Eduard Folayang: Legenda Team Lakay Filipina

Piter Rudai 24/09/2026 4 min read
Eduard Folayang: Legenda Team Lakay Filipina

Jakarta – Jauh sebelum menjadi salah satu ikon terbesar MMA Filipina, Eduard “Landslide” Folayang tumbuh dalam kehidupan yang jauh dari gemerlap arena pertarungan. Lahir pada 22 November 1983 di Baguio, Filipina, Folayang berasal dari keluarga besar dengan kondisi ekonomi sangat sulit. Ia merupakan satu dari sembilan bersaudara, dan lima saudaranya meninggal dunia karena penyakit ketika masih kecil akibat keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Orang tuanya yang tidak berpendidikan formal bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Dalam keadaan tersebut, pendidikan dan olahraga kemudian menjadi jalan Folayang untuk mengubah kehidupannya.

Ketertarikannya pada bela diri bermula dari wushu. Saat berusia 16 tahun, Folayang mulai berlatih di bawah Tony Candelaria dan kemudian berkembang menjadi atlet wushu berprestasi. Ia mendapatkan beasiswa ke University of the Cordilleras dan masuk tim wushu Filipina. Medali-medali internasional, termasuk sejumlah emas SEA Games serta prestasi di kejuaraan dunia, membuat namanya dikenal sebelum ia benar-benar menjadi petarung MMA. Wushu memberinya fondasi berupa kecepatan, keseimbangan, eksplosivitas dan kemampuan menyerang dari berbagai sudut. Ketika Mark Sangiao—yang kelak menjadi pelatihnya di Team Lakay—mengenalkan MMA, Folayang melihat peluang untuk mengembangkan kemampuannya ke olahraga yang lebih lengkap.

Peralihan itu berlangsung sangat cepat. Folayang menjalani debut profesional MMA pada 30 Juni 2007 di URCC 10 melawan Allan Co dan menang melalui TKO ronde pertama. Ia bahkan langsung merebut gelar URCC Welterweight. Awal kariernya menunjukkan betapa cepat ia beradaptasi: Folayang memenangkan 11 dari 12 pertandingan profesional pertamanya, dengan satu-satunya kekalahan datang secara mengejutkan ketika Jon Tuck menghentikannya hanya dalam delapan detik pada 2009. Ia kemudian meraih gelar Martial Combat Superfight Lightweight sebelum mulai membangun reputasi di level Asia.

Nama Folayang akhirnya menjadi bagian penting dari sejarah awal ONE Championship. Ia tampil pada ONE Championship perdana pada September 2011, menghadapi A-Sol Kwon dan menang melalui keputusan mutlak. Beberapa tahun kemudian, kesempatan merebut sabuk lightweight akhirnya datang. Pada 11 November 2016, Folayang menghadapi juara bertahan Shinya Aoki di ONE: Defending Honor. Setelah dua ronde menghadapi permainan grappling dan submission Aoki, Folayang membalikkan momentum pada ronde ketiga. Ia menghentikan legenda Jepang itu dengan pukulan pada menit 0:41 ronde ketiga dan merebut ONE Lightweight World Championship. Kemenangan tersebut menjadi salah satu momen paling monumental dalam sejarah MMA Filipina.

Era kejayaannya kemudian mengalami pasang surut. Folayang mempertahankan sabuk melawan Ev Ting, tetapi kehilangan gelar kepada Martin Nguyen pada November 2017 setelah dihentikan pukulan di ronde pertama. Ia tidak membiarkan kekalahan tersebut mengakhiri perjalanannya. Tiga kemenangan berikutnya atas Kharun Atlangeriev, Aziz Pahrudinov dan Amir Khan mengantarkannya kembali ke perebutan gelar. Pada 23 November 2018, ia mengalahkan Amir Khan melalui keputusan mutlak dalam laga lima ronde di Manila dan merebut kembali sabuk lightweight ONE. Pertarungan tersebut memperlihatkan versi Folayang yang sangat lengkap—memadukan pukulan, tendangan, serangan berputar, clinch, takedown dan ground-and-pound.

