Seni Menjadi “Biasa Saja” Di Era Pemujaan Prestasi

Eva Amelia 22/06/2026 5 min read
Seni Menjadi “Biasa Saja” Di Era Pemujaan Prestasi

Kita hidup di zaman di mana kata “biasa saja” hampir terdengar seperti sebuah makian. Sejak kecil, kita disuapi narasi tentang pentingnya menjadi luar biasa. Di sekolah, panggung kehormatan hanya disediakan bagi pemilik nilai tertinggi atau pemenang olimpiade. Di dunia kerja, glorifikasi kerja keras hingga larut malam (hustle culture) dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju validasi. Media sosial kemudian menyempurnakan tekanan ini dengan menyajikan etalase pencapaian orang lain secara nonstop: pamer saldo rekening, jabatan mentereng di usia muda, hingga perjalanan keliling dunia yang tampak tanpa celah.

Fenomena ini melahirkan sebuah era yang bisa kita sebut sebagai “pemujaan prestasi” (achievement culture). Di era ini, harga diri seorang manusia sering kali dikerdilkan menjadi sekadar angka-angka pada resume, nominal dalam mutasi rekening, atau centang biru di profil digital. Menjadi rata-rata atau biasa saja dianggap sebagai sebuah kegagalan sistemik. Namun, apakah benar kebahagiaan hanya milik mereka yang berada di puncak piramida pencapaian? Atau jangan-jangan, kita telah kehilangan kemampuan untuk menikmati hidup karena terlalu sibuk mengejar standar luar biasa yang tidak ada habisnya?

Di sinilah kita perlu belajar kembali tentang sebuah seni yang mulai punah: seni menjadi biasa saja.

Paradoks Pemujaan Prestasi dan Lelah Mental

Dorongan untuk selalu menjadi yang terbaik sekilas tampak positif. Ia memacu inovasi dan produktivitas. Namun, ketika dorongan tersebut berubah menjadi obsesi kolektif, dampaknya bisa sangat merusak. Psikologi modern mencatat adanya lonjakan kasus kecemasan, depresi, dan fenomena burnout (kelelahan mental dan fisik yang ekstrem) yang sangat tinggi di kalangan generasi muda saat ini.

Ketika setiap detik dalam hidup harus dikonversi menjadi produktivitas, kita kehilangan ruang untuk bernapas. Hobi yang dulunya dilakukan murni untuk kesenangan, kini harus di-monetisasi menjadi side hustle. Waktu luang yang seharusnya digunakan untuk istirahat, sering kali diinterupsi oleh rasa bersalah karena merasa “tidak melakukan apa-apa.” Pemujaan prestasi telah mengubah manusia dari makhluk hidup (human beings) menjadi sekadar robot pekerja (human doings).

Tragisnya, puncak prestasi yang dikejar itu sering kali memindahkan tiang gawangnya sendiri. Begitu kita mencapai satu target, kepuasan yang dirasakan hanya bertahan sejenak sebelum akhirnya digantikan oleh kecemasan baru untuk mengejar target berikutnya. Ini adalah jebakan hedonic treadmill, di mana kita terus berlari kencang namun sebenarnya tetap berada di tempat yang sama dalam hal kebahagiaan sejati.

Apa Itu Seni Menjadi Biasa Saja?

Menjadi biasa saja bukan berarti kita harus hidup malas-malasan, menganggur, atau menolak untuk berkembang. Ini adalah kesalahpahaman yang sering terjadi. Seni menjadi biasa saja adalah sebuah keterampilan emosional dan filosofis untuk menerima keterbatasan diri tanpa merasa kehilangan keberhargaan sebagai manusia.

Ini adalah tentang menurunkan volume ekspektasi dunia dan mendengarkan apa yang benar-benar kita butuhkan. Menjadi biasa saja berarti Anda menyadari bahwa Anda tidak harus menjadi CEO di usia 30 tahun untuk dianggap sukses. Anda tidak harus memiliki jutaan pengikut di media sosial untuk merasa didengar. Anda boleh menjadi seorang karyawan biasa yang mengerjakan tugasnya dengan baik, pulang tepat waktu, lalu menghabiskan malam dengan memasak makan malam sederhana untuk keluarga atau membaca buku favorit.

Dalam filsafat kuno seperti Stoikisme atau konsep Wabi-Sabi dari Jepang, ada penerimaan mendalam terhadap ketidaksempurnaan dan kesederhanaan. Seni menjadi biasa saja menuntut kita untuk berdamai dengan kenyataan bahwa secara statistik, mayoritas dari kita memang akan berada di kurva rata-rata. Dan kabar baiknya: tidak ada yang salah dengan hal itu.

