Jakarta – Di dalam dunia MMA, perjalanan menuju panggung terbesar tidak selalu berjalan lurus. Ada petarung yang tumbuh dari akademi ternama, ada pula yang menempa dirinya melalui kompetisi lokal sebelum akhirnya mendapat kesempatan di organisasi elite. Tainara Barati de Almeida Lisboa, yang dikenal dengan julukan Thai Panther, termasuk sosok yang memiliki fondasi bela diri kuat sebelum menapakkan kaki di Ultimate Fighting Championship (UFC). Kisahnya berawal dari ketertarikan pada Muay Thai dan berkembang menjadi perjalanan panjang menuju persaingan MMA profesional.
Lisboa lahir pada 2 Maret 1991 dan berasal dari Brasil. Dalam wawancara resmi UFC, ia menceritakan bahwa ketertarikannya pada bela diri muncul ketika berusia sekitar 13–14 tahun. Saat itu, ia mengaku memiliki kecemasan dan merasa tubuhnya agak gemuk. Ayahnya menjadi sosok yang paling mendorongnya untuk mencari tempat latihan bela diri. Apa yang semula dimulai sebagai upaya untuk beraktivitas dan mengatasi persoalan pribadi kemudian berubah menjadi ketertarikan serius terhadap dunia pertarungan. Ia mulai mengikuti kompetisi lokal pada usia 14 tahun, sebelum menjalani debut Muay Thai pada usia 16 tahun.
Muay Thai menjadi fondasi penting dalam perkembangan Lisboa. Ia mengklaim telah meraih dua gelar juara dunia Muay Thai di Thailand, selain prestasi pada level Brasil, Amerika Selatan, dan negara bagian. Ia juga menyandang sabuk hitam Muay Thai serta memiliki latar belakang Brazilian Jiu-Jitsu dengan sabuk ungu. Pengalaman tersebut membentuk dasar striking dan grappling yang kemudian dibawanya ke MMA. Namun, keberhasilan dalam Muay Thai tidak otomatis menjamin keberhasilan di oktagon, karena MMA menuntut kemampuan menggabungkan pukulan, tendangan, pertahanan takedown, dan pertarungan bawah.
Menapaki MMA Profesional dan Panggung UFC
Setelah menekuni Muay Thai, Lisboa beralih ke MMA profesional pada 2016. Debutnya berlangsung di Jungle Fight 90, ketika ia menghadapi Norma Dumont dan kalah melalui rear-naked choke pada ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan yang kemudian membawanya mencatat tujuh kemenangan dalam delapan pertarungan berikutnya setelah debut. Pada 2019, ia kembali bertanding dan meraih kemenangan atas Mara Suzamaque melalui penghentian pojok pada ronde ketiga. Rentetan hasil positif berlanjut dengan kemenangan atas Daline Gomes Silvestre, Leticia Hille, Gloria Amaral, dan Conceicao Oliveira pada periode 2020–2022.
Performa tersebut membuka jalan menuju UFC. Pada 13 Mei 2023, Lisboa menjalani debut oktagon menghadapi Jessica-Rose Clark. Ia menutup pertarungan melalui rear-naked choke pada ronde ketiga, kemenangan yang memperlihatkan kemampuannya menggabungkan tekanan striking dengan penyelesaian di ground. Lima bulan kemudian, ia mengalahkan Ravena Oliveira melalui keputusan mutlak pada 14 Oktober 2023. Dua kemenangan UFC tersebut menjadi tonggak penting dalam kariernya, sekaligus memperkuat reputasinya sebagai petarung yang memiliki kemampuan submission.
Cedera, Pemulihan dan Ujian Mental
Di balik catatan pertandingan, Lisboa menghadapi tantangan besar ketika mengalami cedera serius pada lutut kiri. Ia menjalani operasi rekonstruksi tulang rawan pada Desember 2023, setelah sebelumnya bertanding melawan Ravena Oliveira dalam kondisi cedera. Masa pemulihan tidak hanya menuntut rehabilitasi fisik, tetapi juga menguji kondisi emosional dan keyakinannya untuk kembali berkompetisi. Dalam wawancara dengan MMA Fighting, ia menceritakan kehilangan massa otot yang signifikan, kenaikan berat badan, dan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari hingga harus belajar berjalan kembali.
Setelah melewati masa pemulihan panjang, Lisboa kembali bertanding melawan Luana Santos pada 17 Mei 2025. Pertarungan tersebut berakhir dengan kekalahan melalui submission americana pada ronde kedua. Ia kemudian menghadapi Melissa Croden pada 18 Oktober 2025 dan dihentikan melalui serangan pukulan pada ronde ketiga. Kedua hasil tersebut menjadi bagian terbaru dari rekor profesional yang tercatat dalam sumber statistik yang diperiksa.
Gaya Bertarung dan Filosofi Kompetitif
Sebagai petarung dengan dasar Muay Thai, Lisboa memiliki pendekatan yang mengandalkan striking, tekanan, dan kemampuan bertarung dalam jarak dekat. Ia menyebut sikut sebagai teknik striking favoritnya, sementara arm-triangle choke menjadi teknik grappling yang paling disukainya. Dalam sesi latihan, ia menjelaskan bahwa jadwalnya dapat mencakup latihan MMA pada pagi hari, tinju pada sore hari, dan Brazilian Jiu-Jitsu pada malam hari. Pola latihan tersebut menggambarkan kebutuhan seorang petarung MMA untuk mengembangkan berbagai aspek kemampuan, bukan hanya mengandalkan satu disiplin bela diri.
Bagi Lisboa, UFC merupakan realisasi dari proyek kehidupan yang dibangun melalui tahun-tahun kerja keras. Perjalanannya memperlihatkan bahwa karier profesional tidak hanya ditentukan oleh kemenangan, tetapi juga oleh kemampuan menghadapi cedera, masa tidak bertanding, dan proses kembali ke kompetisi. Dengan latar belakang juara Muay Thai, pengalaman MMA sejak 2016, serta penampilan di UFC, Thai Panther menjadi contoh perjalanan atlet yang terus berhadapan dengan tuntutan fisik dan mental olahraga tarung tingkat tinggi.
Rekor profesional: 7 kemenangan, 4 kekalahan, 0 seri (7–4–0), berdasarkan catatan yang tersedia hingga pertarungan melawan Melissa Croden pada 18 Oktober 2025. Kelas bertandingnya adalah women’s bantamweight, dengan tinggi sekitar 170 cm dan jangkauan 170 cm. Rekor UFC yang tercatat adalah 2 kemenangan dan 2 kekalahan dalam empat pertandingan.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda