Ian Machado Garry: ‘The Future’ Di Divisi Welterweight UFC

Piter Rudai • 09/07/2026 • 4 min read
Ian Machado Garry: ‘The Future’ Di Divisi Welterweight UFC

Jakarta – Ian Machado Garry termasuk salah satu petarung muda yang paling bersinar di divisi welterweight UFC dalam beberapa tahun terakhir. Lahir di Dublin, Irlandia, pada 17 November 1997, Garry tumbuh di negara yang juga melahirkan ikon MMA dunia, Conor McGregor. Namun, alih-alih berusaha menjadi salinan idolanya, Garry memilih membangun identitas sendiri. Dengan tinggi 191 sentimeter dan berat bertanding 77 kilogram, ia memiliki postur ideal untuk divisi welterweight. Mengandalkan gaya bertarung striker ortodoks yang dipadukan dengan dasar judo, Garry kini dikenal sebagai salah satu petarung paling menjanjikan di UFC. Julukan “The Future” bukan sekadar slogan, melainkan cerminan ambisi besarnya untuk menjadi wajah baru divisi welterweight. Hingga kini ia mengoleksi rekor profesional 17 kemenangan dan 1 kekalahan, terdiri atas 7 kemenangan KO/TKO, 1 submission, dan 9 kemenangan melalui keputusan juri.

Ketertarikan Garry terhadap dunia bela diri muncul sejak usia muda. Masa kecilnya di Dublin diwarnai kecintaan terhadap berbagai cabang olahraga, namun seni bela diri menjadi tempat ia menemukan disiplin dan rasa percaya diri. Ia mulai berlatih judo, sebuah disiplin yang mengajarkannya keseimbangan, kontrol tubuh, serta kemampuan membaca gerakan lawan. Seiring bertambahnya usia, ketertarikannya berkembang ke dunia mixed martial arts. Ia terpikat oleh perpaduan teknik striking, grappling, dan strategi yang menjadikan MMA sebagai olahraga yang sangat kompleks.

Memasuki usia remaja, Garry mulai berlatih secara serius dengan tujuan menjadi atlet profesional. Ia terus mengembangkan kemampuan tinju, kickboxing, dan Muay Thai tanpa meninggalkan dasar judonya. Posturnya yang tinggi memberinya keuntungan dalam menjaga jarak sekaligus memanfaatkan jangkauan pukulan dan tendangan. Kombinasi teknik tersebut perlahan membentuk identitas bertarung yang khas, yaitu striker dengan pergerakan lincah dan kemampuan mengontrol tempo pertandingan.

Karier profesional Garry dimulai di organisasi-organisasi MMA Eropa. Dalam waktu singkat ia menarik perhatian berkat kemampuan striking yang tajam dan kepercayaan diri tinggi setiap kali memasuki arena. Penampilannya semakin matang ketika bergabung dengan Cage Warriors, organisasi yang juga pernah menjadi batu loncatan Conor McGregor. Di sana, Garry berkembang menjadi salah satu prospek terbaik Eropa. Puncaknya terjadi ketika ia berhasil merebut gelar juara welterweight Cage Warriors, prestasi yang membuka jalan menuju panggung terbesar MMA dunia.

Kesempatan bergabung dengan UFC datang pada tahun 2021. Organisasi terbesar di dunia itu melihat potensi besar dalam diri petarung asal Irlandia tersebut. Debutnya berlangsung pada UFC 268 melawan Jordan Williams. Garry tidak membutuhkan waktu lama untuk membuktikan kualitasnya. Ia tampil percaya diri dan berhasil mengakhiri pertandingan melalui knockout pada ronde pertama. Debut impresif tersebut langsung memperkenalkan namanya kepada para penggemar UFC sekaligus memperkuat julukan “The Future.”

