailand yang lahir pada 22 Maret 2001, bernaung di 3rd Army Area menurut profil resmi ONE, dan tampil di lintasan ONE Friday Fights sebagai salah satu nama yang berkembang lewat pengalaman nyata di atas ring. Tinggi badannya sekitar 165 cm, sedangkan basis data pendukung mencatat berat tanding terakhirnya di kisaran 56,7 kg / 125 lbs dan stance orthodox.

Salah satu titik penting dalam kisahnya datang pada ONE Friday Fights 55. Dalam pengumuman resmi kartu pertandingan, ONE menempatkan duel Jompadej Nupranburi vs Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang sebagai salah satu laga Muay Thai di catchweight 122 pound. Sumber pendukung kemudian mencatat bahwa Kaichon memenangkan pertarungan ini lewat decision, yang menjadi salah satu kemenangan awal penting dalam kiprahnya di ONE. Kemenangan seperti itu sangat berarti bagi petarung muda Thailand, karena menang angka di ONE Friday Fights menunjukkan bahwa seorang atlet mampu menjaga ritme selama tiga ronde penuh dan cukup konsisten untuk meyakinkan juri.

Kemenangan itu memberi gambaran awal tentang siapa Kaichon sebenarnya. Ia terlihat sebagai petarung orthodox yang cukup nyaman bertarung di wilayah striking klasik Muay Thai: sabar, terukur, tetapi tetap siap menekan bila lawan mulai kehilangan ritme. Data dari Muay Thai Records juga menegaskan stance-nya sebagai orthodox dan menempatkannya sebagai petarung Thailand berusia 24 tahun dengan bobot terakhir sekitar 125 pound. Ini membuat deskripsi tentang fokusnya pada striking terasa sangat cocok, walau detail resmi tinggi badan dan rekor perlu diperbarui.

Namun, seperti banyak petarung lain, jalan Kaichon tidak terus menanjak dengan mudah. Salah satu ujian paling keras datang pada ONE Friday Fights 72 tanggal 26 Juli 2024, saat ia menghadapi petarung Inggris yang sedang naik daun, Freddie Haggerty. Sumber lain mencatat bahwa Kaichon kalah lewat TKO ronde pertama pada 2:59 akibat pukulan tangan kanan, dan artikel feature resmi ONE tentang Freddie Haggerty juga menyinggung laga ini sebagai bagian penting dari perjalanan sang lawan. Belakangan, ONE bahkan menyorot kemenangan Haggerty atas Kaichon sebagai salah satu knockout paling mengesankan dalam dua penampilan awalnya di organisasi itu. Kekalahan seperti ini tentu berat, tetapi juga sangat penting dalam membentuk seorang petarung. Ia memberi pelajaran tentang kecepatan level elite dan tentang betapa sedikitnya ruang untuk kesalahan di panggung besar.

Menariknya, kekalahan dari Freddie Haggerty tidak menenggelamkan Kaichon. Ia justru menunjukkan kualitas yang sangat penting bagi petarung muda: kemampuan untuk kembali. Pada ONE Friday Fights 105, profil resmi ONE mencatat bahwa Kaichon mengalahkan Issei Yonaha lewat unanimous decision. Kemenangan ini berarti lebih dari sekadar angka di kolom menang. Setelah kalah cepat dari lawan berbahaya, Kaichon mampu bangkit dan menata ulang permainannya dalam laga berikutnya. Menang lewat keputusan bulat setelah sebelumnya kalah TKO memberi sinyal bahwa ia mampu mengembalikan disiplin, kesabaran, dan struktur dalam pertarungannya.

Sesudah itu, Kaichon mencatat salah satu kemenangan paling penting dalam jejak resminya. Pada ONE Friday Fights 122, ia menghadapi sesama petarung Thailand, Suajan Sor Isarachot, dan menang lewat KO ronde kedua pada 1:34. Profil resmi ONE Indonesia menuliskan hasil itu dengan jelas. Inilah kemenangan yang memberi lapisan baru pada kisahnya. Jika kemenangan atas Issei Yonaha menunjukkan bahwa ia bisa bangkit secara taktis, kemenangan KO atas Suajan menunjukkan bahwa Kaichon juga punya daya rusak nyata. Ia bukan hanya petarung yang mampu bertahan tiga ronde, tetapi juga striker yang bisa memanfaatkan celah dan menutup laga secara keras.

Kemenangan atas Suajan terasa sangat penting dari sudut pandang naratif. Banyak petarung muda bisa bangkit setelah kalah, tetapi tidak semua bisa bangkit dengan cara yang begitu meyakinkan. KO di ronde kedua menunjukkan bahwa Kaichon tidak sekadar “selamat” dari fase sulit, melainkan benar-benar kembali dengan keyakinan dan ketajaman baru. Untuk petarung Muay Thai Thailand yang bertarung di panggung ONE, kemenangan seperti ini biasanya menjadi sinyal bahwa namanya patut diperhatikan lebih serius.

Tetapi lagi-lagi, perjalanan Kaichon tidak dibangun dari cerita yang terlalu rapi. Pada ONE Friday Fights 132, profil resmi ONE menunjukkan bahwa ia kalah dari Soe Naung Oo lewat unanimous decision dalam laga strawweight Muay Thai. Hasil ini memperlihatkan satu hal penting: Kaichon memang petarung yang sedang tumbuh, bukan sosok yang sudah selesai dibentuk. Ia bisa menang dengan tegas, tetapi juga masih menghadapi lawan-lawan yang mampu meredam permainan dan memaksanya kalah angka. Bagi petarung usia 24–25 tahun yang sudah beberapa kali diuji di ONE Friday Fights, ini adalah bagian yang wajar dari proses pembentukan.

Dari seluruh hasil yang tercatat, ada pola yang menarik pada Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang. Ia tampak seperti petarung yang dibentuk oleh dua hal sekaligus: ketahanan dan adaptasi. Ia sudah merasakan menang angka, menang KO, kalah TKO, dan kalah keputusan. Ia bukan petarung yang hanya hidup dari keunggulan satu sisi. Justru karena perjalanannya penuh naik-turun, ceritanya terasa lebih hidup. Ia seperti petarung yang benar-benar belajar dari ring, bukan sekadar mengumpulkan rekor. Di profil ONE saat ini ia tercantum bersama 3rd Army Area.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Kaichon belum memegang sabuk besar atau status bintang utama di ONE. Namun fondasinya tetap layak dihargai. Ia sudah mencatat kemenangan resmi atas Jompadej Nupranburi, Issei Yonaha, dan Suajan Sor Isarachot dalam jejak yang terlacak dari sumber resmi dan pendukung, serta sudah menghadapi lawan-lawan keras seperti Freddie Haggerty dan Soe Naung Oo. Itu adalah bahan mentah yang cukup baik untuk seorang petarung yang masih membentuk identitasnya di panggung internasional.

Pada akhirnya, Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang adalah kisah tentang petarung Muay Thai Thailand yang sedang ditempa oleh kerasnya ring dan ketatnya persaingan ONE Friday Fights. Ia lahir pada 22 Maret 2001, bertarung dengan gaya orthodox yang berfokus pada striking, tumbuh di jalur Muay Thai ringan, dan sudah menunjukkan bahwa dirinya mampu bangkit setelah benturan keras. Ia mungkin belum menjadi nama terbesar, tetapi justru di situlah daya tariknya. Kaichon masih berada di fase ketika setiap pertarungan bisa menulis bab baru yang menentukan. Dan dalam olahraga seperti Muay Thai, petarung seperti itulah yang sering paling menarik untuk diikuti.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...