Kaito Ono, Striker Elite Jepang Di Panggung Dunia

Piter Rudai 06/08/2026 3 min read
Kaito Ono, Striker Elite Jepang Di Panggung Dunia

Jakarta – Di tengah kuatnya tradisi kickboxing Jepang, nama Kaito Ono muncul sebagai salah satu striker paling teknis yang lahir pada generasi baru. Lahir di Osaka, Jepang, pada 1997, Kaito membangun reputasi sebagai petarung yang menggabungkan ketepatan teknik shoot boxing dengan agresivitas kickboxing modern. Dengan tinggi 180 cm dan bertarung di kisaran 70 kilogram, ia memiliki postur ideal untuk divisi featherweight. Berlatih di Team F.O.D., Kaito dikenal sebagai atlet yang mengandalkan kecerdasan bertarung, kecepatan kombinasi, dan kemampuan membaca ritme lawan, kualitas yang membuatnya menjadi salah satu striker terbaik Jepang sebelum menembus panggung internasional.

Perjalanan Kaito menuju dunia profesional dimulai sejak usia muda. Ketertarikannya terhadap seni bela diri tumbuh dari budaya olahraga tarung yang kuat di Jepang. Ia memilih jalur kickboxing dan shoot boxing, dua disiplin yang sama-sama menuntut ketepatan teknik, keseimbangan, serta kemampuan menyerang dan bertahan dalam tempo tinggi. Debut profesionalnya terjadi pada 2014. Sejak saat itu, kariernya berkembang pesat berkat dedikasi dalam latihan yang disiplin. Di Team F.O.D., ia mengasah kemampuan pukulan, tendangan, lutut, serta transisi serangan yang menjadi ciri khasnya hingga sekarang.

Nama Kaito semakin diperhitungkan ketika mulai bersaing di berbagai organisasi elite Jepang. Ia berhasil meraih gelar RISE Champion dan Shoot Boxing Champion, dua pencapaian bergengsi yang mengukuhkan statusnya sebagai salah satu petarung papan atas negeri Sakura. Selama bertahun-tahun bertanding di level domestik, ia mengoleksi kemenangan demi kemenangan atas lawan-lawan berkualitas. Sebelum bergabung dengan ONE Championship, Kaito telah membangun rekor profesional impresif dengan 58 kemenangan, 26 di antaranya melalui KO, serta 10 kekalahan. Rekor tersebut menjadi bukti konsistensinya menghadapi persaingan ketat di dunia kickboxing Jepang.

Keberhasilan di Jepang akhirnya membuka jalan menuju organisasi bela diri terbesar di dunia, ONE Championship. Pengumuman perekrutannya pada awal 2025 disambut antusias karena banyak penggemar menilai Kaito memiliki kemampuan untuk bersaing dengan striker elite dunia. Debut yang semula dijadwalkan menghadapi Marat Grigorian di ONE 172 batal terlaksana setelah Grigorian gagal memenuhi batas berat badan. Sebagai gantinya, debut resmi Kaito terjadi di ajang ONE Friday Fights 109 melawan Mohammad Siasarani pada Mei 2025. Dalam pertarungan yang berlangsung ketat, Kaito harus menerima kekalahan melalui keputusan mutlak. Meski hasilnya tidak sesuai harapan, penampilannya tetap memperlihatkan kualitas teknik dan daya juang yang menjadi ciri khasnya.

Kesempatan bangkit datang pada 2026 ketika rivalitas yang sempat tertunda dengan Marat Grigorian akhirnya terlaksana di ONE Samurai 1 di Tokyo. Banyak yang berharap tampil di depan publik sendiri akan menjadi momentum kebangkitan Kaito. Namun pengalaman dan kekuatan Grigorian menjadi pembeda. Petarung Armenia tersebut menjatuhkan Kaito melalui KO pada ronde pertama setelah kombinasi pukulan keras yang sulit dihindari. Kekalahan itu membuat rekor Kaito di ONE menjadi 0 kemenangan dan 2 kekalahan, sebuah awal yang berat bagi petarung yang sebelumnya begitu dominan di Jepang.

Walaupun hasil di ONE belum berpihak kepadanya, banyak analis tetap menempatkan Kaito sebagai salah satu striker paling berbahaya di divisinya. Ia bertarung dengan orthodox stance, mengandalkan jab yang tajam, kombinasi cepat, footwork aktif, serta kemampuan menyerang dari berbagai sudut. Latar belakang shoot boxing membuatnya memiliki variasi serangan yang lebih lengkap dibanding banyak kickboxer murni. Ia juga dikenal gemar menekan lawan dengan kombinasi beruntun sambil terus mengontrol jarak. Filosofi bertarungnya lebih menitikberatkan pada efisiensi teknik daripada sekadar mengandalkan kekuatan pukulan semata.

Di balik gaya bertarungnya yang atraktif, Kaito dikenal sebagai atlet yang sangat disiplin dalam menjalani latihan. Program latihannya memadukan pengembangan teknik, peningkatan kecepatan tangan dan kaki, latihan kondisi fisik, serta simulasi sparring dengan berbagai tipe lawan. Mentalitas kompetitifnya terbentuk dari kerasnya persaingan di Jepang, sehingga ia terbiasa menghadapi tekanan tinggi. Kekalahan di ONE justru menjadi tantangan baru yang memaksanya beradaptasi dengan level kompetisi internasional, di mana setiap kesalahan kecil dapat langsung dimanfaatkan oleh lawan kelas dunia. Semangat untuk terus berkembang inilah yang membuat banyak pihak yakin bahwa karier internasionalnya belum mencapai puncak.

Kini, perjalanan Kaito Ono memasuki babak penting. Rekor profesionalnya memang tetap mengesankan berkat puluhan kemenangan yang telah ia kumpulkan sepanjang karier, tetapi tantangan terbesar justru berada di panggung ONE Championship. Dengan pengalaman sebagai mantan juara RISE dan Shoot Boxing, teknik yang matang, serta usia yang masih berada dalam masa emas seorang petarung, Kaito masih memiliki peluang besar untuk membalikkan keadaan. Bagi para penggemar kickboxing, kisahnya bukan sekadar tentang kemenangan dan kekalahan, melainkan tentang perjuangan seorang striker elite Jepang yang terus berusaha membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri sejajar dengan para petarung terbaik dunia.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...