Setelah kemenangan debut, Garry terus membangun reputasinya sebagai salah satu prospek paling berbahaya di divisi welterweight. Ia meraih kemenangan atas nama-nama seperti Darian Weeks, Gabriel Green, Song Kenan, Daniel Rodriguez, Neil Magny, Geoff Neal, dan Michael “Venom” Page. Setiap kemenangan memperlihatkan perkembangan teknik yang semakin matang. Jika pada awal karier ia lebih banyak mengandalkan agresivitas, seiring waktu Garry mulai menunjukkan kecerdasan taktik, kemampuan membaca ritme pertandingan, dan kesabaran dalam mencari celah.

Perjalanan menuju papan atas divisi welterweight tidak sepenuhnya mulus. Pada akhir 2024, rekor tak terkalahkannya terhenti setelah mengalami kekalahan pertamanya saat menghadapi Shavkat Rakhmonov. Meski kalah melalui keputusan juri dalam pertarungan yang sangat kompetitif, Garry justru mendapat banyak pujian karena mampu memberikan perlawanan sengit kepada salah satu petarung terbaik divisi tersebut. Kekalahan itu menjadi pengalaman penting yang memperlihatkan kedewasaan mentalnya sebagai atlet.

Ia kemudian bangkit dengan kembali meraih kemenangan penting, termasuk tampil impresif menghadapi Carlos Prates. Hasil tersebut membuktikan bahwa kekalahan pertamanya tidak mengurangi kualitas maupun ambisinya untuk terus bersaing di level elite.

Saat ini Garry berlatih di dua kamp ternama, yaitu Chute Boxe Diego Lima di Brasil dan Bangtao Muay Thai & MMA di Thailand. Perpaduan kedua tempat latihan tersebut membuat permainannya semakin lengkap. Di Chute Boxe, ia mengembangkan ketangguhan serta variasi striking khas Brasil, sementara di Bangtao ia memperhalus teknik Muay Thai, footwork, serta aspek grappling bersama atlet-atlet kelas dunia.

Gaya bertarung Garry sangat mengandalkan kontrol jarak dan akurasi serangan. Dengan tinggi badan serta jangkauan yang dimilikinya, ia mampu menjaga lawan tetap berada di luar zona nyaman. Jab cepat, kombinasi pukulan lurus, tendangan ke tubuh, dan pergerakan kaki yang aktif menjadi senjata utamanya. Walaupun dikenal sebagai striker, dasar judonya membuatnya cukup nyaman ketika harus menghadapi situasi clinch maupun mempertahankan diri dari upaya takedown lawan.

Filosofi bertarung Garry berpusat pada proses pengembangan diri. Ia percaya bahwa setiap latihan harus membuatnya menjadi versi yang lebih baik dibanding hari sebelumnya. Prinsip tersebut membuatnya selalu terbuka terhadap pembelajaran baru dan tidak pernah merasa puas dengan pencapaian yang telah diraih. Baginya, kemenangan hanyalah hasil dari disiplin dan konsistensi dalam menjalani latihan.

Program latihannya mencakup sesi striking, judo, Brazilian Jiu-Jitsu, strength and conditioning, latihan reaksi, hingga simulasi pertandingan berintensitas tinggi. Selain membangun kemampuan fisik, Garry juga memberi perhatian besar pada persiapan mental. Ia dikenal sering mempelajari rekaman pertandingan lawan untuk memahami pola bertarung dan menyusun strategi yang tepat.

Dengan rekor profesional 17 kemenangan dan 1 kekalahan, Ian Machado Garry telah membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar prospek, melainkan penantang serius di divisi welterweight UFC. Kombinasi postur ideal, teknik striking yang terus berkembang, kecerdasan bertarung, serta mental kompetitif menjadikan “The Future” sebagai salah satu nama yang diprediksi akan terus bersaing memperebutkan gelar juara dunia dalam beberapa tahun mendatang. Perjalanannya masih panjang, tetapi fondasi yang telah dibangun menunjukkan bahwa Garry memiliki semua atribut untuk menjadi salah satu bintang terbesar UFC generasi berikutnya.

(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...