Jakarta – Di dunia kickboxing Jepang, nama Kana Morimoto—yang lebih dikenal sebagai KANA—dibangun bukan hanya dari kemenangan, tetapi dari keberanian menghadapi lawan-lawan terbaik di kelasnya. Lahir pada 29 Juli 1992 di Matsusaka, Prefektur Mie, Jepang, KANA memiliki tinggi 160 cm dengan berat sekitar 52 kg dan bertarung dalam posisi orthodox. Bersama Team Aftermath, ia menjelma menjadi salah satu kickboxer wanita Jepang paling berprestasi pada generasinya. Julukan “Krusher Queen” menggambarkan gaya bertarungnya yang agresif, tekanan konstan, serta kemampuan menghasilkan pukulan keras. Data resmi K-1 mencatat rekor kariernya di organisasi tersebut dan sirkuit sebelumnya sebagai 24 kemenangan, 7 kekalahan, dan 11 kemenangan KO, sementara ONE mencatat rekor khususnya di organisasi itu saat ini 2-3.
Kisah KANA di dunia bela diri bermula jauh sebelum namanya dikenal di panggung besar. Ketika masih duduk di sekolah dasar, ia mulai berlatih karate. Menariknya, olahraga bukan hanya menjadi bagian dari masa kecilnya karena pada masa SMA hingga universitas ia juga aktif di atletik. Pengalaman tersebut kemudian memberikan fondasi fisik yang penting: kecepatan, koordinasi, daya tahan, serta kemampuan bergerak secara eksplosif. Setelah menyelesaikan pendidikan universitas, ia memutuskan masuk ke dunia kickboxing dan bergabung dengan K-1 Gym Sangenjaya Silver Wolf, sebelum kemudian menjadi bagian dari Team Aftermath. Setelah melewati periode amatir dan kompetisi K-1 Challenge, ia melakukan debut profesional pada September 2015.
Perkembangan KANA berlangsung cepat. Ia tidak membutuhkan waktu panjang untuk membuktikan dirinya di level profesional. Pada fase awal karier, ia merebut Krush Women’s Flyweight Championship sebanyak dua kali. Salah satu momen penting terjadi pada 2016 ketika ia mengalahkan Momi dalam pertarungan perebutan gelar Krush Flyweight. KANA kemudian memasuki panggung K-1 pada Maret 2018, membawa reputasi sebagai petarung yang tidak takut menekan lawan. Dalam beberapa pertarungan berikutnya, ia semakin matang dalam mengombinasikan pukulan dengan tendangan rendah dan pergerakan masuk-keluar.
Tahun 2019 menjadi titik balik terbesar. KANA tampil dalam turnamen K-1 World Grand Prix Women’s Flyweight dan melewati deretan lawan tangguh, termasuk Cristina Morales, sebelum bertemu Josefine Knutsson di final. Pertarungan final berlangsung ketat hingga membutuhkan ronde tambahan, tetapi KANA keluar sebagai pemenang dan menjadi juara perdana K-1 WORLD GP Women’s Flyweight. Gelar tersebut kemudian menjadi pusat kariernya selama beberapa tahun. ONE Championship mencatat bahwa KANA bertahan sebagai juara K-1 Flyweight selama sekitar empat tahun dan berkembang menjadi salah satu kickboxer wanita terbaik dunia berdasarkan performanya di kelas tersebut.
Perjalanan mempertahankan status elite itu tidak selalu mulus. KANA sempat mengalami periode panjang tanpa pertandingan karena cedera. Ia kembali pada Februari 2022 dan meraih kemenangan angka atas RAN, sebelum kembali menunjukkan kemampuan finis dengan kemenangan KO atas Souris Manfredi melalui high kick dan kemudian Aurore Dos Santos lewat serangan tangan. Pada 2023, performanya semakin meyakinkan dengan kemenangan KO atas Funda Alkayis dan McKenna Wade. Kemenangan atas Wade bahkan terjadi hanya dalam 52 detik ronde pertama, memperlihatkan betapa berbahayanya kekuatan serangannya.