Membebaskan Diri dari Validasi Eksternal

Salah satu alasan mengapa menjadi biasa saja terasa begitu menakutkan adalah karena kita terbiasa menggantungkan kebahagiaan pada validasi eksternal. Kita ingin tepuk tangan orang lain, kita butuh pengakuan dari lingkungan. Ketika kita memilih untuk merangkul kehidupan yang biasa, kita sebenarnya sedang memindahkan jangkar kebahagiaan itu dari luar ke dalam diri sendiri.

Saat Anda tidak lagi terbebani oleh keharusan untuk mengesankan orang lain, Anda akan menemukan kebebasan yang luar biasa. Anda mulai melakukan sesuatu karena Anda memang menyukainya, bukan karena hal tersebut terlihat bagus di mata orang lain. Anda bekerja dengan baik karena Anda menghargai tanggung jawab Anda, bukan karena Anda sedang berkompetisi untuk menjatuhkan rekan kerja demi promosi jabatan.

Kehidupan yang biasa saja memberikan kita kemewahan yang paling mahal di era modern: kedamaian pikiran. Anda tidak lagi terjebak dalam kecemasan konstan tentang apakah Anda sudah “cukup” di mata dunia. Anda menjadi cukup untuk diri Anda sendiri.

Menemukan Keindahan dalam Keseharian

Pemujaan prestasi membuat mata kita selalu tertuju pada masa depan—pada target berikutnya, pencapaian berikutnya, penghargaan berikutnya. Akibatnya, kita sering kali melewatkan keindahan yang ada di depan mata kita saat ini.

Seni menjadi biasa saja melatih kita untuk mempraktikkan kesadaran penuh (mindfulness) terhadap hal-hal kecil. Kebahagiaan tidak lagi didefinisikan sebagai pesta perayaan mewah setelah memenangkan proyek besar, melainkan bergeser pada momen-momen sederhana yang subtil. Menikmati aroma kopi di pagi hari tanpa terburu-buru, mendengarkan tawa renyah seorang teman, atau sekadar melihat langit sore yang perlahan meredup.

Ketika kita berhenti menuntut hidup untuk selalu memberikan kejutan yang luar biasa, kita justru membuka pintu bagi rasa syukur yang mendalam. Kita menyadari bahwa hidup yang biasa-biasa saja, jika dijalani dengan kesadaran dan cinta, sebenarnya adalah sebuah bentuk kemewahan tersendiri.

Menata Ulang Definisi Sukses

Sudah saatnya kita sebagai masyarakat mulai menata ulang apa yang kita sebut sebagai kesuksesan. Apakah sukses hanya milik mereka yang namanya masuk dalam daftar orang terkaya atau mereka yang memiliki gelar berderet?

Mari kita perluas definisi tersebut. Sukses bisa berarti mampu menjaga kesehatan mental dan fisik di tengah dunia yang gila kerja. Sukses bisa berarti menjadi orang tua yang hadir secara utuh untuk anak-anaknya. Sukses bisa berarti memiliki waktu luang yang cukup untuk merawat tanaman atau menyapa tetangga.

Ketika kita mendefinisikan ulang kesuksesan secara lebih manusiawi, kita akan melihat bahwa menjadi biasa saja dalam urusan karier atau pencapaian material, bisa jadi berjalan beriringan dengan menjadi luar biasa dalam hal kedamaian batin, ketulusan hubungan, dan kualitas hidup.

Merayakan Kemandirian Jiwa

Memilih untuk menjadi biasa saja di era pemujaan prestasi adalah sebuah tindakan pemberontakan yang anggun. Ia membutuhkan keberanian besar karena Anda memilih untuk berjalan melawan arus utama yang riuh rendah.

Pada akhirnya, hidup ini adalah milik Anda, bukan milik penonton di media sosial atau standar kaku korporasi. Kita tidak perlu terus-menerus membuktikan apa pun kepada dunia. Berhentilah berlari di atas treadmill yang melelahkan itu. Turunlah, berjalanlah dengan santai, dan nikmati pemandangan di sekitar Anda.

Menjadi biasa saja bukanlah sebuah kekalahan. Ia adalah sebuah kemenangan emosional yang mutlak, sebuah pencapaian tertinggi di mana Anda akhirnya berhasil berdamai dengan diri sendiri dan menemukan kebahagiaan yang utuh dalam kesederhanaan hidup yang bersahaja.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...