Namun, mempertahankan puncak selalu lebih sulit daripada mencapainya. Pada 2019, Folayang kembali berhadapan dengan Shinya Aoki dan kali ini kalah melalui submission. Ia kemudian mengalami kekalahan dari Eddie Alvarez dan sejumlah petarung elite lain. Rivalitas dengan Aoki menjadi salah satu bab terpenting kariernya karena keduanya bertemu tiga kali, dengan Folayang menang sekali dan Aoki dua kali. Kekalahan demi kekalahan juga menunjukkan bahwa era baru MMA telah tiba, dengan para petarung generasi muda membawa kombinasi striking dan grappling yang semakin lengkap. Meski demikian, Folayang terus bertanding dan tetap menjadi salah satu figur paling dihormati di ONE.

Secara gaya, Folayang adalah produk khas Team Lakay. Fondasi wushunya membuatnya berbahaya dalam pertarungan berdiri, terutama melalui kombinasi pukulan, tendangan, serangan berputar dan perpindahan sudut. Namun ia memahami bahwa MMA tidak dapat dimenangkan hanya dengan striking. Karena itu, sejak awal kariernya ia menambahkan wrestling dan grappling untuk melengkapi pertahanan takedown serta kemampuannya bertarung di bawah. Dalam wawancara sebelumnya, Folayang menjelaskan bahwa latihan di Baguio—yang berada sekitar 1.540 meter di atas permukaan laut—juga membantu membangun kondisi fisiknya. Filosofinya sederhana tetapi kuat: terus berkembang dan jangan pernah merasa cukup dengan satu keahlian.

Mentalitas tersebut menjadi salah satu alasan Folayang mampu bertahan begitu lama. Ia pernah berada di puncak, kehilangan sabuk, bangkit kembali, lalu kembali menghadapi kekalahan. Bahkan pada fase akhir kariernya, ia masih bersedia menerima tantangan baru. Setelah kemenangan KO atas Amir Khan pada September 2023, Folayang kembali bertemu Aoki pada Maret 2025 dan kalah melalui armbar. Ia kemudian kembali ke ONE pada Juli 2026 menghadapi Shozo Isojima dalam laga lightweight MMA. Dalam pertarungan tersebut Folayang sempat menjatuhkan Isojima melalui kombinasi hook kiri-kanan, tetapi lawannya bangkit dan akhirnya menghentikannya lewat TKO pada 4:29 ronde pertama. ONE menggambarkan pertarungan itu sebagai salah satu bab terakhir dari karier legendarisnya.

Rekor profesional Folayang memang berubah seiring perjalanan panjangnya. Setelah kekalahan dari Isojima, Sherdog mencatat rekor MMA profesionalnya menjadi 23 kemenangan dan 15 kekalahan. Di ONE Championship sendiri, profil resmi promosi mencatat 13 kemenangan dan 13 kekalahan dari 26 pertandingan, dengan dua kemenangan KO, satu TKO, empat submission dan enam kemenangan melalui keputusan. Angka tersebut menunjukkan betapa panjang pengabdiannya di ONE dan betapa besar kontribusinya terhadap perkembangan MMA Asia. Ia juga tercatat sebagai salah satu petarung yang berhasil menjadi juara lightweight ONE lebih dari sekali.

Eduard Folayang pada akhirnya lebih dari sekadar mantan juara lightweight. Ia adalah produk dari perjuangan, pendidikan, wushu, Team Lakay dan kompetisi panjang di level tertinggi. Dari anak Baguio yang tumbuh dalam kemiskinan hingga menjadi salah satu wajah paling dihormati dalam sejarah MMA Filipina, perjalanan “Landslide” memperlihatkan bahwa warisan seorang petarung tidak hanya diukur dari jumlah kemenangan atau sabuk yang pernah dimiliki. Warisannya juga terlihat dari generasi petarung Filipina yang mengikuti jejaknya. Folayang membantu membuka jalan, dan selama bertahun-tahun ia menjadi bukti bahwa petarung dari Asia Tenggara mampu berdiri di panggung dunia dan meninggalkan jejak yang sulit dihapus.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...