Namun, dominasi KANA di K-1 akhirnya berakhir pada Desember 2023. Menghadapi Antonia Prifti, ia kalah melalui keputusan juri dan kehilangan sabuk K-1 Women’s Flyweight. Kekalahan itu sekaligus menjadi pertandingan terakhirnya di K-1 sebelum mengambil tantangan baru. Tidak lama kemudian, pada September 2024, ONE Championship mengumumkan perekrutan KANA. Ia datang ke organisasi tersebut dengan reputasi besar setelah mencatat 22-4 dalam perjalanan menuju ONE menurut profil promosi, dan membawa ambisi untuk menaklukkan divisi atomweight kickboxing ONE.
Debutnya di ONE mempertemukannya dengan Anissa Meksen, salah satu nama terbesar dalam kickboxing wanita. KANA mengalami kekalahan melalui keputusan juri, tetapi kesempatan tersebut justru membuka jalan menuju tantangan yang lebih besar. Setelah meraih kemenangan angka atas Moa Carlsson, ia mendapatkan kesempatan menantang Phetjeeja Lukjaoporongtom untuk gelar ONE Women’s Atomweight Kickboxing World Championship pada ONE 172 di Saitama Super Arena, Maret 2025. Phetjeeja mempertahankan sabuknya melalui keputusan bulat. Kekalahan kedua di ONE membuat perjalanan KANA di organisasi tersebut menjadi ujian mental sekaligus teknis.
Akan tetapi, respons KANA terhadap kesulitan menunjukkan karakter kompetitifnya. Pada ONE 173, November 2025, ia menghadapi mantan juara tiga cabang ONE, Stamp Fairtex, dalam pertarungan kickboxing. KANA tampil lebih disiplin dalam mengatur jarak dan ritme, kemudian memenangkan pertarungan melalui unanimous decision. Kemenangan itu menjadi sangat penting karena datang setelah kekalahan dari Meksen dan Phetjeeja. ONE sendiri menggambarkan kemenangan tersebut sebagai bentuk kebangkitan dan penebusan KANA. Rekor ONE-nya pun menjadi 2-3.
Secara teknis, kekuatan KANA terletak pada kombinasi tekanan, timing, footwork, dan pukulan keras. Ia bertarung orthodox dan mampu bergerak masuk dengan cepat untuk melancarkan kombinasi sebelum kembali mengontrol jarak. Tendangan rendah dan serangan ke tubuh menjadi bagian penting dari permainannya, sementara pukulan menjadi senjata untuk menghukum lawan yang terlalu pasif. K-1 juga mencatat bagaimana ia menggunakan gerakan kepala dan blok untuk masuk ke jarak dekat lalu melancarkan kombinasi hook.
Filosofi KANA tampaknya berkembang seiring bertambahnya pengalaman. Pada awal karier, julukan “Krusher Queen” sangat identik dengan agresivitas dan kemampuan mencari KO. Namun menghadapi elite dunia di ONE memaksanya memperluas pendekatan. Kemenangan atas Stamp menunjukkan versi KANA yang lebih sabar: ia tidak hanya mencari penyelesaian, tetapi juga mampu membaca ritme dan mengumpulkan poin sepanjang tiga ronde. Bahkan setelah kemenangan tersebut, KANA mengakui satu penyesalan—ia merasa seharusnya dapat menemukan peluang untuk menjatuhkan Stamp.
Dengan 24 kemenangan dan 11 KO dari 31 pertandingan yang tercatat K-1, ditambah pengalaman besar di ONE Championship, KANA kini berada pada fase berbeda dalam kariernya. Ia bukan lagi sekadar juara domestik Jepang yang mencari pengakuan internasional. Ia telah melewati gelar Krush, kejayaan K-1, kehilangan sabuk, kekalahan melawan elite ONE, hingga kemenangan besar atas Stamp Fairtex. “Krusher Queen” mungkin sudah tidak memiliki sabuk K-1 di pinggangnya, tetapi perjalanan di ONE menunjukkan bahwa ambisinya belum berakhir: ia masih mengejar satu pencapaian yang belum lengkap—menjadi juara dunia ONE.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda