Yuly Alves: Petarung Muay Thai Brasil Di ONE Friday Fights

Piter Rudai 08/06/2026 4 min read
Yuly Alves: Petarung Muay Thai Brasil Di ONE Friday Fights

Jakarta – Di panggung Muay Thai modern, tidak semua petarung datang dari jalur yang mulus. Ada yang lahir dari tradisi, ada yang tumbuh dari kemenangan cepat, dan ada pula yang membangun identitasnya lewat pertarungan-pertarungan keras yang memaksa mereka belajar langsung di tengah sorotan. Yuly Alves termasuk dalam kelompok terakhir itu. Ia adalah petarung asal Brasil yang dikenal dengan julukan “Kalay”, dan dalam beberapa tahun terakhir mulai membangun namanya di panggung ONE Championship. Profil resmi ONE mencatat Yuly Alves sebagai atlet dari Brasil dengan hasil-hasil penting di ajang ONE Friday Fights, sementara data menampilkan tinggi badannya sekitar 162,56 cm dan berat tanding 125 lbs atau 56,7 kg.

Yang justru paling jelas dari Yuly Alves adalah identitas bertarungnya. Ia datang sebagai petarung wanita Brasil yang berani bertukar dalam Muay Thai, dengan gaya yang terasa agresif, terbuka, dan tidak terlalu suka bermain aman. Salah satu video resmi ONE bahkan menggambarkan laga Yuly melawan Kwankhao sebagai “insane women’s Muay Thai scrap”, menandakan bahwa cara bertarungnya memang sangat cocok untuk penonton yang mencari duel keras dan penuh aksi. Fakta ini memperkuat gambaran bahwa Yuly lebih tepat dibaca sebagai petarung yang tumbuh dari keberanian dan semangat menyerang, bukan sekadar teknisi yang dingin.

Perjalanan Yuly Alves di ONE yang paling mudah dilacak bermula dari rangkaian ONE Friday Fights. Salah satu hasil penting yang tampil di profil resminya adalah kemenangan atas Chellina Chirino di ONE Friday Fights 44 pada 8 Desember 2023, yang berakhir dengan split decision. Data lain

untuk kartu event yang sama juga menampilkan hasil tersebut dengan jelas. Kemenangan ini penting karena menunjukkan bahwa Yuly mampu menang dalam pertarungan rapat, bukan hanya lewat tekanan liar atau satu momen kebetulan. Ia sanggup menjalani tiga ronde penuh dan cukup efektif untuk membuat juri akhirnya berpihak kepadanya.

Kemenangan atas Chellina Chirino memberi gambaran awal tentang siapa Yuly Alves sebenarnya. Ia bukan petarung yang harus selalu menunggu celah untuk satu penyelesaian cepat. Ia juga bisa bertahan dalam duel ketat, memegang ritme, dan tetap cukup aktif untuk membangun kemenangan lewat keputusan. Dalam Muay Thai, kemenangan split decision sering kali berarti pertarungan berjalan sangat rapat dan ditentukan oleh detail kecil. Bahwa Yuly berhasil menang di situ memberi sinyal bahwa ia punya mental tanding yang cukup kuat.

Namun, seperti banyak petarung lain, jalan Yuly tidak dibangun dari satu kemenangan saja. Salah satu jejak lain yang kuat dalam narasinya datang dari pertarungan melawan Kwankhao di ONE Friday Fights 15. ONE sendiri menyorot duel itu sebagai laga ketika “Yuly Alves dan Kwankhao saling menghujani serangan dari awal sampai akhir,” dan juga menerbitkan video khusus yang menegaskan bahwa pertarungan mereka adalah salah satu perang Muay Thai wanita yang sangat liar. Ini penting bukan hanya karena hasil, tetapi karena menunjukkan bagaimana Yuly mulai dibaca publik: sebagai petarung yang berani masuk ke pertukaran keras tanpa banyak rasa takut.

Kalau membahas aspek menarik dari Yuly Alves, di situlah mungkin letak daya tarik terbesarnya. Ia bukan petarung yang terasa dibentuk untuk tampil terlalu rapi. Ia lebih terlihat seperti petarung yang membawa energi bertarung mentah ke dalam ring. Bagi sebagian atlet, itu bisa menjadi kelemahan. Tetapi di panggung seperti ONE Friday Fights, justru tipe petarung seperti inilah yang sering cepat dikenal penonton. Mereka mungkin belum selalu sempurna secara taktik, tetapi hampir selalu menghadirkan laga yang hidup. Yuly tampak seperti salah satu nama itu.

Ada sisi lain yang juga menarik dari kisah Yuly Alves, yaitu jejaknya sebelum benar-benar masuk ke orbit ONE. Sumber lain mencatat bahwa ia memiliki dua kekalahan amatir MMA pada 2022, masing-masing dari Juliana Mary lewat rear-naked choke dan dari Beatriz Franca lewat KO. Sumber lain juga menampilkan jejak amatir yang sama, termasuk laga melawan Eduarda Moura. Data ini penting karena menunjukkan bahwa Yuly tidak datang dari ruang kosong. Ia sempat menjajal jalur MMA amatir, mengalami kekalahan, dan kemudian lebih dikenal publik justru lewat Muay Thai di ONE. Dalam konteks itu, kariernya terasa seperti proses pencarian bentuk terbaik.

Jejak amatir itu juga membantu menjelaskan kenapa Yuly Alves terasa seperti petarung yang berani mengambil risiko. Petarung yang sudah merasakan kalah di fase awal karier sering kali justru menjadi lebih keras kepala dan lebih berani ketika menemukan panggung yang cocok untuk mereka. Dalam kasus Yuly, panggung itu tampaknya adalah Muay Thai. Ia tidak lagi hidup dalam wilayah submission dan transisi MMA yang rumit, tetapi bisa memaksimalkan karakter menyerangnya di area striking. Itu membuat cerita kariernya terasa seperti kisah seorang petarung yang akhirnya menemukan bahasa bertarung yang lebih sesuai dengan nalurinya. Ia berafiliasi pada Yokko Muaythai.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Yuly Alves belum memiliki sabuk besar atau status bintang utama di ONE. Namun ia sudah punya hal yang sangat berharga bagi petarung muda atau petarung yang sedang membangun nama: visibilitas. Ia pernah mencatat kemenangan resmi di ONE Friday Fights 44, mendapatkan sorotan dari konten-konten resmi ONE karena gaya bertarungnya yang keras, dan tampil dalam duel yang cukup membekas bagi penonton Muay Thai wanita. Untuk petarung yang masih menyusun identitasnya, ini bukan pencapaian kecil.

Yang juga membuat Yuly menarik adalah fakta bahwa namanya tetap muncul di radar luar ONE. Data lain masih mencatatnya, meski menandai bahwa ia tidak memenuhi syarat ranking regional MMA karena tidak aktif di cabang itu dalam dua tahun terakhir. Ini menguatkan kesan bahwa jalur kariernya memang sekarang lebih melekat ke Muay Thai profesional, bukan MMA. Artinya, bila orang ingin memahami Yuly Alves hari ini, mereka harus melihatnya bukan sebagai petarung MMA Brasil yang gagal naik, tetapi sebagai petarung striking yang sedang membangun narasi baru di panggung internasional.

Pada akhirnya, Yuly Alves adalah kisah tentang petarung yang menemukan bentuknya lewat pertarungan-pertarungan keras, bukan lewat jalan yang rapi.Yuly  adalah petarung Brasil berjuluk “Kalay” yang sudah menunjukkan keberanian, agresi, dan semangat bertarungnya di panggung ONE Championship. Ia mungkin belum menjadi nama terbesar di divisinya, tetapi justru karena kariernya masih dibentuk oleh perjuangan dan pencarian bentuk terbaik, ceritanya terasa lebih hidup dan lebih layak untuk terus diikuti.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...